Category: Sutta Published: Wednesday, 03 January 2018

YA Bhalliya (Thag I.7)

 

 

Bersama-sama dengan Bhikkhu Tapussa Thera, Bhaliya lahir pada masa Sammasambuddha, di kota Pokkharavati, sebagai putera seorang kusir kailah. Mereka memimpin kereta kafilah ke lapangan ruput di tengah hutan yang sejuk dan juga memeriksa tempat-tempat yang tidak baik untuk dilewati. Pada saat itu sesosok dewa pohon, yang merupakan salah satu dari sanak keluarganya menampakkan dirinya, dan berkata: "TUan-tuan, Sang Bhagava telah mencapai penerangan sempurna, dan selama tujuh minggu beliau berpuasa dalam pembebasan yang membahagiakan. Beliau duduk di akar Raja Pohon Keberuntungan. Layangilah Beliau dengan makanan. Pelayanan ini akan membawa kebajikan dan kebahagiaan pada diri kalian di masa yang akan datang." Dengan kegembiraan yang meluap-luap, tidak beberapa lama kemudian mereka menyiapkan makanan, juga kue-kue nasi dan madu. Mereka meninggalkan jalan raya, menghadap dan melayani Sang Bhagava.

 

Setelah Sang Bhagava memutar Roda Dhamma di Benares, Beliau tinggal di Rajagaja. Di sana Tapussa dan Bhalliya menunggu dan mendengarkan ajaran Beliau. Tapussa menjadi seorang upasaka. Bhalliya meninggalkan keduniawiaan dan menguasai enam bentuk Abhinna.

 

Pada suatu hari, Sang Mara muncul dihadapan Bhikkhu Bhalliya dalam wujud yang menakutkan. Bhikkhu Bhalliya menunjukkan bahwa ia telah mengatasi seluruh rasa takut dan memanjatkan gatha mengenai ketidaksenangan Mara :

"Siap saja yang telah menghalau Raja Kematian dan para pengikutnya.
Akan seperti banjir besar yang telah menghanyutkan bendungan alang-alang.
Ia adalah pemenang, dirinya telah terkendali. Ketakutan tidak pernah datang lagi.
Inilah tujuannya yang tertinggi, dan memanjatkan keteguhan hati."

 

Demikianlah Bhikkhu Bhalliya memanjatkan gathanya.

 

 

Hits: 19