Category: Sutta Published: Wednesday, 20 December 2017

Ucchuvimana - Istana Tebu (Vv IV.10)

 

 

Cerita ini mirip di teks (Pali) dengan Istana Tebu sebelumnya. Tetapi, di sini ibu mertuanya menggunakan segumpal tanah ketika dia membunuh menantu perempuannya. Karena itulah maka ceritanya telah diturunkan secara terpisah.

  1. "Setelah menerangi dunia beserta para dewanya, engkau bersinar bagaikan rembulan dan matahar dengan kemegahan dan keelokanmu, keagunganmu, kecemerlanganmu, bagaikan Brahma yang melampaui sinar para dewa, di alam Tiga-Puluh-Tiga bersama Inda."

  2. "Saya bertanya kepadamu yang memakai untaian-teratai biru, dan rangkaian bunga di dahi, yang berkulit keemasan, yang berhias, mengenakan pakaian terindah: Siapakah engkau, devata yang elok, yang sedang menghormatiku?"

  3. "Tindakan apakah yang telah engkau lakukan sendiri di masa lalu ketika terlahir sebagai manusia? Apakah karena telah berdana dengan trampil, atau karena pengendalian di dalam kebiasaan moral? Melalui tindakan manakah, engkau yang dikenal luas, muncul di alam kelahiran yang baik? Devata, ketika ditanya, jelaskanlah tindakan apa yang menghasilkan buah ini."

 

Kemudian devata itu menjelaskan :

  1. "Baru saja, Bhante yang terhormat, di desa ini pual, engkau mendatangi rumahku untuk mengumpulkan dana makanan. Maka saya memberimu sepotong kecil tebu dengan pikiran penuh keyakinan, dengan semangat tanpa batas."

  2. "Sesudahnya, ibu mertuaku mendesakku: ‘Di mana kau cecerkan tebuku?’ ‘Saya tidak membuannya, saya tidak memakannya. Saya memberikannya sendiri kepada seorang Bhikkhu yang tenang.’"

  3. "‘Siapa yang berkuasa disini, akua tau engkau?’ Demikian ibu mertuaku mencaciku. Lalu dia mengambil segumpal tanah dan menghantamku dengan segumpal tanah itu. Setelah meninggal karena saatnya tiba, kini saya adalah devata."

  4. "Itulah tindakan bajik yang telah saya lakukan, dan kini saya menikmati sendiri kebahagiaan (buah dari) tindakan itu. Kini asya menghibur diri bersama para dewa, saya menemukan kegembiraan di dalam lima jenis kesenangan-indera."

  5. "Itulah tindakan bajik yang telah saya lakukan, dan kini saya menikmati sendiri kebahagiaan (buah dari) tindakan itu, dijaga oleh pemimpin para dewa, dilindungi oleh Tiga-Puluh(-Tiga) dewa, dilengkapi lima jenis kesenangan-indera."

  6. "Demikianlah buah dari tindakan jasa, sungguh tidak kecil. Dana tebu yang kuberikan dengan penuh keyakinan itu sungguh besar buahnya. Saya menghibur diri bersama para dewa; saya menemukan kegembiraan di dalam lima jenis kesenangan-indera."

  7. "Demikianlah buah dari tindakan jasa, sungguh tidak kecil. Dana tebu yang kuberikan dengan penuh keyakinan itu sungguh besar keagungannya; dijaga oleh pemimpin para dewa, dilindungi oleh Tiga-Puluh(-Tiga) dewa, di Hutan Nandana (saya berdiam) bagaikan beliau yang memiliki seribu mata."

  8. "Dan kepada engkau, Bhante yang terhormat, yang penuh kasih saying, yang bijaksana, saya telah dating dan bertanya tentang kesehatanmu. Kemudian saya telah memberimu sepotong kecil tebu dengan pikiran penuh keyakinan, dengan semangat tanpa batas."

 

[Sumber: Vimanavatthu terbitan Wisma Sambodhi.]

 

 

Hits: 92