Category: Sutta Published: Tuesday, 02 January 2018

Ambavimana - Istana Mangga (Vv VII.5)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, di Hutan Bambu. Pada waktu itu, ada seorang laki-laki miskin yang diupah untuk menjaga hutan mangga. Suatu hari di musim panas, dia melihat Y.M. Sariputta mendekat dalam keadaan yang lelah karena kepanasan. Maka dia berkata: “Bhante kelihatannya lelah karena kepanasan. Berbelas-kasihanlah kepada saya. Silakan Bhante masuk ke hutan mangga dan beristirahat.” Y.M. Sariputta setuju, dan beliau duduk di bawah sebatang pohon mangga. Laki-laki itu membawakan air minum dan air untuk membasuh tangan dan kaki beliau. Dan dia bergembira sesudahnya karena tindakan jasa yang telah dilakukannya. Setelah meninggal, dia terlahir lagi di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa, dan kepadanya juga Y.M. Moggallana bertanya :

  1. "Sungguh tinggi Istana ini dengan tugu-tugu yang berhias permata, duabelas yojana kelilingnya, ada tujuh ratus aula berpinakel yang elok dan pilar-pilar batu permata hijau-laut indah yang dilapisi logam berkilau."

  2. "Di sana engkau berdiam dan minum serta makan sementara kecapi-kecapi surgawi melantunkan melodi. Di sini terdapat citarasa surgawi, lima jenis kenikmatan-indera, dan perempuan-perempuan berhias emas menari-nari."

  3. "Karena apakah maka keagunganmu cemerlang sedemikian rupa dan keelokanmu menyinari segala penjuru?"

  4. "Dewa-muda itu, karena gembira tindakan apa yang telah menghasilkan buah itu."

  5. "Di bulan terakhir pada musim panas ketika maahari menyengat panasnya, saya, seorang pekerja upahan, menyirami taman mangga milik orang-orang lain."

  6. "Kemudian datanglah Bhikkhu Sariputta yang sudah sangat terkenal, lelah di tubuh tetapi tidak lelah di pikiran."

  7. "Saya yang sedang menyirami pohon mangga, melihat beliau datang dan berkata, ‘Sebaiknya saya membasuhmu, Yang Mulia; hal itu akan memberiku kebahagiaan.’"

  8. "Karena welas asihnya, beliau menaruhkan mangkuk dan jubahnya, dan dengan satu-satunya jubah itu beliau duduk di bawah keteduhan pohon."

  9. "Dan, dengan pikiran penuh keyakinan, saya membasuh sang Thera dengan air jernih ketika dibalut sehelai jubah (beliau duduk) di bawah keteduhan pohon itu."

  10. "Pohon mangga itu disiram, petapa itu dibasuh, dan tak sedikit tindakan jasa yang telah saya lakukan, demikianlah beliau memenuhi seluruh tubuhnya dengan semangat."

  11. "Sejauh inilah tindakan yang saya lakukan di dalam kelahiran itu. Setelah terbebas dari tubuh manusia, saya pun muncul di Nandana."

  12. "Di hutan Nandana yang menyenangkan, tempat berkumpulnya kawanan burung, saya bergembira, dilayani oleh peri-peri yang menyanyi dan menari."

 

[Sumber: Vimanavatthu terbitan Wisma Sambodhi.]

 

 

Hits: 169