Category: Sutta Published: Tuesday, 02 January 2018

Kanthakavimana - Istana Kanthaka (Vv VII.7)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savathi, di Hutan Jeta. Pada suatu saat, Y.M. Maha Moggallana mengunjungi alam dewa. Ketika itu, Kathaka, satu dewa-muda, keluar dari tempat tinggalnya, pergi ke taman dengan sejumlah besar pengikut dan dengan potensi-dewa yang besar. Melihat Y.M. Maha Moggallana, dengan segera dia turun dari kendaraannya dan memberikan penghormatan. Dan Thera itu bertanya kepadanya :

  1. "Seperti rembulan ketika purnama, maharaja para bintang, yang bertanda-kelinci, dikelilingi oleh konstelasi, bergerak berkeliling."

  2. "Demikian pula tempat tinggal surgawi ini bersinar dengan keelokan di kota-dewa bagaikan matahari terbit."

  3. "Dari batu permata hijau-laut, dari emas, dan dari kristal serta perak, dipenuhi permata dan mata-kucing, dengan mutiara serta dengan batu rubi, ."

  4. "Lantai yang berwarna-warni, menyenangkan, dihiasi permata hijau-laut, dengan aula-aula berpinakel yang bagus dan indah, istanamu ditempa dengan baik."

  5. "Dan engkau memiliki kolam-kolam teratai indah yang sering didatangi ikan puthuloma, airnya berkilau jernih dibatasi pasir keemasan."

  6. "Tertutup dengan berbagai teratai, dengan lili air yang tersebar, menarik, dihembus angin sepoi mereka menebarkan keharuman yang menyenangkan ke sekeliling."

  7. "Di kedua sisinya terdapat semak yang diciptakan indah dengan pohon-pohon yang berbunga serta pohon-pohon yang berbuah."

  8. "(Ketika engkau) duduk bagaikan raja-dewa di atas dipan berkaki emas, di atas permadani kain yang lunak, para peri melayanimu."

  9. "Ditutupi beraneka hiasan, diperelok berbagai rangkaian bunga, mereka menggembirakan engkau yang memiliki kekuatan kesaktian besar; bahkan sebagai Vasavattin engkau bersukacita."

  10. "Dengan gendang, kerang, drum-ketel, kecapi dan tam-tam engkau dipenuhi kegembiraan ketika tarian, lagu, dan musik yang manis berlangsung."

  11. "Sungguh beraneka-macam bentuk surgawi ini, suara surgawi ini, juga citarasa serta wewangian yang menyenangkan, dan sungguh menyenangkan objek sentuhan ini."

  12. "Di Istana yang agung ini, sebagai dewa-muda dengan cahaya berkilau, engkau bersinar dengan keelokan bagaikan matahari terbit."

  13. "Apakah ini merupakan buah dari pemberianmu, atau sekali lagi dari kebiasaan moral, atau dari memberi hormat dengan tangan tertangkup? Ketika ditanya, jelaskanlah padaku."

  14. "Dewa muda itu, karena gembira ... mengenai tindakan apa yang menghasilkan buah ini."

  15. "Di kota besar Kapilavatthu tempat suku Sakya, aku dahulu adalah Kanthaka, kuda yang lahir berbarengan dengan putra Suddhodana."

  16. "Ketika di tengah malam Beliau pergi (untuk mencari) Pencerahan, dengan tangan yang lembut bak jaring dan dengan kuku berwarna tembaga."

  17. "Dia menepuk badanku dan bekata, ‘Antarkan aku, sahabat. Bila telah mencapai Pencerahan Tertinggi, aku akan membantu dunia menyeberang."

  18. "Ketika mendengar suaranya, aku merasakan sukacita yang besar; dengan pikiran yang terangkat, bersukacita, aku menringkik (menyetujui)."

  19. "Karena mengetahui bahwa putra Sakya, yang amat terkenal, telah naik di punggungku, maka dengan pikiran yang terangkat, bersukacita, aku mengantar manusia besar itu."

  20. "Setelah pergi melintasi wilayah lain, ketika matahari terbit, Beliau pergi melanjutkan perjalanan, tanpa kerinduan (apa pun), meninggalkan aku dan Chana."

  21. "Dengan lidahku, kujilat kaki dengan kuku berwarna tembaga itu, dan dengan menangis kupandangi pahlawan besar itu pergi."

  22. "Karena tidak melihat putra Sakya agung itu lagi, aku jatuh sakit keras, dan dengan cepat aku mati."

  23. "Dan lewat keagungannya itu saja, aku menghuni Istana surgawi ini di kota surgawi yang dilengkapi dengan segala macam kesenangan-indera."

  24. "Dan sukacita apa pun yang muncul di dalam diriku ketika mendengar tentang Pencerahan Beliau, lewat akar kebajikan itu pula aku akan mencapai hancurnya belenggu-belengu."

  25. "Jika engkau, Bhante yang terhormat, akan menghadap Sang Guru, Sang Buddha, dengan kata-kataku juga maukah engkau menyampaikan hormat di kakinya?"

  26. "Aku juga akan pergi menemui Sang Penakluk, manusia tanpa-tandingan; sungguh sulit menjumpai pelindung-pelindung dunia seperti Beliau."

  27. "Kemudian, dengan rasa terima kasih, waspada akan manfaat-manfaatnya, dia mendekati Sang Guru; ketika telah mendengar suara Manusia Yang Memiliki Visi, dia pun memurnikan Visi Dhammanya."

  28. "Termurnikan dari pandangan salah, keraguan dan kepercayaan tahayul, dia menghormat kaki Sang Guru, dan lenyap tepat di sana dan pada saat itu juga."

 

[Sumber: Vimanavatthu terbitan Wisma Sambodhi.]

 

 

Hits: 115