Category: Sutta Published: Friday, 15 December 2017

Acamadayikavimana - Istana Pemberi Kerak Nasi (Vv II.3)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, di tempat pemberian makan Tupai di Hutan Bambu. Pada saat itu, para anggota dari suatu rumah-tangga di Rajagaha diserang epidemi kolera. Semua orang di sana meninggal, kecuali seorang perempuan. Karena merasa amat ngeri dan takut pada kematian, dia meninggalkan rumah serta semua uang dan biji-bijian yang berada di dalamnya, dan kemudian lari lewat lubang dinding. Tak ada seorangpun yang membantunya, maka dia pergi ke rumah keluarga lain dan tinggal di bagian belakang rumah itu. Keluarga itu merasa kasihan kepadanya dan memberinya bubur-nasi, nasi-rebus, kerak-nasi dan apa pun yang tersisa di dalam periuk nasi dan alat-alat masak lainnya. Berkat kedermawanan mereka, dia boleh tinggal di sana.

 

Pada saat itu, Y.M. Maha-Kassapa telah memasuki pencapaian penghentian selama tujuh hari. Ketika muncul dari sana beliau berpikir, "Hari ini siapakah yang saya pilih dengan cara menerima makanannya? Siapakah yang akan saya bebaskan dari kekacauan dan kesedihan" Beliau melihat bahwa perempuan ini sudah dekat dengan kematian, dan telah muncul baginya karma pendorong yang akan membawanya ke alam menderita. Beliau berpikir, "Jika saya pergi (mendekat) perempuan ini, dia akan memberiku kerak-nasi yang telah diterimanya untuk dirinya. Melalui tindakan itu dia akan terlahir kembali di alam Dewa Yang-Bergembira-Dalam-Mencipta. Setelah saya membebaskan dia secara mantap dari kelahiran-ulang di alam menderita, saya akan memberikan kesenangan-surgawi baginya." Sesudah berpakaian di pagi hari, beliau mengambil mangkuk dan jubahnya, dan pergi menuju tempat tinggal perempuan itu.

 

Pada saat itu, Sakka, raja para dewa, dengan menyamar menawarkan kepad Y.M. Maha-Kassapa makanan-surgawi dengan berbagai citarasa dan aneka sup serta kari. Sang Thera mengenalinya dan menolak. Dengan berkata, "KOsiya, engkau telah mencapai tindakan-tindakan bajik. Mengapa engkau bertindak demikian? Janganlah menghancurkan keberuntungan manusia miskin yagn tidak bahagia. Y.M Maha-Kassapa datang serta berdiri di hadapan perempuan itu. Perempuan itu ingin menawarkan sesuatu kepada beliau, namun dia berpikir: Di sini tidak ada apapun yang pantas di berikan kepada Thera dengan keagungan yang besar ini. Maka dia berkata, "Silakan pergi ke tempat lain!" Thera itu mundur selangkah, tetapi tidak menerima apa pun yang diberikan orang lain. Memahami bahwa sang Thera ingin membantunya, perempuan itu lalu memberikan kerak-nasi tersebut. Y.M. Maha-Kassapa memakannya di sana, dan berkata: "Di dalam kehidupanmu yang ketiga sebelum ini, engkau adalah ibuku," lalu pergi. Perempuan itu meninggal pada malam itu juga, dan kemudian terlahir di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa, pergi di tengah malam menghampiri Y.M. Maha-Kassapa dan bertanya kepadanya :

  1. "Ketika sedang berjalan untuk mengumpulkan dana makanan, engkau berdiri diam, dan ada seorang pengemis perempuan malang yang tinggal di bagian belakang rumah orang lain."

  2. "Dia memiliki keyakinan dan memberikan kerak-nasi kepadamu dengan tangannya sendiri; setelah menanggalkan tubuh manusianya, dia pergi menuju keadaan apa?"

 

Y.M. Maha-Kassapa menjawab untuk membicarakan tempat kelahiran-ulang itu :

  1. "Ketika sedang berjalan untuk mengumpulkan dana makanan, saya berdiri diam, dan ada seorang pengemis perempuan malang yang tinggal dibagian belakang rumah orang lain."

  2. "Dia memiliki keyakinan dan memberikan kerak-nasi kepada saya dengan tangannya sendiri, setelah menanggalkan tubuh manusianya, meninggal dari sini, dia sepenuhnya terbebas."

  3. "Ada dewa-dewa dengan kekuatan kesaktian yang besar, Yang Bergembira Dalam Mencipta. Perempuan yang bersukacita itu, pemberi kerak-nasi yagn gembira itu, berada di sana."

 

Ketika Sakka telah mendengar buah yang besar itu, manfaat-manfaat yang besar dari pemberian perempuan itu, dia berkata :

  1. "Ah, dana pengemis kepada Kassapa itu sudah ditempatkan dengan baik. Dana yang diberikan dari makanan yang diperoleh dari orang lain, memang sungguh memberikan hasil.

  2. Perempuan yang berkuasa sebagai pendamping raja pemutar-roda, perempuan yang elok di setiap bagian tubuhnya, anggun di mata tuannya (bahkan dia pun tidak) berharga satu per enam belas bagian dari dana kerak-nasi ini.

  3. Seratus nikkha, seratus kuda, seratus kereta yang ditarik bagal, seratus ribu pelayan perempuan yagn ebrhias anting-anting permata (bahkan mereka pun tidak) berharga satu per enam belas bagian dari dana kerak-nasi ini.

  4. Seratus gajah Himalaya dengan gading bagaikan tiang kereta-kencana, gajah-gajah yang kuat dan agung degnan perisai dan hiasan-hiasan emas (bahkan mereka pun tidak) berharga satu per enam belas bagian dari dana kerak nasi ini.

  5. Bahkan laki-laki yang mungkin berkuasa di sini atas empat benua pun tidak berharga satu per enam belas bagian dana kerak-nasi ini."

 

Y.M. Maha-Kassapa Thera menceritakan kembali kepada Sang Buddha apa yang telah dikatakan oleh Sakka, raja para dewa itu. Sang Buddha mengambil hal itu sebagai topik untuk mengajarkan Dhamma.

 

[Sumber: Vimanavatthu terbitan Wisma Sambodhi.]

 

 

Hits: 104