Category: Sutta Published: Friday, 15 December 2017

Bhaddhitthivimana - Istana Perempuan Elok (Vv II.5)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi di Jetavana, di vihara Anathapindika. Pada waktu itu, di kota Kimbila ada seorang putra perumah-tangga yang bernama Rohaka, seorang yagn percaya, memiliki keyakinan, dan sempurna dalam praktek moralitasnya. Disuatu keluarga lain yang mirip situasinya, ada juga seorang gadis, seorang yang percaya, yang memiliki keyakinan yang diberi nama Bhadda karena kebaikan sifatnya. Ibu dan ayah Rohaka meminta agar Baddha dinikahkan dengan putra mereka. Pada saat yang tepat, Baddha diantarkan ke sana untuk upacara pernikahan. Keduanya menjalani kehidupan yang harmonis. Karena kesempurnaan perilakunya, perempuan itu kemudian dikenal sebagai Perempuan Elok.

 

Pada saat itu, dua siswa utama Sang Buddha yang diikuti lima ratus bhikkhu sedang melakukan perjalanan di negerti itu dan tiba di Kimbila. Rohaka mengetahui kedatangan mereka di sana dan dengan sukacita dia pergi menemui para Thera, menyapa mereka dengan hormat, dan mengundang mereka untuk keesokan harinya. Pada hari berikutnya, setelah menjamu para Thera dan pengikutnya, Rohaka mendengarkan Ajaran dengan istri dan anak-anaknya, menerima perlindungan dan menerima lima sila. Istrinya mempratekkan hari-hari uposatha dan sempurna dalam praktek moralitasnya. Dia disukai oleh para dewa. Karena disukai oleh para dewa, dan kemasyhuran kemurnian serta moralitasnya yang luar biasa menyebar ke ujung dunia.

 

Perempuan elok ini tinggal sendiri di kota Kimbala sementara suaminya tinggal di Takkasila untuk menjalankan usahanya. Ketika liburan tiba, muncukllah keinginanya untuk bersenang-senang. Karena dorongan teman-temannya dia berkumpul dengan suaminya (di Takkasila) setelah dewa rumah membawanya ke sana dengan kekuatan kesaktiannya. Dari pertemuan itu dia hamil. Sekali lagi, dia dibawa oleh dewa rumah ke kota Kimbila. Bersama waktu, kondisi kehamilannya diketahui. Oleh ibu mertua dan orang-orang lain dia dicurigai telah berselingkuh. Namun devata itu sendiri kemudian mempertunjukkan kesaktiannya dengan membuat kota Kimbila kelihatan seolah-olah banjir (mirip) sungai Gangga yang besar. Perempuan itu melalui badai besar yang muncul karena pernyataannya yang tulus dibarengi dengan tekad hatinya yang kuat untuk menunjukkan kebenaran kesetiannya, membuat aib yang dilontarkan kepadanya itu surut seperti halnya banjir ebsar sungai Gangga dengan gelombangnya yang bergolak. Untuk membuktikan bahwa dia memang bersatu dengan suaminya, dia menunjukkan cincin-stempel dan tanda yang diberikan oleh siaminya kepadanya, dan menjadi dihormati oleh suami, sanak saudara dan semua alam. Maka dikatakan bahwa kemasyhuran, kemurnian dan moraltiasnya yang luar boasa menyebar ke ujung dunia.

 

Setelah meninggal, dia terlahir kembali di alam Tiga-Puluh-TIga dewa. Pada suatu ketika, Yang Terberkahi pergi ke sana dari Savatthi dan duduk di batu Pandukambala di kaki pohon koral. Kelompok para dewa datang kepada yang Terberkahi dan menyapa Beliau dengan hormat. Perempuan Elok itu juga mendekati dan berdiri di satu sisi. Kemudian Yang Terberkahi bertanya kepadanya tentang tindakan yagn telah dilakukannya :

  1. "Biru dan kuning dan hitam, serta merah dan merah tua, ditutupi serabut-serabut berbagai warna (pohon mandarava itu)."

  2. "Rangkaian bunga mandarawa engkau kenakan di kepalamu. Pohon-pohon ini tidak ditemukan di alam lain, O, perempuan yang sangat bijak."

  3. "Mengapa engkau muncul, dikenal luas, di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa? Devata, ketika ditanya, jelaskanlah tindakan apa yang menghasilkan buah ini."

 

Ditanya oleh Yang Terberkahi, devata itu menjawab dengan syair-syair ini :

  1. "Dikimbila mereka mengenalku sebagai 'Perempuan Elok', seorang umat awam perempuan. Saya memiliki keyakinan, saya memiliki kebiasaan moral, selalu gembira dalam kedermawanan."

  2. "Pakaian dan makanan, tempat tinggal serta penerangan telah saya berikan dengan pikiran yang penuh bakti kepada mereka yang lurus."

  3. "Pada (hari-hari) ke 14, 15 dan 8 dari dua-mingguan bulan terang, dan pad hari khusus pad dua-mingguan yang berhubungan erat dengan (peraturan) berunsur-delapan."

  4. "Saya menjalankan Delapan Sila, selalu terkendali oleh kebiasaan-kebiasaan moral, menjauhkan diri dari membunuh para makhluk, dan menjauhkan diri dari berbicara bohong,"

  5. "Dari mencuri dan tindakan asusila, dan minum minuman yang memabukkan jauh dariku; bergembira di dalam lima peraturan pelatihan, terampil dalam kebenaran-kebenaran ariya,"

  6. "Seorang umat awam perempuan pengikut dari Yang Memiliki Visi, kehidupanku adalah kehidupan yang penuh semangat. Dengan kesempatan yang diciptakan, dengan tindakan-tindakan baik yang dilakukan, kini saya berkelana menelusuri Nandana dengan sinarku sendiri."

  7. "Dan kepada para Bhikkhu, yang penuh belas kasih dan kasih sayang, saya telah memberikan makanan, juga kepada sepasang petapa dan orang bijak yang agung. Dengan kesempatan yang diciptakan dan tindakan-tindakan baik yang dilakukan, kini saya berkelana menelusuri Nandana dengan sinarku sendiri."

  8. "Saya selalu menjalankan Delapan Sila yang membawa kegembiraan yang tak-terukur. Dengan kesempatan yang diciptakan dan tindakan-tindakan baik yang dilakukan, kini saya berkelana menelusuri Nandana dengan sinarku sendiri."

 

[Sumber: Vimanavatthu terbitan Wisma Sambodhi.]

 

 

Hits: 101