Category: Sutta Published: Wednesday, 03 January 2018

Dabba

 

 

Ia terlahir di Anupiya dalam keluarga bangsawan Suku Malla. Ibunya meninggal dunia pada saat melahirkan. Selagi berusia tujuh tahun, ia telah melihat Sang Guru menjunjungi kampung halamannya. Ia tertarik akan penambilan Sang Guru dan bertanya kepada neneknya apakah ia dapat melepaskan keduniawian dan mengikuti jejak Sang Guru. Kemudian sang nenek membawa cucunya menghadap Sang Guru dan memohon kepada Beliau untuk ditabhiskan. Dan dikarenakan kamma masa lampau dan keyakinan membawa pengaruh yang besar, maka Empat Kesunyataan Mulia telah direalisasi dengan baik. Karena itu lingkaran kehidupannya telah putus.

 

Setelah itu Sang Guru meninggalkan negeri Malla menuju Rajagaha. Kemudian Dabba bersamadhi sendirian, dan berteka dmengabdikan dirinya untuk melayani Sangha. Ia membawa waktu dengan tepat dalam hal berisitiraha dan bersantap. Sang Guru menyetujui tindakan Dabba. Kekuatan batin Dabba muncul dan menyinari tempat istirahat para bhikkhu dengan jarinya yang bersinar, seperti yang diceritakan dalam teks Pali.

 

Kemudian tanpa alasan yang jelas, para bhikkhu yang merupakan mengikut Mettiya dan Bhummajaka berusaha untuk menjelek-jelekkan Dabba. Kemudian mereka dihukum oleh Sangha. Dengan kebajikannya, Bhikkhu Dabba merasa kasihan kepada mereka dan memanjatkan syair ini :

"Sekali waktu sukar untuk ditaklukan, tetapi sekarang telah dapat ditaklukan.
Dabba tenang dan gembira karena semua belenggu telah bebas.
Sekarang Dabba menang, dan lepas dari segala ketakutan.
Dia sempurna dan setia dalam ketabahan."

 

Demikianlah Bhikkhu Dabba memanjatkan syairnya.

 

 

Hits: 115