Category: Sutta Published: Monday, 18 December 2017

Pallankavimana - Istana Dipan (Vv III.3)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi, di Jetavana. Pada waktu itu, putrid seorang uma awam dinikahkan dengan putra umat awam lain di kota Savatthi yang memiliki garis keturunan dan keadaan yang mirip. Perempuan itu baik wataknya, dan sempurna praktek moralitasnya. Dia menghormati suaminya, menjalankan lima peraturan, dan pada hari-hari Uposatha, dia menjalankan Delapan Sila. Setelah meninggal, dia muncul di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa. Y.M. Maha-Monggallana Thera pergi ke sana seperti yang telah dijelaskan di atas. Dan beliau bertanya kepadanya :

  1. "Di atas dipan terbaik yang dihias dengan berbagai permata dan emas, ditebari bunga, dipan yang megah, di sana engkau berdiam, dewi dengan keagungan yang besar, dengan kesaksian yang dapat mengambil bentuk apa pun."

  2. "Dan peri-perimu itu, disetiap sisi menari, menyanyi dan bersenang-senang. Engkau telah mencapai kemampuan kesaktian para dewa, dengan keagungan yang besar. Tindakan jasa apakah yang telah engkau lakukan ketika terlahir sebagai manusia? Karena apakah maka keagunganmu cemerlang sedemikian rupa dan keelokanmu menyinari segala penjuru?"

 

Devata itu menjelaskan kepada beliau dalam syair-syair ini :

  1. "Ketika terlahir sebagai manusia di antara manusia, saya adalah menantu di sebuah keluarga kaya. Saya tidak memiliki kemarahan, patuh pada suami, rajin menjalankan (hari-hari) Uposatha."

  2. "Ketika saya terlahir sebagai manusia, masih mudah dan tak-bersalah, dengan pikiran yang penuh keyakinan saya membahagiakan tuanku. Pada siang dan malam hari, saya betindak untuk membahagiakan. Sudah lama saya memiliki kebiasaan moral."

  3. "Menjauhkan diri dari membunuh makhluk hidup, bukan seorang pencuri, dengan tubuh sepenuhnya murni saya hidup dalam kesetiaan; tidak minum minuman keras, dan tidak berbicara bohong, saya menjalankan epraturan-peraturan pelatihan."

  4. "Pada (hari-hari) ke-14,15, dan ke-8 dari dua-mingguan dan pada hari khusus pada dua-mingguan yang berhubungan erat dengan (peraturan) berunsur-delapan, saya menjalankan hari Uposatha dengan pikiran yang penuh keyakinan; saya hidup menjalankan Dhamma dengan semangat di hatiku,"

  5. "Saya menjalankan ketrampilan ariya yang berhubungan dengan (peraturan) berunsur delapan yang agung, bahagia dalam hasilnya, menarik dan patuh pada tuanku: dahulu saya adalah pengikut Sang Buddha."

  6. "Karena telah menjalankan perbuatan-perbuatan bajik di dalam kehidupan makhluk hidup, saya memiliki sifat yang menonjol. Ketika tubuh saya hancur, saya mencapai alam berikutnya dengan kemampuan kesaktian para dewa karena telah mencapai kelahiran yang baik."

  7. "Di dalam Istana yang menyenangkan dan agung, saya dilayani sekelompok peri, dan sekelompok dewa yang bersinar membahagiakan saya - yang dengan masa-hidup yang panjang telah tiba di Istana dewa."

 

[Sumber: Vimanavatthu terbitan Wisma Sambodhi.]

 

 

Hits: 56