Category: Sutta Published: Wednesday, 27 December 2017

Tatiyanagavimana - Istana Gajah Ketiga (Vv V.12)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, di Hutan Bambu. Pada waktu itu, tiga Thera Arahat datang ke suatu desa untuk melewatkan musim penghujan. Dan dari sana mereka pergi ke Rajagaha untuk memberikan penghormatan kepada Yang Terberkahi. Ketika melewati perkebunan tebu milik seorang brahmana yang memiliki pandangan salah, mereka bertanya kepada penjaganya : "Dapatkah kami tiba di Rajagaha hari ini juga?" "Tidak, tuan, jarak ke sana masih setengah yojana; silakan bermalam di sini saja dan lanjutkan perjalanan besok." "Apakah di sini ada tempat untuk kami bermalam?" "Tidak, tetapi akan saya beritahukan suatu tempat." Penjaga itu kemudian mendirikan gubuk-gubuk dari batang tebu, ranting dan sebagainya. Lalu dia memberi mereka nasi dan sari-tebu. Setelah mereka makan, penjaga itu memberi mereka masing-masing sebatang tebu, dengan pemikiran bahwa itu adalah (dari) bagiannya untuk masa panen itu. Dengan sukacita dan harapan bagi kesejahteraannya sendiri, dia lalu kembali. Tetapi majikannya bertemu dengan para bhikkhu itu, dan bertanya kepada mereka dari mana mereka memperoleh tebu. Mendengar jawabannya, dia menjadi amat murka. Segera dia memukul si penjaga itu dengan tongkat dan membunuhnya dengan satu pukulan. Lewat jasa tindakannya, penjaga tersebut terlahir lagi di Aula Dewa-dewa Sudhamma. Dia memiliki seekor gajah besar yang seluruhnya berwarna putih. Kedua orang tua dan sanak saudaranya meratap pada pemakamannya, tetapi dia datang menunggang gajah ke antara mereka dalam kebesaran. Seorang laki-laki yang pandai dan berpembawaan halus bertanya kepadanya tentang tindakan jasa yang telah dilakukannya :

  1. "Siapakah ini yang dihormati di langit, yang menunggang gajah yang seluruhnya berwarna putih, dengan suara musik instrumen yang merdu?"

  2. "Apakah engkau devata, musisi surgawi, atau Sakka, pendana yang melimpah? Karena tidak mengenalmu, kami bertanya bagaimana kami dapat mengenalmu?"

 

Dia menjelaskan perihal ini :

"Saya bukan deva, bukan musisi surgawi, dan bukan pula Sakka, pendana yang melimpah. Saya adalah satu di antara mereka yang disebut dewa-Sudhamma."

 

Sekali lagi orang itu bertanya :

"Kami bertanya kepadamu, dewa-Sudhamma, dengan penuh hormat dan dengan kedua tangan terkatup : Perbuatan apakah yang telah engkau lakukan di antara manusia sehingga engkau muncul di antara Sudhamma?"

 

Dia mengucapkan syair ini :

"Siapa yang memberikan gubuk dari tebu, gubuk dari rumput, gubuk dari jubah –siapa yang memberikan salah satu dari ketiga hal ini muncul di antara Sudhamma."

 

Setelah menghibur orang tuanya demikian, dia lalu kembali ke alam-dewa.

 

[Sumber: Vimanavatthu terbitan Wisma Sambodhi.]

 

 

Hits: 11