Category: Sutta Published: Monday, 18 December 2017

Visalakkhivimana - Istana Visalakkhi (Vv III.9)

 

 

Setelah Yang Terberkahi mencapai nibbana akhir, Raja Ajatasatu membangun stupa besar di Rajagaha untuk relik yang diterimanya, dan kemudian mengadakan festival penghormatan. Pada waktu itu, ada seorang putri perangkai bunga yang bernama Sunanda. Sunanda adalah umat awam perempuan, siswa ariya yang telah mencapai tingkat Pemasuk-Arus. Dia mengirimkan kaling-kalung bunga yang harum ke cetiya, dan pada hari-hari Uposatha pun dia pergi sendiri untuk memberikanpenghormatan. Setelah meninggal dunia, dia terlahir lagi sebagia pengikut Sakka, raja para dewa. Pada suatu hari Sakka memasuki Hutan Cittalata. Dia melihat Sunanda berdiri di sana tanpa terpengaruh oleh cahaya d sekitarnya. Dan Sakka bertanya kepadanya tentang hal itu.

  1. "Siapakah engkau yang bermata besar, di Hutan Cittalata yang menyenangkan, yang berjalan kian kemari memimpin sekelompok perempuan yang mengelilingimu?"

  2. "Ketika para dewa dari alam Tiga-Puluh-Tiga memasuki hutan ini dengan kuda dan kereta-kereta mereka, semua kemilai m,ereka menyebar."

  3. "Tetapi engkau yang telah datang kesini, yang berjalan kian kemari di tempat hiburan ini, tidak ada penyebaran (warna) terlihat ditubuhmu. Mengapa bentukmu sedemikian rupa? Devata, ketika ditanya, jelaskanlah tindakan apa yang menghasilkan buah ini."

 

Ditanya oleh Sakka, devata ini (Sunanda) menjawab dalam syair-syair ini :

  1. "Raja para dewa, tindakan apa yang membuat bentuk dan kelahiran ini menjadi milikku beserta kesejahteraan dan keagungan - dengarkanlah, pemberi yang dermawan."

  2. "Di Rajagaha yang menyenangkan, saya dulu adalah umat awam perempuan yang bernama Sunanda. Saya memiliki keyakinan, memiliki kebiasaan moral, selalu bergembira dalam kedermawanan."

  3. "Pakaian dan makanan, tempat tinggal dan lampu saya berikan dengan penuh bakti kepada mereka yang lurus."

  4. "Pada (hari-hari) ke 14, 15 dan ke-8 dari dua mingguan bulan terang, dan pad ahari khusus pada dua-mingguan yang berhubungan erat dengan (peraturan) berunsur delapan, saya menjalankan (hari) Uposatha, selalu terkendali oleh kebiasaan-kebiasaan moral."

  5. "Menjauhkan diri dari membunuh makhluk hidup, dan menjauhkan diri dari berbicara bohong, dari mencuri, tindakan asusila, serta minum-minuman yang memabukkan jauh dariku."

  6. "Bergembira di dalam lima peraturan pelatihan, terampil di dalam kebenaran-kebenaran ariya, dahulu, saya adalah umat awam pengikut Gotama, Yang Memiliki Visi, yang dikenal luas."

  7. "Dan saya punya rumah keluarga, jadi mereka selalu membawa rangkaian bunga untukku. Semuanya saya persembahkan di stupa Sang Buddha."

  8. "Pada (hari-hari) Uposatha, karena memiliki keyakinan saya mempersembahkan rangkaian bunga, wewangian, minyak dengan tanganku sendiri di stupa itu."

  9. "Karena tindakanku, raja para dewa, dalam mempersembahkan rangkaian bunga itulah maka seperti inilah bentuk dan kelahiranku, kesejahteraan dan keagunganku."

  10. "Untuk (tindakan) ketika saya dulu memiliki kebiasaan moral itu, buahnya masih akan datang. Dan harapan saya, raja para dewa, adalah bahwa saya akan menjadi Yang-Kembali-Sekali-Lagi."

 

Sakka menceritakan hal ini kepada Y.M. Vangisa. Dan Vangisa, pada saat Konsili, menceritakannya kepada para Thera besar yang sedang menyusun Dhamma, dan mereka menambahkannya seperti apa adanya ke dalam Koleksi.

 

[Sumber: Vimanavatthu terbitan Wisma Sambodhi.]

 

 

Hits: 60