Category: Sutta Published: Monday, 18 December 2017

Ucchuvimana - Istana Tebu (Vv III.2)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha… dan seterusnya, sama seperti cerita sebelumnya. Hanya saja, inilah perbedaannya: perempuan itu memberikan tebu, dan dipukul dengan bangku. Dia meninggal pada saat itu juga dan terlahir lagi di ala Tiga-Puluh-Tiga dewa. Pada malam yang sama, dia dating ke hadapan sang Thera. Bagaikan rembulan dan matahari, dia membuat Puncak Nasar cemerlang beberapa saat ketika memberi hormat kepada Beliau. Kemudian dia berdiri di satu sisi, dengan sikap bakti, dan Thera tersebut bertanya kepadanya :

  1. "Setelah menerangi bumi dengan para dewanya, engkau bersinar bagaikan erembulan dan matahari degnan kemegahan dan keeloaknmu, dengan keagunganmu, kecemerlanganmu, bagaikan brahma yang melampaui sinar para dewa alam Tiga-Puluh(-Tiga) bersama Inda."

  2. "Saya bertanya kepadamu yang memakai untaian-teratai biru dan rangkaian bunga di dahi, yang berkulit emas, yang berhias, mengenakan pakaian yang terindah: Siapakah engkau, devata yang elok, yang sedang menghormatiku?"

  3. "Tindakan apakah yang telah engkau lakukan sendiri di masa lalu ketika di dalam kelahiran terdahulu engkau terlahir sebagai manusia? Telah memantapkan berdana dengan terampil, atau terkendali dalam kebiasaan moral? Melalui tindakan manakah, engkau – yang dikenal luas- muncul dialama kelahiran yang baik? Devata, ketika ditanya, jelaskanlah tindakan apa yang menghasilkan buah ini."

 

Ditanya demikian oleh Thera tersebut, devata itu menjelaskan:

  1. "Baru saja, Bhante yang terhormat, di desa ini pual, engkau mendatangi rumahku untuk mengumpulkan dana makanan. Maka saya memberimu sepotong kecil tebu dengan pikiran penuh keyakinan, dengan semangat tanpa batas."

  2. "Sesudahnya, ibu mertuaku mendesakku: ‘Di mana kau cecerkan tebuku?’ ‘Saya tidak membuannya, saya tidak memakannya. Saya memberikannya sendiri kepada seorang bhikkhu yang tenang.’"

  3. "‘Siapa yang berkuasa disini, akua tau engkau?’ Demikian ibu mertuaku mencaciku. Lalu dia mengambil kursi dan menghantamku dengan kursi itu. Setelah meninggal karena saatnya tiba, kina say adalah devata."

  4. "Itulah tindakan bajik yang telah saya lakukan, dan kini saya menikmati sendiri kebahagiaan (buah dari) tindakan itu. Kini asya menghibur diri bersama para dewa, saya menemukan kegembiraan di dalam lima jenis kesenangan-indera."

  5. "Itulah tindakan bajik yang telah saya lakukan, dan kini saya menikmati sendiri kebahagiaan (buah dari) tindakan itu, dijaga oleh pemimpin para dewa, dilindungi oleh Tiga-Puluh(-Tiga) dewa, dilengkapi lima jenis kesenangan-indera."

  6. "Demikianlah buah dari tindakan jasa, sungguh tidak kecil. Dana tebu yang kuberikan dengan penuh keyakinan itu sungguh besar buahnya. Saya menghibur diri bersama para dewa; saya menemukan kegembiraan di dalam lima jenis kesenangan-indera."

  7. "Demikianlah buah dari tindakan jasa, sungguh tidak kecil. Dana tebu yang kuberikan dengan penuh keyakinan itu sungguh besar keagungannya; dijaga oleh pemimpin para dewa, dilindungi oleh Tiga-Puluh(-Tiga) dewa, di Hutan Nandana (saya berdiam) bagaikan beliau yang memiliki seribu mata."

  8. "Dan kepada engkau, Bhante yang terhormat, yang penuh kasih saying, yang bijaksana, saya telah dating dan bertanya tentang kesehatanmu. Kemudian saya telah memberimu sepotong kecil tebu dengan pikiran penuh keyakinan, dengan semangat tanpa batas."

 

[Sumber: Vimanavatthu terbitan Wisma Sambodhi.]

 

 

Hits: 75