Category: Sutta Published: Tuesday, 26 December 2017

Chattamanavimana - Istana Chatta, Seorang Pemuda Bhramana (Vv V.3)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi, di Hutan Jeta. Pada waktu itu, ada putra brahmana bernama Chatta yang telah selesai belajar di bawah bimbingan seorang brahmana Setavya. Ketika pulang, orang tuanya memberi uang seribu kahapana untuk diberikan kepada gurunya. Maka dia pun berangkat menuju Setavya untuk membayar brahmana Setavya itu. Para pencuri mendengar hal ini dan mereka merencanakan untuk membunuh Chatta dan merampas uangnya di tengah Jalan. Yang Terberkahi ketika muncul dari pencapaian kasih sayang yang besar berangkat di pagi hari dan duduk di bawah pohon di jalan yang akan dilalui pemuda itu. Ketika pemuda itu lewat, Sang Buddha bertanya kepadanya mengenai misinya, dan selanjutnya menanyakan apakah dia mengetahui perihal tiga perlindungan dan lima peraturan. Chatta mengatakan tidak, dan Yang Terberkahi mengajarkan hal itu kepadanya untuk dipelajari.

  1. "Beliau pembicara yang paling agung di antara manusia, manusia bijaksana dari suku Sakya, Yang Mulia, yang telah menyelesaikan tugasnya, yang telah menyeberang, dilengkapi dengan kekuatan dan semangat datanglah untuk berlindung pada Pelaku-Kebajikan ini."

  2. "Kepada Dhamma ini, tanpa gairah yang bergolak, tanpa nafsu keinginan, tanpa kesedihan, tak-terbentuk, bukannya tidak menyenangkan, manis, dijelaskan dan dianalisa dengan baik datanglah untuk berlindung pada Dhamma ini."

  3. "Dan tentang hal itu mereka mengatakan : sungguh besar buah dari perbuatan berdana kepada manusia-manusia murni yang empat pasang itu –dan delapan inilah manusia-manusia yang merupakan para Penglihat-Dhamma datanglah untuk berlindung pada Sangha ini."

 

Para pencuri mengepung dan membantai pemuda itu serta merampas uangnya ketika dia sedang mengingat hal-hal ini di dalam hatinya sepanjang perjalanannya. Tetapi dia terlahir kembali di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa dengan Istana sebesar Tiga puluh yojana yang memancarkan sinar seluas dua puluh yojana. Penduduk Setavya yang menemukan jasad pemuda itu memberitahukan hal ini kepada orang tuanya, sedangkan penduduk Ukkattha memberitahukan gurunya . Upacara pemakaman diadakan. Yang Terbekahi pun berkenana hadir agar Chatta memiliki kesempatan untuk menampakkan diri dan dengan demikian mengungkapkan pada banyak orang tentang tindakan-tindakan yang telah dilakukannya. Chatta pun berpikir demikian, dan dia datang dengan istananya. Orang-orang bertanya-tanya: apakah ini dewa atau Brahma? Maka, Yang Terbekahi bertanya kepadanya untuk menjelaskan tindakan jasa yang telah dilakukan oleh dewa-muda itu :

  1. "Matahari di langit atau rembulan atau bintang-bintang Phussa tidaklah bersinar secemerlang sinar agung yang tiada bandingnya ini. Siapakah engkau yang telah datang ke bumi dari alam-dewa?"

  2. "Dan sinar cemerlang yang menebar seluas dua puluh yojana memotong cahaya pemberi-cahaya. Istana elok yang sempurna, murni dan tanpa noda membuat bahkan malam hari pun (tampak) bagaikan siang."

  3. "Dengan berbagai teratai warna-warni dan lili air, bertabur bunga-bunga dan beraneka hiasan, ditutup dengan jaring emas yang tanpa-debu dan tanpa-noda, Istana itu bersinar di langit bagaikan matahari itu sendiri."

  4. "Mengenakan pakaian merah dan kuning, harum dengan aroma gaharu, piyangu dan cendana, para pria dan wanita, memenuhi Istana bagaikan bintang-bintang memenuhi cakrawala."

  5. "Di sini mereka dengan berbagai aspeknya, di sini mereka bergembira dengan bunga-bunga dan hiasan-hiasan yang dipakai, menebarkan wewangian yang dihembus angin, dengan beraneka hiasan dan seluruh tertutup emas."

  6. "Pengendalian diri apakah yang menghasilkan buah ini? Dari tindakan apakah maka engkau muncul di sini, dan bagaimana engkau bisa memperoleh Istana ini? Ketika ditanya, jelaskanlah caranya langkah demi langkah."

 

Dewa-muda itu menjelaskannya dalam syair-syair ini :

  1. "Karena Sang Guru telah datang menemui pemuda brahmana di jalan ini serta telah mengingatkan dia dengan kasih sayang, dan karena setelah mendengarkan Dhamma dari Engkau, O, Permata Tertinggi, Chatta mengatakan ‘Saya akan melakukannya,"

  2. "Saya menghampiri Sang Penakluk Agung untuk berlindung, serta Dhamma, demikian juga Sangha para bhikkhu. Pada awalnya saya mengatakan "Tidak", Bhante yang terhormat; namun setelah itu saya melakukan saran Bhante dengan keyakinan."

  3. "Jangan hidup secara tidak murni dengan menyakiti makhluk apa pun yang bernafas, karena manusia-manusia bijaksana tidak memuji kurangnya pengendalian diri terhadap makhluk-makhluk yang bernafas. Pada awalnya saya mengatakan "Tidak", Bhante yang terhormat; namun setelah itu saya melakukan saran Bhante dengan keyakinan."

  4. "Dan jangan (mengambil) apa yang dijaga oleh orang lain; jangan berpikir untuk mengambil apa pun yang tidak diberikan. Pada awalnya saya mengatakan "Tidak", Bhante yang terhormat; namun setelah itu saya melakukan saran Bhante dengan keyakinan."

  5. "Dan jangan pergi kepada istri-istri orang lain, kepada mereka yang dijaga oleh pria lain hal ini tidak bersifat ariya. Pada awalnya saya mengatakan "Tidak", Bhante yang terhormat; namun setelah itu saya melakukan saran Bhante dengan keyakinan."

  6. "Dan jangan berucap bohong, atau apa yang sebaliknya, karena manusia-manusia bijaksana tidak memuji ucapan bohong. Pada awalnya saya mengatakan "Tidak", Bhante yang terhormat; namun setelah itu saya melakukan saran Bhante dengan keyakinan."

  7. "Dan jangan minuman keras yang menyebabkan persepsi meninggalkan manusia jauhkan diri dari itu semua. Pada awalnya saya mengatakan "Tidak", Bhante yang terhormat; namun setelah itu saya melakukan saran Bhante dengan keyakinan."

  8. "Sesungguhnya, ketika menjalankan lima pelatihan di sini dan hidup sejahtera di dalam Dhamma Sang Tathagata, saya bertemu pencuri-pencuri di jalan di antara dua batasan desa. Mereka membantaiku di sana demi memperoleh hartaku."

  9. "Sejauh inilah yang saya ingat tentang perbuatan bajik; di luar itu tak ada (perbuatan bajik) lain yang ada bagiku. Karena perilaku yang baik, saya muncul melalui karma di alam Tiga-Puluh (-Tiga) dewa dan bersukacita sesuka hati."

  10. "Lihatlah buah dari hidup sesuai Dhamma dan dari mempraktekkan pengendalian diri selama sejenak, satu saat saja, sementara banyak yang hanya memiliki sedikit sukacita merindukan perolehanku karena melihatku bersinar seakan-akan berada di dalam kemuliaan."

  11. "Lihatlah bagaimana melalui ajaran yang sedemikian ringkas saya telah pergi menuju kelahiran yang baik dan mencapai kebahagiaan; jadi saya pikir mereka yang senantiasa mendengar Dhamma pasti mencapai alam Tanpa-Kematian, alam yang aman."

  12. "Bahkan walaupun hanya sedikit yang dilakukan di dalam Dhamma Sang Tathagata, akan ada buah yang besar, buah yang tersebar-luas. Lihatlah bagaimana Chatta, melalui tindakan jasa yang dilakukan, menyinari bumi bahkan seperti matahari."

  13. "Apakah perbuatan bajik yang bisa kita lakukan ini? demikian beberapa orang berembuk bersama. Seandainya kita memperoleh status manusia lagi, marilah kita hidup menjalankan kebiasaan-kebiasaan moral pada waktu kita menjalani kehidupan."

  14. "Dan Sang Guru karena memiliki pelayanan dan kasih sayang yang besar datang padaku pada pagi hari ketika saya berada di dalam kesulitan ini. Pada waktu itulah saya menghampiri Beliau yang sesuai dengan namanya: Milikilah kasih sayang lagi agar saya dapat mendengarkan Dhamma."

  15. "Mereka yang di sini terbebas dari kemelekatan terhadap kesenangan-indera, dan terbebas dari kecondongan laten pada kemelekatan terhadap kehidupan, dan terbebas dari kebingungan, mereka ini tidak akan datang lagi ke ranjang-kandungan, karena mereka telah menjadi dingin, dan telah pergi ke nibbana akhir."

 

Setelah Sang Guru berbicara kepada kelompok itu, dewa-muda itu mengumumkan kemantapannya di dalam jalan ariya. Dia memberikan penghormatan kepada Yang Terberkahi dan meninggalkan kedua orang tuanya untuk kembali ke alam-dewa."

 

[Sumber: Vimanavatthu terbitan Wisma Sambodhi.]

 

 

Hits: 73