Category: Sutta Published: Monday, 18 December 2017

Guttilavimana - Istana Guttila (Vv III.5)

 

 

Ketika Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, Y.M Maha-Moggallana mengunjungi alam-dewa seperti yang telah dibicarakan diatas. Beliau pergi menuju alam Tiga-Puluh-Tiga dewa. Di sana , di tuga puluh enam Istana, beliau melihat tiga puluh enam putri-putri-dewa. Mereka masing-masing menikmati kegembiraan surgawi yang besar, dengan pengikut seribu peri. Secara berturu-turut beliau bertanya dengan syair-syair yang bermula, “(Engkau yang berdiri) dengan keelokan melebihi yang lain” tentang tindakan (baik) yang telah mereka lakukan dulu. Setelah pertanyaan itu diajukan, mereka menjawab dengan syair-syair yang dimulai dengan: “Saya adalah orang yang memberikan pakaian yang paling halus.” Kemudian dari sana Thera itu pergi ke alam manusia dan menceritakan tersebut kepada Yang Terberkahi. Setelah mendengarnya, Yang Terberkahi berkata, “Moggallana, bukan hanya olehmu saja para dewa itu telah ditanya dan telah menjawab dengan cara ini. Sesungguhnya di suatu saat di masa lampau mereka pun telah ditanya olehku juga, dan mereka menjawab dengan cara yang sama”. Dimohon dengan sangat oleh Thera tersebut, Sang Buddha menceritakan kehidupan Guttila, cerita mengenai kehidupan lampau Beliau sendiri.

  1. "(Kecapi) berdawai-tujuh, merdu, menyenangkan, saya buat untuk bersuara. Seseorang mengundangku ke panggung tari. Kosiya, jadilah perlindunganku."

  2. "Saya adalah perlindunganmu. Saya adalah orang yang menghormati para guru. Murid tidak akan mengalahkanmu; Guru, engkau akan mengalahkan murid."

 

Dikatakan bahwa tiga puluh enam perempuan itu terlahir sebagai manusia pada zaman Buddha Kassapa. Mereka melakukan tindakan jasa ini dan itu. Disana ada yang memberi pakaian; ada yang rangkaian bunga; ada yang rangkaian melati; ada yang wewanggian; ada yang buah yang amat bagus; ada yang sari tebu; ada yang memberikan tanda-parfum lima-jari di cetiya Yang Terberkati; ada yang menjalankan Uposatha; ad yang memberikan air pada seorang bhikkhu yang sedang makan menjelang saat makan; ada yang melayani-tanpa kemarahan- kepada ibu dan ayah mertuanya yang berperangai buruk; ada yang rajin sebagai pelayan; ada yang memberikan nasi-susu kepada bhikkhu yang sedang mengumpulkan dana makanan; ada yang memberikan sirup gula; ada yang sepotong tebu; ada yang buah timbaru; ada yang mentimun manis; ada yangmentimun; ada yang buah tanaman rambat; ada yang (bugna) pharusaka; ada yang panci-batubara dari tembikar; ada yang segenggam akar lili-air, ada yang segenggam bunga; ada yang seikat akar (teratai); ada yang segenggam daun nimb, ada yangmemberikan bubur (asam); ada yang kue biji-wijen; ada yang memberikan ikat pinggang, ada yang tali-bahu, ada yang perban; ada yang kipas, ada yang (kipas) daun palma; ada yang penghalau lalat dari bulu-merak, ada yang parasol; ada yang sandal; ada yang kue; ada yang daging manis, ada yang kue manis.

 

Mereka masing-masing dengan pengikut seribu peri terlahir kembali di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa sebagai pelayan sakka, raja para dewa. Ketika ditanya oleh guru Guttila, secara bergantian mereka menjelaskan perbuatan baik yang telah mereka lakukan, yang bermula dengan “Seorang perempuan yang telah memberikan pakaian paling halus...” dan seterusnya.

  1. "Engkau yang berdiri dengan keelokan melebih yang lain, devata, membuat segala penjuru bersinar bagakan bintang penyembuh."

  2. "Karena apakah maka keelokanmu sedemikian rupa? Karena apakah engkau sejahtera di sini, dan di sana muncul apa pun yang merupakan kesenangan sesuai dengan hatimu?"

  3. "Saya bertanya kepadamu, dewi dengan keagungan yang besar, tindakan jasa apakah yang telah engkau lakukan ketika terlahir sebagai manusia? Karena apakah maka keagunganmu cemerlang sedemikian rupa dan keelokanmu menyinari segenap penjuru?"

  4. "Devata itu, karena gembira ditanya oleh Moggallana, ketika diberi pertanyaan menjelaskan perbuatan apa yang menghasilkan buah itu."

  5. ""Seorang perempuan yang memberi pakaian yang paling halus akan menjadi agung di antara pria dan perempuan. Demikianlah dia yang memberi benda-benda menyenangkan semacam itu telah mencapai dan menerima tempat-tinggal-surgawi yang memukai."

  6. "Lihatlah istana seperti milikku ini. Saya adalah peri yang dapat berubah bentuk semauku. Sayalah yang paling gemilang di antar seribu peri. Lihatlah buah dari tindakan jasa ini."

  7. "Karena inilah maka keelokkanku sedemikian rupa... dan keelokkanku menyinari segenap penjuru."

 

Seperti Istana Pemberi-Pakaian ini, begitulah empat istana berikutnya harus dikembangkan. Syair-syair diatas harus diulang empat kali dengan variasi (1) perempuan yang memberi bunga yang paling indah, (2) perempuan yang memberi parfum yang paling lembut, (3) perempuan yang memberikan buah-buah yang paling baik, (4) perempuan yang memberi makanan yang paling lezat, (sebagai pengganti perempuan yang memberikan pakaian yang paling halus).

"Saya memberikan tanda-parfum lima-jari di stupa Buddha Kassapa."

 

Seperti Istana tanda-parfum Lima-jari ini, begitulah empat Istana berikutnya harus dikembangkan, dengan mengulangi syair 8-10; tetapi dengan variasi berikut sebagai pengganti syair 18 :

  1. "Saya melihat para Bhikkhu dan Bhikkhuni ketika mereka berjalan di sepanjang jalan. Setelah mendengarkan Dhamma dari mereka, saya menjalankan satu (hari) Uposatha..."

  2. "Sambil berdiri di air, dengan pikiran yang penuh bakti saya memberikan air kepada seorang bhikkhu...."

  3. "Ibu dan ayah mertuaku yang berperangai buruk, pemarah serta kasar, saya melayani mereka, bebas dari kedengkian, rajin di dalam moralitasku sendiri..."

  4. "Saya adalah orang yang bekerja untuk orang lain, gadis pelayan yang rajin mengerjakan tugas, tanpa kemarahan, tanpa kesombongan, saya memberikan sebahagian dari apa yang saya miliki."

  5. "Setelah melakukan tindakan demikian, karena muncul di dalam kelahiran yang baik saya menemuka sukacita."

  6. "Saya telah memberikan nasi-susu kepada para Bhikkhu yang berjalan untuk mengumpulkan dana makan. Lihatlah Istanaku...."

 

Seperti istana Pemberi Nasi-Susu ini, begitulah 25 Istana yang harus dikembangkan :

  1. "Saya telah memberikan sirup gula..."

  2. "Saya telah memberikan sepotong tebu ..."

  3. "Saya telah memberikan buah timbaru..."

  4. "Saya telah memberikan mentimun manis (kakkarika)..."

  5. "Saya telah memberikan mentimun (Elaluka)..."

  6. "Saya telah memberikan buah tanaman rambat..."

  7. "Saya telah memberikan ada yang (bunga) pharusaka..."

  8. "Saya telah memberikan panci-batubara dari tembikar..."

  9. "Saya telah memberikan segenggam akar lili-air..."

  10. "Saya telah memberikan segenggam bunga..."

  11. "Saya telahmemberikan seikat akar (teratai)..."

  12. "Saya telah memberikan segenggam daun nimb..."

  13. "Saya telah memberikan memberikan bubur (asam)..."

  14. "Saya telahmemberikan kue biji-wijen..."

  15. "Saya telah memberikan ikat pinggang..."

  16. "Saya telah memberikan tali-bahu..."

  17. "Saya telah memberikan perban..."

  18. "Saya telah memberikan kipas..."

  19. "Saya telah memberikan (kipas) daun palma..."

  20. "Saya telah memberikan penghalau lalat dari bulu-merak..."

  21. "Saya telah memberikan parasol..."

  22. "Saya telah memberikan sandal..."

  23. "Saya telah memberikan kue..."

  24. "Saya telah memberikan manisan...."

  25. "Saya telah memberikan kue manis kepada seorang Bhikkhu yang berjalan untuk mengumpulkan dana makanan."

  26. "Lihatlah istana seperti milikku ini. Saya adalah peri yang dapat berubah bentuk semauku. Sayalah yang paling gemilang di antar seribu peri. Lihatlah buah dari tindakan jasa ini."

  27. "Karena inilah maka keelokkanku sedemikian rupa... dan keelokkanku menyinari segenap penjuru....."

  28. "Sungguh bagus bahwa saya telah datang pada hari ini, dengan bahagia muncul, dengan bahagia bangkit, karena saya telah melihat para devata, para peri yang bisa berubah bentuk semaunya."

  29. "Setelah mendengarkan Dhamma mereka saya akan melakukan kebajikan yang melimpah. Dengan memberi, berjalan seimbang, terkendali dan jinak, saya sendiri akan pergi ke sana ke tempat mereka yang tidak akan bersedih."

 

[Sumber: Vimanavatthu terbitan Wisma Sambodhi.]

 

 

Hits: 21