Category: Sutta Published: Wednesday, 20 December 2017

Pitavimana - Istana Kuning (Vv IV.9)

 

 

Setelah Yang Terberkahi mencapai nibbana akhir, Raja Ajatasatu membangun stupa besar di Rajagaha untuk menempatkan relik Yang Terberkahi yang dimilikinya dan melakukan upacara persembahan. Pada waktu itu, seorang umat awam perempuan datang dengan empat bunga rambat kosataki untuk mempersembahkan tanpa mempedulikan bahaya di jalan. Namun tiba-tiba ada seekor sapi dengan anaknya yang menerjang dengna liar. Dengan marah sapi itu menyerang perempuan itu dengan tanduknya sehingga dia meninggal. Dia terlahir di alamTiga-Puluh-Tiga dewa. Ketika dia muncul di sana, Sakka - raja para dewa- sedang berada di keretanya untuk berolah raga di taman hiburan. Sakka bertanya kepada perempuan itu dalam syair-syair ini :

  1. "Dewi dengan bendera dan pakaian kuning keemasan, dengan perhiasan kuning-keemasan, yang diolesi cendana keemasan, yang memiliki rangkaian bunga teratai kuning-keemasan,"

  2. "Dewi dengan Istana dan tempat tidur, tempat duduk dan mangkuk kuning-keemasan, dengan payung, kereta kencana, kuda dan kipas kuning-keemasan,"

  3. "Tindakan apakah yang telah engkau lakukan, dewi yang elok, di dalam kehidupan manusia sebelumnya? Devata, ketika ditanya, jelaskanlah tindakan apa yang menghasilkan bunga ini."

 

Devata itu menjelaskan dalam syair-syair ini :

  1. "Ada tanaman rambat, Bhante yang terhormat, yang disebut kosataki, yang pahit, tidak ada harganya. Saya mengambil empat bunganya untuk stupa."

  2. "Dengan pikiran yang penuh bakti terhadap relik Sang Guru, dengan perhatian yang dipusatkan padanya, saya tidak memperhatikan jalan."

  3. "Jadi sapi itu menerjangku, kerinduanku akan stupa itu tidak terpenuhi. Seandainya saja waktu itu saya mengumpulkan (apa yang seharusnya), (hasilnya) sungguh jauh lebih besar daripada ini."

  4. "Melalu tindakan itu, O, pemimpin-dewa, Maghava, gajah para dewa, setelah bebas dari tubuh manusia, saya datang ke dalam kelompokmu."

  5. "Setelah mendengar hal ini, Maghava, tuan dari alam Tiga-Puluh-Tiga dewa, gajah para dewa yang menggembirakan alam Tiga-Puluh-Tiga dewa, megnatakan hal ini kepada Matali."

  6. "Lihat, Matali, buah dari tindakan yang luar biasa, beranake ragam buah (dari tindakan jasa). Bahkan satu hal sepele yang dilakukan untuk orang yang pantas menerima dana sudah merupakan (tindakan) jasa, yang menghasilkan buah yang besar."

  7. "Bila pikiran memiliki keyakinan, tidak ada dana yang bersifat sepele (jika) diberikan kepada Sang Tathagatha atau Yang Terjaga atau kepada para siswa Beliau."

  8. "Ayo, Matali, kita juga bisa menghormat berulang kali. Sungguh membahagiakan kumpulan tindakan jasa (yang diberikan) oleh relik-relik Sang Tathagata."

  9. "Apakah Beliau masih hidup atau telah meniggal, buahnya mantap untuk pikiran yang mantap, karena sebagai akibat dari tekad mentallah maka para makhluk pergi menuju kelahiran yang baik."

  10. "Sesungguhnya para Tathagata muncul untuk kebaikan banyak orang; dengan demikian, setelah melakukan suatu pelayanan, para pendana pun pergi ke surga."

 

Setelah hal ini dikatakan, Sakka, pemimpin para dewa meninggalkan taman hiburan itu dan selama tujuh hari memberikan penghormatan di altar Culamani. Selang beberapa waktu ketika Y.M. Narada sedang berkunjung ke alam dewa, Sakka memberitahukan kejadian ini kepada beliau dalam syair-syair. Thera tersebut memberitahukan para pengulang. Mereka memasukkannya ke dalam Koleksi.

 

[Sumber: Vimanavatthu terbitan Wisma Sambodhi.]

 

 

Hits: 34