Category: Sutta Published: Wednesday, 27 December 2017

Dutiyanagavimana - Istana Gajah Kedua (Vv V.11)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, di Hutan Bambu. Pada waktu itu, seorang umat awam yang memiliki keyakinan menjalani kehidupan sesuai peraturan. Dia menjalankan hari-hari Uposatha, memberikan dana kepada Sangha dan pergi ke vihara untuk mendengarkan Dhamma dengan membawa dana. Setelah meninggal dari sini dia muncul di alam Tiga Puluh Tiga dewa. Seekor gajah putih yang besar siap melayaninya, dan dengan sejumlah besar pengikut dia kadang-kadang pergi berolah raga untuk bersenang-senang. Di suatu tengah malam, karena didorong keinginan untuk menunjukkan rasa terima kasih, dengan menunggang gajahnya dia pergi dari alam-dewa menuju Hutan Bambu. Di sana berdiri dengan sikap bakti di hadapan Yang Terberkahi. Y.M. Vangisa yang berdiri di dekat Yang Terberkahi, dengan izin Yang Terberkahi bertanya kepadanya :

  1. "Duduk di atas gajah yang seluruh tubuhnya berwarna putih, gajah yang agung, engkau pergi dari hutan ke hutan dilayani oleh sekelompok perempuan, membuat segala penjuru bersinar bagaikan bintang penyembuh."

  2. "Karena apakah maka keelokanmu sedemikian rupa? Karena apakah engkau sejahtera di sini, dan di sana muncul apa pun yang merupakan kesenangan sesuai dengan hatimu?"

  3. "Saya bertanya kepadamu, dewa dengan keagungan yang besar, tindakan jasa apakah yang telah engaku lakukan ketika terlahir sebagai manusia? Karena apakah maka keagunganmu cemerlang sedemikian rupa dan keelokanmu menyinari segala penjuru?"

  4. "Dewa-muda itu, karena gembira ditanya oleh Vangisa, ketika diberi pertanyaan menjelaskan perbuatan apa yang menghasilkan buah itu."

  5. "Ketika terlahir sebagai manusia di antara para manusia, saya adalah seorang umat awam dari Beliau yang Memiliki Visi. Saya menjauhkan diri dari perbuatan membunuh makhluk-makhluk yang bernafas, saya tidak mengambil di dunia ini apa pun yang tidak diberikan."

  6. "Saya bukanlah peminum minuman keras, saya tidak berucap bohong, dan saya puas dengan istriku sendiri. Dengan pikiran yang penuh keyakinan dan dengan penuh hormat, saya memberikan baik makanan maupun minuman, pemberian yang melimpah."

  7. "Karena inilah maka keelokanku sedemikian rupa dan keelokanku menyinari segala penjuru."

 

[Sumber: Vimanavatthu terbitan Wisma Sambodhi.]

 

 

Hits: 84