Category: Sutta Published: Tuesday, 02 January 2018

Serissakavimana- Istana Serissaka (Vv VII.10)

 

 

Setelah Yang Terberkahi mencapai Nibbana Akhir, Y.M. Kumara Kassapa bersama dengan lima ratus bhikkhu tiba di Kota Setavya. Di sana beliau meluruskan pandangan salah sang penguasa, Payasi, dan beliau memantapkan dia di dalam pandangan-pandangan benar. Sejak saat itu, dia menyukai tindakan jasa dan banyak memberi dana kepaeda para petapa dan brahmana. Walaupun demikian, dia memberi secara sembarangan karena tidak terbiasa dengan hal itu (sebelumnya). Setelah meninggal, dia terlahir lagi di dalam Istana kosong di hutan sirisa di tempat kediaman Empat Raja Besar. Dikatakan bahwa di masa lalu ada beberapa pedagang dari Anga-Magadha pergi ke Sindhu dan Sovira. Mereka menempuh perjalanan pada malam hari karena takut tersengat panasnya matahari. Akibatnya, mereka tersesat. Bersama pedagang-pedagang ini ada seorang umat awam yang memiliki keyakinan, dan sebenarnya memiliki persyaratan untuk mencapai tingkat Arahat. Dia bergabung dengan para pedagang itu untuk menopang orang tuanya. Untuk membantu orang ini, dewa-muda Serissaka menampakkan diri dengan Istananya bertanya kepada para pedagang bagaimana mereka sampai ke tempat yang tidak teduh, tak-berair, dan gurun berpasir itu. Mereka memberitahu dia. Untuk menjelaskan hubungannya, dua syair pertama dimasukkan oleh para pengulang teks.

  1. "Dengarkanlah di mana pertemuan yang terjadi antara yakkha dengan para pedagang dan bagaimana percakapan yang disampaikan dengan baik itu dilakukan dan kalian semua harus mendengarkannya."

  2. "Dia yang bernama Raja Payasi, pendamping dewa-bumi, yang terkenal, dia yang bersukacita di Istananya sendiri, makhluk yang bukan-manusia, berbicara kepada orang-orang itu."

  3. "Di hutan yang bengkok di mana tak seorang pun pergi, di gurun tak berair yang hanya ada sedikit untuk dimakan, di mana sangat sulit menempuh perjalanan di tengah jalur berpasir, dan di mana manusia bisa kehilangan akal sehatnya karena rasa takut akan ketidakpastian."

  4. "Di sini tidak ada buah-buahan atau akar-akaran. Tidak ada persediaan, maka bagaimana bisa ada makanan di sini? Tidak ada apa pun kecuali debu dan pasir dan sengatan panas yang tak kenal belas kasihan."

  5. "Tempat gersang bagaikan panci besi yang hangus, terampas dari kegunaannya bagaikan alam sana. Dulu itu merupakan pusat para bandit, tempat yang terkutuk."

  6. "Dan oleh penyebab dari keinginan apakah maka engkau terdorong ke tempat ini. Sesungguhnya, apakah engkau datang bergegas bersama-sama karena keserakahan, karena rasa takut, atau apakah engkau tersesat?"

 

Kemudian para pedagang itu berkata :

  1. "Sebagai manusia-karavan di Magadha dan Anga, kami memuat banyak barang untuk pergi Sindhu dan tanah Sovira, Karena membutuhkan kekayaan, mencari keuntungan."

  2. "Karena tak dapat menahan rasa haus pada siang hari dan karena mengasihani ternak kami, dengan kecepatan ini kami semua telah berjalan pada saat yang salah, pada malam hari."

  3. "Kami amat tersesat dan kehilangan jalan, kami bingung bagaikan orang buta tersesat di hutan. Di tengah jalur berpasir yang luar biasa sulit dilewati, pikiran kami kacau, kami tidak tahu arah."

  4. "Sekarang, setelah melihat apa yang belum pernah terlihat sebelumnya sebuah Istana yang bagus dan engkau, O, yakkha kini muncul lagi harapan untuk hidup; karena telah melihat (engkau) kami gembira, bahagia, bersukacita."

 

Sekali lagi dewa muda itu bertanya :

  1. "Dan hamparan pasir tak-berguna ini membentang melampaui lautan, dengan jalan setapak kasar yang diberi pancang-pancang untuk (dengan susah payah) dilewati dengan tali dari tanaman rambat; sekali lagi ada sungai-sungai dan tempat-tempat di antara batu karang itu yang tak dapat dimasuki –sungguh banyak tempat-tempat yang kau lalui demi kekayaan."

  2. "Memasuki wilayah kekuasan raja-raja lain, melihat orang-orang dari negeri lain, apa pun yang sudah engkau dengar atau yang juga sudah engkau lihat, mengenai keajaiban ini, sahabat-sahabat yang baik, kami akan mendengar darimu."

 

Para pedagang itu, karena ditanya demikian oleh dewa-muda itu, berkata :

  1. "Tak ada yang lebih ajaib daripada ini, pangeran, yang telah kami dengar atau yang telah kami lihat; melebihi semua hal dunia, kami tidak pernah lelah memandang keelokanmu yang sempurna."

  2. "Kolam-kolam teratai senantiasa mengalir di udara, melimpah bunganya, dengan banyak teratai putih, dan pohon-pohon yang selalu berbuah ini mengeluarkan bau wangi yang amat harum ke sekeliling."

  3. "Seratus pilar dengan batu permata hijau-laut menjulang tinggi dan dudukan panjang dari kristal-karang dan koral, dari batu mata-kucing dan rubi, pilar-pilar ini terbuat dari permata-permata yang gemerlap."

  4. "Seribu pilar yang keagungannya tak tertandingi, Istana yang indah ini memahkotainya. Di dalamnya terdapat berbagai permata, susuran tangganya terbuat dari emas; Istana itu tertutup indah oleh piringan-piringan berkilau."

  5. "Istana ini, yang bersinar bagaikan emas cair dari sungai Jambona, dengan teras-teras dan anak tangga serta landasan yang digosok baik, kuat, dan elok serta dipasang dengan sangat bagus, sungguh amat menyenangkan dan menggembirakan."

  6. "Di dalam (Istana) yang penuh permata ini terdapat makanan dan minuman yang melimpah. Dikelilingi oleh sekelompok peri, dengan suara berbagai gendang-ketel, gendang, instrumen musik, engkau dihormati dengan penghormatan dan pujian."

  7. "Dimeriahkan sekelompok perempuan di teras megah Istana yang menyenangkan itu, engkau yang memiliki kemegahan tak-terbayangkan diperlengkapi dengan segala yang bagus, bersenang-senang bagaikan Raja Vessavana di Nalini."

  8. "Nah, apakah engkau dewa ataukah yakkha ataukah raja para dewa dalam bentuk manusia? Para pedagang, manusia-karavan, bertanya kepadamu. Beritahukanlah namamu. Apakah engkau yakkha?"

 

Dewa-muda itu sekarang memperkenalkan dirinya dan berkata :

"Saya adalah yakkha bernama Serissaka. Saya adalah penjaga jalur-jalur berpasir di gurun. Saya mengawasi bagian di sana dan kemudian di sini, melaksanakan perintah Raja Vessavana."

 

Kemudian para pedagang bertanya tentang tindakan-tindakannya :

"Secara kebetulan saja didapat olehmu ataukah muncul sebagai penggenapan ataukah dirangkai olehmu atau diberi oleh para dewa? Para pedagang, manusia-karavan, bertanya kepadamu : bagaimana kesenangan ini didapat olehmu?"

 

Dewa-muda itu menolak empat pilihan ini, dan menyampaikan syair yang menunjukkan bahwa penyebabnya hanyalah tindakan jasa saja.

"Bukan secara kebetulan didapat olehku, bukan pula muncul sebagai penggenapan, bukan juga dirangkai olehku atau bahkan diberi oleh para dewa. Melalui tindakan-tindakan jasaku sendiri yang tak-ternodalah maka kesenangan ini didapat olehku."

 

Para pedagang pun bertanya tentang sifat tindakan jasa itu :

"Apakah sumpahmu atau cara hidup Brahma-mu? Latihan baik apakah yang menghasilkan buah ini? Para pedagang, manusia-karavan, bertanya kepadamu : bagimana istana ini didapat olehmu?"

 

Dewa-muda itu sekali lagi menolak (pilihan-pilihan) ini, tetapi dia menjawab untuk meunjukkan kumpulan dari tindakan jasanya sendiri, dia berkata :

  1. "Nama saya Payasi. Ketika berkuasa atas suku Kosala, saya dahulu adalah seorang nihilis, yang kikir, berkebiasaan buruk, dan pada waktu itu saya adalah seorang anihilasionis."

  2. "Ada seorang petapa, Kumarakassapa, manusia yang telah mendengar banyak, pembicara yang hebat, yang luar biasa. Untukku, beliau memberikan khotbah Dhamma, beliau menghalau pandangan-pandangan salah dariku."

  3. "Setelah mendengarkan khotbah Dhamma beliau, saya menyatakan diri sebagai umat awam : saya menjauhkan diri dari membunuh makhluk hidup, saya menghindar dari mengambil di dunia ini apa pun yang tidak diberikan, saya tidak minum minuman keras, dan saya tidak berbicara bohong, serta puas dengan istriku sendiri."

  4. "Itulah sumpahku dan kehidupan Brahma-ku. Praktek kebajikan itulah yang menghasilkan buah ini. Melalui tindakan-kebajikan ini juga, yang tidak jahat, yang penuh jasa, maka Istana ini didapat olehku."

 

Para pedagang itu setelah melihat dewa-muda dan Istananya, serta karena memiliki keyakinan pada buah dari tindakan– menyampaikan dua syair yang menyampaikan keyakinan mereka sendiri sehubungan dengan buah dari tindakan :

  1. "Sesungguhnya, manusia-manusia bijaksana membicarakan kebenaran. Tidak berbeda pula kata-kata para petapa. Ke mana pun seorang pelaku tindakan jasa pergi, di sana dia bersukacita sesuai keinginan hatinya."

  2. "Di mana pun ada kesedihan dan ratap tangis, kematian serta ikatan dan kesengsaraan, ke sanalah pelaku kejahatan pergi, dan tak pernah dia terbebas dari kelahiran yang buruk."

 

Ketika hal ini sedang dibicarakan, satu kelopak buah sirisa yang masak jatuh dari pohon di gerbang Istana dan dewa-muda itu tampak sedih. Ketika melihatnya, para pedagang itu menyampaikan sebuah syair :

"Kelompok dewa tampaknya seperti orang bingung dan pada saat ini terganggu seolah-olah terbelenggu di lumpur, Pangeran, kapankah datangnya rasa tidak puas padamu dan pada kelompok ini?"

 

Ketika mendengar ini dewa-muda itu berkata :

  1. "Hutan-hutan sirisa ini, tuan-tuan yang baik, menebarkan ke sekelilingnya bau wangi surgawi yang harum; wewangian ini dihembuskan ke dalam Istana, siang dan malam menghalau kesedihan."

  2. "Dari sini, setelah (setiap) seratus tahun telah berlalu, satu kelopaknya terbuka. Seratus tahun-manusia telah berlalu sejak saya muncul di sini di kelompok (dewa) ini."

  3. "Karena mengerti bahwa saya –yang hidup di istana ini selama lima ratus tahun– tuan-tuan yang baik, akan meninggal pada saat habisnya masa hidup (-ku), pada saat habisnya tindakan jasa (-ku), maka saya terbius kesedihan."

 

Untuk menghiburnya, para pedagang itu berkata :

"Bagaimanakah seseorang seperti engkau bersedih, engkau yang telah sedemikian lama memiliki Istana yang tak ada duanya ini? Tentunya hanya mereka yang miskin tindakan jasa sehingga telah muncul di (keadaan) yang lebih buruk sajalah yang harus bersedih?"

 

Dewa-muda itu merasa terhibur dan menerima kata-kata mereka. Dia pun menyampaikan sebuah syair :

"Sungguh cocok bagiku peringatan ini, dan kata-kata yang kalian sampaikan adalah kata-kata penghormatan bagiku. Tetapi sekarang, tuan-tuan yang baik, dengan dijaga olehku, berangkatlah kalian menuju tempat aman yang kalian inginkan."

 

Para pedagang itu menyampaikan syair ini untuk menunjukkan rasa terima kasihnya :

"Setelah kami tiba di tanah Sindhu dan Sovira karena membutuhkan kekayaan, mencari keuntungan, dengan dana melimpah yang sesuai kami akan memberi penghormatan besar kepada Serissa."

 

Tetapi dewa-muda itu menolak persembahan yang besar itu. Memberikan petunjuk tentang yang harus dilakukan, dia menyampaikan suatu syair :

"Jangan memberi hormat kepada Serissa; semuanya akan menjadi kenyataan bagi kalian seperti yang kalian katakan; (tetapi) kalian harus menghindari tindakan-tindakan jahat dan bertekad kuat untuk mempraktekkan Dhamma."

 

Untuk menunjukkan orang yang menjadi teladan dan untuk memuji sifat-sifat umat awam yang ingin dia beri lebih banyak perlindungan dan keselamatan itu, dewa-muda itu menyampaikan syair-syair ini :

  1. "Ada seorang umat awam di kelompok ini, yang terpelajar, yang menjalankan latihan-latihan moral dan sumpah, yang memiliki keyakinan, yang dermawan dan penuh cinta kasih, berakal-sehat, berpuas hati, dan bijaksana."

  2. "Dia tidak akan berbicara bohong dengan sengaja, dia tidak akan merencanakan kerugian orang lain, tidak juga berbicara memfitnah dan memecah-belah, melainkan bertutur kata lembut dan ramah."

  3. "Penuh hormat, menghargai, terlatih, tidak jahat, bersih dalam moralitas yang lebih tinggi. Dan dia, manusia dengan kehidupan agung ini, memantapkan ibu dan ayahnya di dalam Dhamma."

  4. "Pada hemat saya, dia mencari kekayaan untuk orang tuanya, bukan untuk dirinya sendiri, dan setelah orang tuanya tidak ada lagi, dia cenderung akan meninggalkan keduniawian dan berjalan dalam jalan-Brahma."

  5. "Lurus, tidak bengkok, tidak licik, tidak menipu, dia tidak akan menyelesaikan apa pun dengan berpura-pura. Orang semacam ini, pelaku tindakan-tindakan yang dijalankan dengan baik, yang kokoh di dalam Dhamma, bagaimana dia bisa memperoleh penderitaan?"

  6. "Untuk alasan inilah saya telah menampakkan diri. Oleh karenanya, wahai para pedagang, kalian harus melihat Dhamma. Seandainya tidak ada dia, kalian mungkin sudah menjadi abu di sini, bingung bagaikan orang buta yang tersesat di hutan sehingga mudah diserang orang lain; sungguh membahagiakan bertemu dengan orang yang baik."

 

Para pedagang itu bertanya lebih lanjut mengenai orang yang dibicarakan secara umum itu :

"Siapakah orang itu dan apa pekerjaannya, siapakah namanya dan apa sukunya? Kami pun, O, yakkha, ingin sekali melihat dia yang menyebabkan engkau datang kemari karena belas kasihan; sungguh hal ini merupakan keuntungan bagi orang yang engkau sayangi itu."

 

Dewa-muda itu memberikan penjelasan tentang nama dan sukunya :

"Tukang cukur yang bernama Sambhava, seorang umat awam, yang hidup lewat sikat dan pisau, apakah kalian mengenal orang yang merupakan pelayan kalian ini? Kalian janganlah mengejekku, karena dia memang orang yang baik."

 

Para pedagang mengenalinya dan berkata :

"Kami memang mengenal orang yang engkau bicarakan itu, O, yakkha, tetapi kami tidak mengetahui bahwa dia itu demikian halnya. Sekarang kami pun akan memberi hormat kepadanya, O, yakkha, setelah mendengar kata-katamu yang agung."

 

Setelah mengajak mereka masuk ke Istananya, dewa-muda itu menyampaikan satu syair untuk menggugah mereka :

"Siapa pun manusia yang ada di karavan ini – muda, tua, dan mereka yang berusia tengah-baya, biarlah mereka semua naik ke Istana, biarlah mereka yang kikir melihat buah dari tindakan jasa."

 

Dan sebagai penutup para pengulang teks menyampaikan enam syair :

  1. "Semua yang ada di sana berkata, “Aku dulu”, (tetapi) setelah menempatkan tukang cukur itu di depan, semua pun naik ke Istana yang mirip Masakkasara-nya Vasava."

  2. "Semua yang ada di sana berkata, “Aku dulu”, dan mengumumkan statusnya sebagai pengikut-awam; mereka menjauhkan diri dari perbuatan membunuh makhluk hidup, mereka menghindar mengambil di dunia ini apa pun yang tidak diberikan, mereka tidak minum minuman keras dan tidak berucap bohong, serta mereka masing-masing puas dengan istrinya sendiri."

  3. "Semua yang ada di sana berkata, “Aku dulu”, dan mengumumkan statusnya sebagai pengikut-awam; karavan itu pun melaju cepat dengan sukacita yang berulang-ulang berkat kekuatan kesaktian yakkha itu dan dengan persetujuannya."

  4. "Mereka pergi ke tanah Sindhu dan Sovira karena membutuhkan kekayaan, mencari keuntungan, dan kemudian kembali dengan aman ke Pataliputta setelah usaha mereka selesai dengan keuntungan yang melimpah."

  5. "Masing-masing berjalan aman ke rumahnya sendiri, bersatu kembali dengan anak dan istri mereka, bersukacita, bahagia, gembira. Kemudian mereka melakukan festival besar untuk menghormat Serissa, dan membangun tempat tinggal Serissaka."

  6. "Demikianlah sifat dari berhubungan dengan orang-oranag baik. Sungguh memberikan keuntungan yang besar bila berhubungan dengan mereka yang memiliki kualitas-kualitas dalam Dhamma. Demi untuk satu umat awam semua makhluk menjadi bahagia."

 

[Sumber: Vimanavatthu terbitan Wisma Sambodhi.]

 

 

Hits: 95