Category: Sutta Published: Wednesday, 27 December 2017

Maharathavimana - Istana Kereta Kencana Besar (Vv V.14)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi, di Hutan Jeta. Ketika Y.M. Maha-Moggallana mengadakan perjalanan di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa, beliau melihat dewa-muda, Gopala, yang sedang meninggalkan Istananya dan menaiki keretanya yang agung untuk pergi bersenang-senang dan berolahraga. Ketika dewa-muda itu melihat Thera tersebut, dia pun turun dari kereta dan berdiri di hadapan beliau dengan kedua tangan yang ditangkupkan di atas kepala. Y.M.Maha-Moggallana bertanya kepadanya :

  1. "Duduk di kereta yang dicat berwarna-warni ini, yang indah dan ditarik seribu kuda dengan kuk, pergi ke tempat-tempat hiburan (engkau bersinar) bagaikan pendana yang melimpah, raja para makhluk, Vasava."

  2. "Kedua tangga keretamu terbuat dari emas, terpasang pas dengan papan penyangga dan bahunya, dengan tiang-tiang yang elok buatannya karena dikerjakan oleh pengrajin yang terampil, kereta itu bersinar bagaikan rembulan pada hari kelimabelas."

  3. "Kereta ini, yang ditutupi jala keemasan, meriah dengan berbagai macam permata, mengeluarkan bunyi-bunyi yang merdu serta berkilau, bersinar dengan aneka cercah bak dikuas tangan."

  4. "Bagian tengahnya juga dirancang dengan imajinasi, roda-roda kereta dihias di tengahnya – dan bagian tengah ini, yang juga dicat dengan seratus garis, bersinar bagaikan halilintar yang memancarkan cahaya berunsur-seratus."

  5. "Kereta ini tertutup berbagai lukisan, dan lingkarannya luas dengan kecemerlangan berunsur-seribu. Suara yang merdu terdengar darinya ketika musik instrumen berunsur-lima dimainkan."

  6. "Pada (bagian) depan, kereta itu dihias, dengan ornamen batu permata berbentuk rembulan, sinarnya murni dan berkilau; mengandung sinar keemasan yang melimpah, kereta itu bersinar begitu terang seolah-olah (bergantian) dengan sinar batu permata hijau-laut."

  7. "Dan kuda-kuda ini dihiasi permata berbentuk rembulan, lehernya berdiri tegak, bergerak sangat cepat bagaikan kuda Brahma, tinggi dan kokoh, kuat dan cepat, bergerak ketika mereka mengetahui apa keinginanmu."

  8. "Dan kuda-kuda ini –dengan empat kaki yang sungguh selaras– bergerak ketika mereka mengetahui apa keinginanmu. Mereka membawamu berjalan dengan mantap; mereka penurut, dan tidak gelisah, mereka bergembira (dalam menarik kereta itu), megah di antara yang berjalan-cepat."

  9. "Mereka melompat, melambung dan bergerak bersama di langit, membunyikan hiasan-hiasan yang indah itu. Suara merdu terdengar darinya seperti ketika musik instrumen berunsur lima dimainkan."

  10. "Suara kereta dan hiasan-hiasannya, gemuruh suara kuku dan ringkikan kuda, suara yang merdu terdengar darinya bagaikan musik gandhabba di hutan yang menyenangkan."

  11. "Dengan mata malu-malu bagaikan gazelle, di dalam kereta mereka berdiri, dengan bulu mata yang tebal, tersenyum, berbicara dengan lembut, berkulit mulus, pakaiannya bertabur batu permata hijau-laut, bahkan dihormati oleh para gandhabba dan dewa-dewa besar."

  12. "Para pelayan yang berpakaian merah, dalam kain yang dicelup warna merah dan kuning, dengan mata yang besar dan berwarna merah tua, terlahir baik, berbentuk anggun dan dengan senyuman yang menyenangkan, berdiri di kereta– melayani dengan tangan yang ditangkupkan."

  13. "Mereka dengan gelang-gelang keemasan, terbungkus dengan indah, dengan pinggang dan paha dan dada yang elok, dengan jari-jari yang bulat, wajah yang bersih, elok dipandang mata, berdiri di kereta melayani dengan tangan yang ditangkupkan."

  14. "Beberapa yang muda rambutnya diikat anggun dengan aneka hiasan, dikepang sama rata dan berkilau cemerlang, dengan layanan untuk menyenangkan engkau dan bergembira di bawah perintahmu, berdiri di kereta melayani dengan tangan yang ditangkupkan."

  15. "Mereka dengan hiasan rambut dari teratai berwarna merah dan biru, berhias, harum dengan cendana pilihan, dengan layanan untuk menyenangkan engkau dan bergembira di bawah perintahmu, berdiri di kereta – melayani dengan tangan ditangkupkan."

  16. "Mereka dengan kalung bunga dan dihias dengan teratai merah dan biru, berhias, harum dengan cendana pilihan, dengan pelayanan untuk menyenangkan engkau dan bergembira di bawah perintahmu, berdiri di kereta melayani dengan tangan yang ditangkupkan."

  17. "Hiasan-hiasan yang ada di leher, di tangan, di kaki, demikian pula di kepala, membuat sepuluh penjuru menyala seluruhnya bagaikan matahari musim gugur pada saat merangkak naik."

  18. "Bergetar dalam hembusan angin, rangkaian bunga di tangan dan semua hiasan itu mengeluarkan suara merdu, murni, dan elok, yang bagi semua manusia bijak merupakan suara paling manis."

  19. "Dan berdiri di tempat-hiburan di dua sisi, terdapat kereta-kereta dengan gajah dan instrumen-instrumen musik yang membuat engkau gembira dengan suara (mereka), O, pemimpin para dewa, bagaikan kecapi dengan sisir kuda-kuda, mata kecapi, dan alat penggesek."

  20. "Sementara kecapi-kecapi yang indah dan menyenangkan penampilannya ini dimainkan sehingga menggugah sukacita di hati, peri-peri muda yang terlatih baik berputar-putar bebas di atas teratai-teratai itu."

  21. "Dan bilamana apa yang ditarikan dan apa yang dimainkan serta apa yang dinyanyikan semuanya tampak serasi, di sini mereka menari (di keretamu), kemudian di sana peri-peri, perempuan-perempuan yang anggun dan membuat (segala penjuru) bersinar, menari di dua sisi."

  22. "Engkau bersukacita dimeriahkan oleh orkestra, dihormati seolah-olah engkau adalah Inda, pemilik halilintar, sementara kecapi-kecapi ini dimainkan sehingga menggugah sukacita di hati."

  23. "Tindakan apa yang telah engkau lakukan sendiri di masa lalu ketika engkau terlahir sebagai manusia? Apakah engkau memperhatikan (hari) Uposatha, atau apakah engkau menemukan kepuasan dalam berjalan pada Dhamma dan praktek (yang baik)?"

  24. "Apakah ada tindakan berarti yang dilakukan dahulu, atau apakah (hari) Uposatha yang dijalankan dengan baik itulah yang menjadikan kesejahteraan dan keagunganmu melimpah ini sehingga engkau jauh melampaui para dewa?"

  25. "Atau apakah ini merupakan buah dari danamu, atau sekali lagi, dari kebiasaan moral atau penghormatan yang diberikan? Jawablah ketika ditanya."

 

Ditanya demikian oleh Thera agung itu, dewa-muda itu menceritakan hal tersebut :

  1. "Dewa-muda itu bergembira ditanya oleh Moggallana dan ketika diberi pertanyaan, dia menjelaskan tindakan apa yang telah menghasilkan buah itu."

  2. "Beliau yang memiliki kemampuan indera yang telah ditaklukkan, Sang Buddha, yang sempurna energinya, tertinggi di antara manusia, Kassapa, manusia tertinggi, semangat Beliau yang membuka pintu menuju alam Tanpa-Kematian, dewa di atas dewa, (yang memiliki) seratus tanda jasa kebajikan."

  3. "Beliaulah yang saya lihat, gajah yang megah, telah menyeberangi banjir, bagaikan bola emas yang telah digosok. Pikiran saya menjadi murni ketika dengan segera saya melihat bahwa Beliaulah sesungguhnya panji-panji dari kata yang diucapkan dengan baik."

  4. "Dengan pikiran yang tak melekat, di tempat tinggalku yang bertabur bunga, saya mempersembahkan kepada Beliau makanan dan minuman serta jubah yang murni dan elok kualitasnya."

  5. "Setelah saya menyegarkan Beliau yang tertinggi di antara manusia dengan makanan dan minuman dan dengan bahan jubah, dengan makanan keras dan lunak serta tempat tinggal, sekarang saya bersukacita di kota-dewa, pergi dari satu surga ke surga lain."

  6. "Di dalam diri yang sedemikian bijaksana karena telah melakukan pengorbanan yang tak terintangi ini, yang tiga kali dimurnikan, setelah terbebas dari kerangka manusia yang fana ini, sekarang saya bersukacita di kota dewa, seperti pada Inda."

  7. "Kehidupan yang panjang dan keelokan, kebahagiaan dan kekuatan dia yang menginginkan keelokan semacam itu, O, petapa, harus memberikan banyak makanan dan minuman, yang telah disiapkan dan dibuat dengan baik, kepada orang yang pikirannya tidak melekat."

  8. "Bukan di dunia ini dan bukan juga di dunia sana bisa ditemui manusia yang lebih baik daripada seorang Buddha atau manusia yang setara Beliau. Bagi mereka yang mencari buah jasa kebajikan yang kaya, Beliau menjadi tujuan bagi dana tertinggi di antara mereka yang pantas menerima persembahan."

 

Sementara dia berkata demikian, sang Thera mengetahui bahwa pikirannya telah siap, tanpa rintangan dst. Maka beliau pun menguraikan kebenaran, dan pada akhir penjelasan itu beliau memantapkannya di dalam buah Pemasuk-Arus. Kemudian sang Thera kembali ke alam manusia, dan memberitahu Sang Buddha tentang percakapannya dengan dewa-muda itu. Sang Guru mengangkat hal itu untuk khotbah, dan Beliau mengajarkan Dhamma kepada kelompok yang hadir.

 

[Sumber: Vimanavatthu terbitan Wisma Sambodhi.]

 

 

Hits: 87