Category: Sutta Published: Monday, 18 December 2017

Ularavimana - Istana Elok (Vv III.1)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, di Hutan Bambu. Pada waktu itu, di sebuah rumah di Rajagaha yang melayani Y.M. Maha-Moggallana ada seorang gadis yang cenderugn berdana dan suka memberi. DI rumah itu memang disiapkan makanan keras dan makanan lunak dan seabgainya sebelum makanan (utama). Gadis itu terbiasa memberikan separuh dari bagiannya sendiri (yang ada dirumah). Dia tidak akan makan sebelum memberikan dana makanan. Bahkan bila tidak melihat orang yang pantas menerima pemberian, dia menyisihkan (sejulah makanan) sampai dia melihat orang semacam itu. Pengemis pun diberinya juga. Ibunya bersukacita dan bahagia. Katanya pada diri sendiri, “Putriku suka berdana dan senang memberi.” Maka ibunya lalu memberikannya dua porsi. Ketika satu porsi yang diberikan itu telah didanakan, si ibu memberinya seporsi lagi. Gadis itu pun bahkan juga mulai mendanakannya sebagaian.

 

Waktu berlalu. Pada saatnya, ibu dan ayahnya memberikan dia kepada putera keluarga lain di kota yang sama. Tetapi keluarga itu mempunyai pandangan yang salah, dan tidak memiliki keyakinan. Suatu hari, Y.M. Maha-Moggallana berjalan untuk mengumpulkan dana dari rumah ke rumah. Beliau berdiri di pintu rumah ayah mertua gadis itu. Ketika gadis itu melihat beliau, dia berkata dengan keyakinannya, “Silakan masuk, Bhante yang terhormat.” Dia mengantar beliau masuk, menyapa dengan hormat, dan mengambil kue yang telah disisihkan oleh ibu mertuanya. Karena tidak dapat melihatnya, gadis itu berkata kepada dirinya, “Saya akan melaporkan hal itu (nanti) dan membuat ibu mertuaku bersukacita ( did alam perbuatna baikku).” Lalu kue itu diberikannya kepada Thera itu, yang kemudian berterima kasih dan pergi. Gadis itu lalu melaporkan kepada ibu mertuanya, “Kue yang telah Ibu sisihkan itu telah saya berikan kepada Maha-Moggallana Thera. Mendengar hal ini, ibu mertua itu berteriak, “Betapa kurang ajarnya engkau ini! Engkau memberi seorang bhikkhu apa yang merupakan milikki, bahkan tanpa bertanya!” Dengan tubuh demetar karena murka dan marah, tanpa berpikir benar atau salah dia mengambil sebatng alu yang telah patah dan memikul gadis itu dipuncaknya. Gadis itu – karena telah dibesarkan degnan lembut dan masa-hidupnya telah berakhir-amat kesakitan dan beberapa hari kemudian dia meninggal dan terlahir lagi di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa. Walaupun dia memiliki karma-karma baik lain, pemberian dana khusus kepada Thera tersebutlah yang menonjol. Y.M. Maha-Moggallana pergi ke sana, seperti yang dijelaskan di atas, dan bertanya kepadanya :

  1. "Sungguh megah pikuranmu, keelokanmu menyinari segala penjuru. Perempuan-perempuan menari dan menyanyi, para dewa-muda berhias."

  2. "Mereka membuatmu bergembria, devata, dengan hormat mereka melayanim; ini semua adalah Istana-istana emasmu, engkau yang elok untuk dipandang."

  3. "Dan engkau adalah tuan bagi mereka, dilengkapi dengan setiap kesenangan, dari kelahiran agung, sungguh berkuasa engkau; di dalam kelompok para dewa engkau bersukacita. Devata, ketika ditanya, jelaskanlah tindakan apa yang menghasilkan buah ini."

 

Ditanya demikian oleh Thera tersebut, devata itu menjelaskan :

  1. "Ketika saya berlahir sebagai manusia di antara manusia, saya adalah menantu perempuan dalam suatu keluarga yang miskin kebiasan moralnya."

  2. "Di antara mereka yang tidak percaya, di antara manusia yang kikir, saya – karena percaya – memiliki kebiasaan moral. Ketika engkau berjalan untuk mengumpulkan dana makanan, saya memberimu sepotong kue."

  3. "Saya memberitahu ibu mertuaku, ‘Seorang petapa telah datang kemari, dank arena memiliki keyakinan, kepadanya saya berikan kue itu dengan tanganku sendiri.’"

  4. "Demikian ibu mertuaku berkata, mencaci maki: ‘Menantu, engkau kurang dididik dengan baik. Engkau tidak mau bertanya kepadaku dengan mengatakan bawha engkau ingin memberi kepada seorang petapa.’"

  5. "Kemudian, karena marah, ibu mertuaku memukulku dengan sebatang alu. Alu itu menghantam pundak dan melukaiku. Saya tidak bisa hidup lama."

  6. "Dan saya, pada saat hancurnya tubuh, terbebas dengan baik; meningal dari sana, saya muncul di dalam kelompok para dewa di alam Tiga-Puluh-Tiga."

  7. "Karena inilah maka keeloanku sedemikian rupa…."

 

[Sumber: Vimanavatthu terbitan Wisma Sambodhi.]

 

 

Hits: 19