Category: Sutta Published: Wednesday, 27 December 2017

Cularathavimana - Istana Kereta Kencana Kecil (Vv V.13)

 

 

Setelah Sang Buddha mencapai Nibbana Akhir, relik Beliau dibagi-bagikan. Di bawah bimbingan Maha-Kassapa Thera yang agung, dipilihlah para Bhikkhu untuk mengulang Dhamma; para siswa, yang masing-masing datang untuk musim penghujan bersama dengan kelompoknya, tinggal di tempat yang berbeda-beda karena memikirkan orang-orang yang menerimanya. Dan bersama Y.M. Maha Kaccana tinggal di daerah berhutan di perbatasan. Pada waktu itu Assaka sedang berkuasa di kota Pota. Sujata, putra Assaka dari permaisuri utamanya yang dibuang oleh ayahnya karena tekanan dari istrinya yang paling muda– telah menempuh kehidupan di hutan. Pada zaman Buddha Kassapa sebenarnya dia memilih kehidupan sebagai bhikkhu, namun pada waktu itu dia meninggal sebagai manusia biasa. Sekarang dia terlahir lagi dan diberi nama Sujata. Ketika ibunya meninggal pada usia muda, permaisuri yang baru pun melahirkan anak laki-laki. Raja merasa sangat gembira dan menjanjikan hadiah khusus kepada istrinya itu. Ketika Sujata berusia enambelas tahun, istri raja menuntut janji tersebut. Dia meminta pada raja untuk menjadikan putranya itu sebagai pewaris tahta. Tentu saja raja menolak karena putra tertuanyalah yang berhak sebagai ahli warisnya. Namun ratu terus merongrong raja untuk memenuhi janjinya, sehingga akhirnya raja merasa harus melakukannya. Dengan bercucuran air mata, raja pun memberitahu Sujata. Pemuda itu merasa sedih melihat kesedihan ayahnya, dan dia meminta izin untuk pergi menjalani kehidupan-hutan. Raja bermaksud membangun sebuah kota untuknya, tetapi Sujata tidak setuju. Dia juga tidak bersedia dikirim ke pangeran tetangga. Raja memeluknya dan membiarkan dia pergi, atas pengertian bahwa dia harus kembali setelah menjadi yatim piatu untuk mengambil-alih tahta kerajaan. Sujata hidup dengan cara seperti penghuni hutan yang lain. Pada suatu hari, dia pergi berburu rusa. Dia terus mengejar sampai rusa itu lenyap di dekat gubuk daun Maha Kaccana Thera yang bertanya kepadanya demikian :

"Engkau berdiri bersandar pada busur kokoh yang terbuat dari kayu yang kuat. Apakah engkau seorang bangsawan-pejuang, putra raja, atau pemburu yang berkelana di hutan?"

 

Kemudian, untuk memperkenalkan dirinya, Sujata berkata :

  1. "Saya, Yang Mulia, adalah putra raja dari Assaka, yang sedang berkelana di hutan. Saya beritahukan, Bhikkhu, nama saya adalah Sujata, demikianlah saya dikenal."

  2. "Ketika berburu rusa yang masuk ke hutan besar, saya tidak lagi melihat rusa itu, tetapi engkaulah yang saya lihat."

 

Thera tersebut berkata dengan sapaan yang ramah :

  1. "Selamat datang kepadamu, orang dengan jasa kebajikan yang besar, engkau bukannya tidak disambut. Mari, ambillah air sehingga engkau bisa membasuh kakimu."

  2. "Air minum ini pun juga menyejukkan, dibawa dari gua-gua di gunung. Sambil meminumnya, pangeran, duduklah di tikar (rumput)."

 

Kemudian pangeran itu berkata untuk menimpali keramahtamahan Thera itu :

  1. "Kata-katamu sungguh enak didengar, petapa agung. Engkau mengucapkan apa yang manis dan penuh makna dengan tujuan yang telah dipikirkan dengan baik."

  2. "Apakah kesenangan bagimu dengan berdiamdi hutan? O, banteng para penglihat, berbicaralah ketika ditanya. Dengan mendengarkan pembicaraanmu, saya akan mempraktekkan jalan tujuan Dhamma."

 

Maka sang Thera pun berkata, membicarakan prakteknya sendiri yang benar, yang juga cocok untuk Assaka :

  1. "Tidak-merugikan semua makhluk yang bernapas membuat kami gembira, O, pangeran, dan menjauhi pencurian, perbuatan asusila, dan minuman keras."

  2. "Penolakan dan hidup-seimbang, belajar, berterima kasih, yang dipuji kini dan di sini, hal-hal ini merupakan yang pantas dipuji."

  3. "Ketahuilah, pangeran, bahwa lima bulan dari sekarang ini engkau akan berhadapan dengan kematian – maka bebaskan dirimu sepenuhnya."

 

Kemudian pemuda itu bertanya tentang sarana pembebasannya sendiri :

"Ke negeri manakah saya harus pergi, dan pekerjaan manusia apakah yang harus saya lakukan, atau dengan pengetahuan apa maka saya tidak akan menjadi tua, tidak akan mati?"

 

Kemudian Thera itu menyampaikan syair-syair ini untuk mengajarkan Dhamma :

  1. "Tidak ada tempat seperti itu, tidak ada pekerjaan manusia atau pengetahuan, O, pangeran, yang setelah sampai ke sana, manusia tidak akan menjadi tua dan tidak akan mati."

  2. "Mereka yang memiliki kekayaan yang besar, harta yang melimpah, bahkan bangsawan pejuang yang memiliki kerajaan, bahkan mereka yang berkelimpahan dalam harta kekayaan dan hasil bumi pun tidak ada yang tidak menjadi tua dan tidak mati."

  3. "Mungkin engkau telah mendengar tentang putra-putra Andhakavenhu, yang kuat, hebat, tak sabar untuk menyerang, bahkan mereka pun akan mencapai kehancuran pada masa kehidupan, akan terurai, untuk selama-lamanya."

  4. "Para bangsawan-pejuang, brahmana, penduduk desa, pelayan, penyapu dari kasta rendah, bahkan mereka ini dan yang lain pun tidak ada yang melalui kelahiran tidak menjadi tua dan mati."

  5. "Mereka yang mengulang mantra-mantra pengetahuan berunsur enam yang dirancang oleh Brahma, bahkan mereka ini dan yang lain pun tidak ada yang melalui pengetahuan tidak menjadi tua dan mati."

  6. "Dan bahkan mereka yang melihat, para petapa yang damai dan terkendali, bahkan para petapa ini pun melepaskan kerangka tubuhnya pada waktunya yang sesuai."

  7. "Bahkan para Arahat, yang pikirannya telah berkembang, tugasnya telah dijalankan, tanpa belenggu, mereka pun meletakkan tubuhnya pada waktu (tindakan-tindakan) yang baik dan jahat mereka telah sepenuhnya hancur."

 

Sekarang pemuda itu bertanya mengenai apa yang harus dilakukannya sendiri :

"Petapa yang agung, syair-syairmu sungguh terucap dengan baik dan sarat makna. Saya menjadi tenang dengan kata-katamu yang baik. Jadilah engkau sebagai perlindunganku."

 

Kemudian Thera itu mengajarkan lewat syair ini :

"Janganlah pergi kepadaku untuk perlindungan; berpalinglah untuk berlindung hanya kepada dia, putra suku Sakya, pahlawan yang besar, kepadanya saya telah pergi untuk perlindungan."

 

Kemudian pemuda itu berkata :

"Di negeri manakah gurumu itu tinggal, Yang Mulia? Saya juga akan pergi untuk menemui Sang Penakluk, yang tiada bandingnya."

 

Thera itu berkata :

"Di negeri timur, Beliau yang terlahir dari garis keturunan Okkaka itu dulu ada di sana, bibit unggul manusia, tetapi Beliau telah sepenuhnya lenyap."

 

Ketika pangeran mendengar Ajaran Dhamma dari Thera tersebut, dia menjadi mantap di dalam perlindungan dan kebiasaan-kebiasaan moral. Demikian dikatakan :

  1. "Seandainya Sang Buddha, Gurumu, itu masih hidup, Yang Mulia, saya bersedia untuk pergi menempuh ribuan yojana untuk melayaninya."

  2. "Tetapi karena Gurumu telah sepenuhnya lenyap, Yang Mulia, saya pergi untuk perlindungan kepada pahlawan besar yang telah sepenuhnya lenyap itu."

  3. "Saya menghampiri Sang Buddha untuk perlindungan, dan juga kepada Dhamma yang agung, dan kepada Sangha dari dewa para manusia saya pergi untuk perlindungan."

  4. "Sekarang juga saya menjauhkan diri dari perbuatan membunuh para makhluk, saya menghindar dari mengambil di dunia ini apa pun yang tidak diberikan, saya bukan peminum minuman keras, dan saya tidak mengucapkan kebohongan, dan saya puas dengan istriku sendiri."

 

Thera itu berkata demikian : "Sekarang pergilah kepada ayahmu. Masa hidupmu sungguh pendek. Engkau akan mati dalam waktu lima bulan, maka lakukanlah tindakan jasa." Pangeran pun melakukannya. Empat bulan kemudian, dia meninggal dan terlahir lagi di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa. Karena kekuatan jasanya, muncullah sebuah kereta kencana yang dihiasi tujuh macam permata, berukuran tujuh yojana. Kereta itu memiliki pengikut yang terdiri dari beribu-ribu peri. Setelah raja melakukan upacara pemakaman untuk yang meninggal dan memberikan dana yang besar kepada Sangha para bhikku, dia memberikan penghormatan kepada cetiya. Sang Thera juga ada di sana. Dewa-muda itu datang dengan menunggang kereta surgawi, menghormat Thera itu dan bertegur sapa dengan ayahnya. Thera itu bertanya kepadanya dalam syair-syair ini :

  1. "Bagaikan (matahari) yang memancarkan ribuan-cahaya dengan sinar yang amat kuat dalam perjalanannya menyinari seluruh penjuru langit, demikian pula keretamu yang luar biasa ini membentang ke sekeliling sejauh tujuh yojana."

  2. "Seluruhnya tertutup pelat-pelat emas, tubuh kereta itu bertatahkan batu permata dan mutiara, ukiran-ukirannya dari emas dan perak, dengan deretan batu permata hijau-laut, membuatnya sungguh elok."

  3. "Bagian depannya dihiasi deretan batu permata hijau-laut dan kuknya dirancang dengan batu rubi, dan kuda-kuda ini (dengan) hiasan-hiasan dari emas dan perak, bergerak secepat pikiran, membuatnya sungguh elok."

  4. "Di kereta keemasan ini engkau berdiri melampaui semuanya bagaikan pemimpin para dewa dengan kereta yang diikatkan pada seribu kereta. Saya bertanya kepadamu, engkau yang dikenal dan piawai, lewat sarana apakah maka engkau memperoleh kemegahan ini?"

 

Ditanya demikian oleh Thera tersebut, dewa muda itu menjelaskannya lewat syair-syair :

  1. "Yang Mulia, ketika dulu sebagai putra raja, saya bernama Sujata. Dan engkau, karena berbelas kasihan kepada saya, memantapkan saya dalam pengendalian diri."

  2. "Dan karena mengetahui bahwa masa-hidup saya akan berakhir, engkau memberikan relik Sang Guru dengan berkata : Hormatilah ini, Sujata, ini adalah untuk kesejahteraanmu."

  3. "Dengan bertindak secara benar, setelah memberikan penghormatan dengan wewangian dan bunga-bunga, ketika terbebas dari tubuh manusiaku ini, saya muncul di Nandana."

  4. "Dan di Hutan Nandana yang menyenangkan, yang dihuni banyak kelompok burung, saya bergembira, dilayani oleh peri-peri dengan tarian dan nyanyian."

 

Maka dewa-muda itu lalu memberikan penghormatan kepada sang Thera dan mohon diri dari ayahnya. Dia naik ke keretanya dan kembali ke alam-dewa. Thera itu menceritakan seluruh percakapan yang telah terjadi di antara mereka kepada para pengulang teks Dhamma ketika mengadakan Konsili."

 

[Sumber: Vimanavatthu terbitan Wisma Sambodhi.]

 

 

Hits: 79