Category: Sutta Published: Monday, 18 December 2017

Sesavativimana - Istana Sesavati (Vv III.7)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi, di Jetavana. Pada saat itu, di desa Nal;aka, di Negeri Magadha, ada menantu-perempuan seorang perumah-tangga kaya, yang bernama Sesavati. Menurut cerita, ketika stupa keemasan sebesar satu yojana dibuat untuk Buddha Kassapa, sebagai gadis muda dia pergi dengan ibunya ke tempat monumen itu. Di sana dia bertanyua kepada ibunya, "Ibu, apa yang sedang dilakukan oleh orang-orang ini?" "Mereka sedang membuat batu-batu bata emas untuk membangun cetiya." Mendengar in, dengan pikiran yang penuh keyakinan Sesavati berkata, "Bu, saya punya perhiasan emas kecil dileherku. Saya ingin memberikannya untuk cetiya." Ibunya berkata, "Baik, berikanlah." Si Ibu melepaskan perhiasan itu dari leher putrinya dan kemudian memberikannya kepada pandai emas. Katanya, "INi adlah dana dari gadis ini. Masukkanlah ini ke dalam bata yang sedang engkau buat." Pandai emas itu melakukannya. Ketika gadis itu meninggal, karena tindakan jasa itu dia terlahir lagi di alam dewa, dan hidup dari satu alam yang baik menuju alam baik lain, Dia terlahir kembali di Nalanka pada zaman yang Terberkahi. pada saat itu, dia berusia 12 tahun.

 

Suatu hari dia disuruh oleh ibunya untuk membeli minyak di toko. Di sana, seorang perumah-tangga sedang menggali untuk mengambil amat banyak uang koin dan emas, mutiara, batu-batu berharga dan pemata yang telah dikubur dan ditinggalkan oleh ayahnya. Pemilik toko itu melihatm bahwa kaerna buah dari tindakan-tindakan, benda-benda itu muncul sebagai batu, pecahan-pecahan karang, dan kerikil. Kemudian dia berkata kepada dirinya sendiri, "melalui kekuatan kekuatan mereka yang memiliki jasa kebajikan, semoga tumpukan ini menjadi koin, emas dan sebagainya."

 

Gadis ini melihatnya dan berkata, " Mengapa kahapana dan batu permata ditumpuk seperti ini? Tentunya benda berharga harus disimpan dengan benar." Pemilik toko itu mendengar dan berpikir, "Gadis ini memiliki jasa kebajikan yang besar. Karena dialah maka semua ini menjadi emas dan sebagainya, dan menjadi berharga bagi kami. Saya harus memperlakukannya dengan baik." Dia pergi kepada ibu gadis itu, dan meminta agar gadis itu dinikahkan dengan anaknya. "Berikanlah gadis ini untuk putraku," katanya. Sesudah itu, dia memberikan kekayaan yang besar, merayakan pesta perkawinan, dan membawa gadis itu ke rumahnya sendiri.

 

Karena menyadari perilaku gadis yangluhur itu, pemilik toko itu membuk gudangnya dan berkata, "Apa yang kau lihat di sini?" Gadis itu berkata, "Saya tidak melihat apapun selain koin, emas, dan permata." Laki-laki itu berkata, "Semua itu dulu lenyap karena buah dari tindakan-tidnakan (buruk) kami. Tetapi karena keelokan tindakan-tindakanmu, semuanya ini kembali menjadi berharga; oleh karenanya, mulai sekarang engkau seoranglah di rumah ini yang bertanggung-jawab akan segalanya. Kami akan menggunakan hanya apa yang engkau berikan", sejak saat itulah orang-orang mengenalnya sebagai Sesavati.

 

Dan pada saat itu, Y.M. Panglima Dhamma (Sariputta) mengetahui bahwa penopang-penopang masa-hidupnya telah berakhir. Beliau berpikir, "Saya akan memberikan kekayaan pada ibuku, perempuan brahmana Rupasari, untuk menopangnya. Dan saya akan mencapai nibbana akhir." Maka beliau menemui Yang Terberkahi, Y.M. Sariputta Thera berangkat, menghadap lurus ke arah Yang Terberkahi sampai Beliau tidak terlihat lagi. Ketika telah berada di luar jangkauan Yang Terberkahi, sekali lagi beliau memberikan penghormatan yang dalam dan meninggalkan vihara dengan dikelilingi oleh Sangha para bhikkhu; beliau memberikan instruksi kepada Sangha para bhikkhu, menghibur Y.M. Ananda, menyuruh empat kelompok pengikutnya kembali (dan tidak lagi menemani beliau), dan pada saatnya mencapai Nalaka. Setelah memantapkan ibunya dalam buah Pemasuk-Arus, di saat fajar beliau mencapai nibbana akhir di dalam ruangan tempat beliau dilahirkan. Selama tujuh hari, para dewa maupun manusia memberikan penghormatan kepada tubuhnya. Mereka membuat api membakar sekitar seratus meter tingginya dengan gaharu dan cendana dan sejenisnya.

 

Sesavati juga mendengar nibbana akhir Thera tersebut. Dengan berkata, "Saya akan memberi hormat beliau," dia menyuruh membawa dan mengisi peti jenazah dengan bunga-bunga keemasan dan wewanggian. Dan karena ingin pergi, dia meminta izin kepada ayah mertuanya. Walaupun ayah mertuanya berkata kepadanya, "Engkau sedang hamil dan ada banyak orang disana. Kirimkan saja bunga-bunga dan wewangianmu, tetapi tingallah saja disana". Dengan penuh keyakinan Sesavati berpikir, "Walaupun di sana ada bahaya bagi kehidupanku, saya tetap akan pergi dan melakuka upacara penghormatan." Tanpa mempedulikan nasihat ayah mertuanya, dia pergi ke sana dengan pelayan-pelayannya, memberikan penghormatan dengan wewanggian dan bunga, dan berdiri dengan tangan tertangkup di dadanya dalam sikap bakti.

 

Pada saat itu, ada seekor gajah yang sedang dalam musim kawin yang ditunggangi oleh keluarga kerajaan yang datang untuk memberikan penghormatan kepada Thera tersebut. Orang-orang di sana melihat gajah liar itu dan lari ketakutan. Di dalam kekacauan itu Sesavati terinjak-injak dan mati. Karena telah melakukan upacara penghormatan, dan mati dengan pikiran penuh keyakinan pada Thera tersebut, dia terlahir lagi di antara Tiga-Puluh-Tiga dewa. Melihat keberuntungannya sendiri dan menganalisa penyebabnya, Sesavati melihat bahwa upacara penghormatan yang diberikan kepada Thera itulah penyebabnya. Maka, dengan pikiran penuh keyakinan kepada Tiga Permata, dia datang dengan istananya untuk memberikan hormat kepada Sang Guru. Setelah turun dari Istananya, dia berdiri dengan tangan tertangkup di dadanya dalam sikap bakti.

 

Pada saat itu, Y.M. Vangisa yang duduk di dekat Sang Buddha berbicara demikian: "Bhante, saya ingin bertanya kepada devata ini mengenai tidnakan (jasa yang telah dia lakukan)." "Lakukanlah Vangisa," kata Yang Terberkahit. Kemudian Y.M. Vangisa berbicara, dengan pertama-tama memuji Istananya :

  1. "Dengan kilauan kristal, perak dan emas yang menebar, permukaannya berwarna warni, sungguh indah Istana yang saya lihat ini, suatu tempat tinggal yang menyenangkan dan diatur dengan baik, lengkap dengan jalan di bawah atap melengkung, serta ditebari pasir keemasan."

  2. "Bagaikan matahari, dengan ribuan sinar menghalau kegelapan, di musim gugur bersinar di langit ke sepuluh arah, demikian pula Istanamu ini, bersinar di surga tertinggi bagaikan (api) yang bermahkota asap menyala di malam hari."

  3. "Istana ini menyilaukan mata, bagaikan halilintar, memikat, berada di langit. Istanamu menggema dengan kecapi, gendang dan tepukan-simbal, megah bagaikan kota Inda."

  4. "Ada teratai-teratai merah, putih dan biru, yodhika (sejenis bunga melati khusus), gandika, dan anojaka, pohon sala dan asoka yang berbunga. Istanamu penuh dengan wewanggian harum dari berbagai pohon yang indah."

  5. "O, devata yang cemerlang, bagimu muncul kolam teratai yang menyenangkan, yang dibatasi dengan salala (pohon yang berbau harum, mungkin pinus), labuja (pohon sukun), dan bhujaka (pohon yang berbau harum yang ada hanya di alam dewa atau di gunung Gandhamadana), dengan tanaman rambat berbunga yang bergelantungan di pohon-pohon palma, dengan batang-batang teratai bagaikan permata."

  6. "Bunga apa pun yang tumbuh di air, pohon apa pun yang tumbuh di tanah, entah milik manusia atau bukan-manusia atau alam surga, mereka semua tumbuh di kediamanmu."

  7. "Pengendalian-diri dan penjinakan seperti apakah yang menghasilkan buah ini? Melalui buah dari perbuatan apakah maka engkau muncul disini? Bagaimana Istana ini diperoleh olehmu? Ceritakanlah secara lengkap, putri dengan bulu mata lentik."

 

Kemudian oleh devata itu berkata :

  1. "Bagaimana saya memperoleh Istana ini, yang sering dikunjungi banyak burung heron, merak dan ayam hutan, dipenuhi itik surgawi, dan raja-raja angsa merah, bergema dengan (kicauan) burung, angsa abu-abu dan burung tekukur."

  2. "Dipenuhi banyak pohon yang berbunga dengan cabang-cabang yang membentang, bunga terompet, dan apel-mawar dan pohon-pohon asoka yang amat banyak - bagaimana saya dapat memperoleh Istana ini akan saya ceritakan kepadamu; dengarkanlah, Bhante yang terhormat."

  3. "Di Magadha timur yang makmur dahulu ada sebuah desa bernama Nalaka, Bhante yang terhormat. Dulu saya adalah menantu perempuan di sana. Di sana, mereka mengenalku sebagai Sesavati."

  4. "Saya sendiri, dengan sukacita telah menebarkan bunga-bungaan kepada beliau, yang agung, yang dihormati oleh para dewa dan manusia karena keterampilannya dalam kesejahteraan dan Dhamma, kepada Upatissa yang tak-terukur, yang telah padam."

  5. "Saya menghormati beliau yang telah pergi menuju keadaan tertinggi, penglihat-agung yang memiliki tubuh terakhirnya, maka setelah meninggalkan kerangka fisik manusiaku, saya muncul di alam Tiga-Puluh(-Tiga) dewa, kini saya di sini menghuni tempat ini."

     

    [Sumber: Vimanavatthu terbitan Wisma Sambodhi.]

     

     

Hits: 20