Category: Sutta Published: Wednesday, 20 December 2017

Manjetthakavimana - Istana Merah Tua (Vv IV.1)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi, di Jetavana. Ketika Beliau sedang dijamu dengan cara seperti dalam cerita Istana sebelumnya, seorang gadis pelayan di suatu rumah-tangga telah mengumpulkan bunga-bunga dari pohon sala yang sedang mekar di Hutan Gelap, merangkainya diatas serpihan-serpihan kulit kayu untuk membuat buket-buket. Kemudian setelah mengumpulkan sejumlah besar bunga pilihan, bunga-bunga yang telah rontok, dia memasuki kota. Dia melihat Yang Terberkahi sedang dudul di paviliun. Dengan pikiran penuh keyakinan dia memberikan penghormatan dengan bunga-bunga itu, menempatkan buket-buket itu disekitar tempat duduk Beliau, menebarkan bunga-bunga yang lain, menyapa Beliau dengan penuh hormat, berputar tiga kali mengeliling Beiau dan pergi. Setelah meninggal, dia terlahir lagi di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa. Baginya telah tersedia sebuah Istana dari kristal merah. Di depan Istana terdapat hutan sala besar yang tanahnya ditebari pasir keemasan. Ketika devata itu keluar dan memasuki hutan sala, cabang-cabang pohon merunduk dan menebarkan bunga-bunga di atas kepalanya. Y.M. Maha-Monggallana menghampirinya seperti yang telah dijelaskan di atas, dan bertanya kepadanya :

  1. "Di Istana Merah Tua yang ditebari pasir keemasan, engkau bergembira dengan musik instrumen berunsur-lima yang terdengar merdu."

  2. "Menuruni Istana megah yang terbuat dari batu permata itu, engkau memasuki hutan sala yang senantiasa penuh bunga."

  3. "Di kaki setiap pohon sala, di mana engkau berdiri, devata, pohon agung itu mengugurkan bunga-bunganya, merunduk merendah."

  4. "Harumnya hutan sala - yang dihembus angin sepoi itu, diaduk, sering didatangi burung-burung- menebar ke segala penjuru bagaikan pohon manjusaka."

  5. "Nafasmu menghembuskan keharuman murni, engkau melihat keelokan yang bukan duniawi. Devata, ketika ditanya, jelaskanlah tindakan apa yang menghasilkan buah ini."

 

Ditanya demikian oleh Thera tersebut, devata itu menjawab dengan syair-syair ini :

  1. "Ketika saya berlahir sebagai manusia di antara manusia, saya adalah gadis pelayan di rumah suamiku. Ketika melihat Sang Buddha duduk, saya menebarkan bunga-bunga sala (di sekeliling beliau)."

  2. "Dan karena memiliki keyakinan, dengan tanganku sendiri saya mempersembahkan kepada Sang Buddha rangkaian bunga-bunga sala yang diatur elok."

  3. "Setelah melakukan tindakan bajik yang dipuji oleh Sang Buddha ini, saya kini bersuka cita tanpa kesedihan, bahagia dan sehat."

 

[Sumber: Vimanavatthu terbitan Wisma Sambodhi.]

 

 

Hits: 54