Category: Sutta Published: Tuesday, 02 January 2018

Sunikkhittavimana - Istana Sunikkhitta (Vv VII.11)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savathi, di Hutan Jeta. Pada waktu itu, seperti yang dibicarakan di atas, Y.M. Maha Moggallana sedang mengunjungi alam-dewa, dan sampai di alam Tiga Puluh Tiga dewa. Seorang dewa-muda yang sedang berdiri di pintu Istananya sendiri mendekati Thera tersebut dengan penghormatan yang besar. Di masa lalu, setelah suatu stupa keemasan yang berukuran satu yojana dibangun di atas relik Buddha Kassapa, kelompok berunsur empat kadang-kadang pergi untuk memberikan persembahan. Seorang pengikut awam, setelah mempersembahkan bunga di sana, juga mengatur ulang beberapa persembahan lain yang diatur secara tidak karuan dan kemudian mempersembahkannya lagi. Dengan mengambil hal-hal itu sebagai objek meditasi dan mengingat kualitas-kualitas Sang Guru, dia menyimpan tindakan jasa ini di dalam hatinya. Ketika di kemudian hari dia meninggal, dengan kekuatan tindakan ini saja dia terlahir lagi di Istana keemasan duabelas yojana di alam Tiga Puluh Tiga dewa, dan sungguh banyak pengikutnya. Kemudian Y.M. Maha Moggallana bertanya kepadanya dalam syair-syair ini :

  1. "Sungguh tinggi Istana ini dengan tugu-tugu yang berhias permata, duabelas yojana kelilingnya, ada tujuh ratus aula berpinakel yang elok dan pilar-pilar batu permata hijau-laut indah yang dilapisi logam berkilau."

  2. "Di sana engkau berdiam dan minum serta makan sementara kecapi-kecapi surgawi melantunkan melodi. Di sini ada citarasa surgawi, lima jenis kesenangan indera, dan para perempuan yang berhias emas menari-nari."

  3. "Karena apakah maka keelokanmu sedemikian rupa? Karena apakah engkau sejahtera di sini dan di sana muncul apa pun yang merupakan kesenangan-kesenangan yang sesuai dengan hatimu?"

  4. "Saya bertanya kepadamu, dewa dengan keagungan yang besar, tindakan jasa apa yang telah engkau lakukan ketika terlahir sebagai manusia? Karena apakah maka keagunganmu cemerlang sedemikian rupa dan keelokanmu menyinari segala penjuru?"

 

Dewa-muda itu menyampaikan syair-syair tentang tindakan-tindakan yang telah dia lakukan. Untuk menjelaskannya, para pengulang teks berkata :

  1. "Dewa muda itu, karena gembira ditanya oleh Moggallana, ketika diberi pertanyaan menjelaskan perbuatan apa yang menghasilkan buah itu."

  2. "Setelah mengatur kembali rangkaian bunga yang tadinya diatur secara sembarangan, setelah menempatkannya di stupa Sang Buddha, saya (sekarang) memiliki kekuatan kesaktian yang besar dan keagungan yang luar biasa, dilengkapi dengan kesenangan-indera surgawi."

  3. "Karena inilah maka keelokanku sedemikian rupa, karena inilah maka saya sejahtera di sini dan di sana muncul apa pun yang merupakan kesenangan-kesenangan yang sesuai dengan hatiku."

  4. "Karena inilah keagunganku yang cemerlang sedemikian rupa dan keelokanku menyinari segala penjuru."

 

[Sumber: Vimanavatthu terbitan Wisma Sambodhi.]

 

 

Hits: 81