Category: Sutta Published: Thursday, 04 January 2018

Serivanija Jataka (J 3)

 

 

Ajaran ini dibabarkan oleh Sang Buddha ketika berdiam di Savatthi, mengenai seorang laki-laki yang gagal dalam melaksanakan kehidupan suci. Kepada seorang laki-laki yang telah diceritakan dalam kisah sebelumnya, Sang Buddha berkata, "Andalah, wahai saudara yang telah memutuskan untuk melaksanakan Dhamma menuju Magga dan Phala (jalan dan hasil), kemudian gagal dalam menjalankannya, sehingga akan menderita dalam waktu yang amat lama, seperti seorang pedagang dari Seri yang kehilangan sebuah mangkok emas seharga seratus ribu keping uang.

 

Kemudian laki-laki tersebut meminta Sang Buddha untuk menjelaskan tentang kisah ini kepada mereka. Sang Buddha lalu menjelaskan kisah tersebut yang merupakan kisah pada kehidupan-Nya yang lampau.

 

Pada suatu masa di sebuah kota kerajaan Seri, lima kappa yang lalu, Bodhisatta lahir sebagai seorang pedagang kendi dan periuk, yang disebut Serivan, ditemani oleh pedagang lain yang serakah, menjual barang dagangan yang sama, yang juga dikenal sebagai Serivan. Ia datang dengan menyeberangi sungai Telavaha dan memasuki kota Andhapura. Kedua pedagang tersebut membagi wilayah menjadi dua bagian, pedagang yang satu mengedarkan barang dagangannya di wilayahnya, dan pedagang yang lain melakukan hal yang sama di wilayah satunya.

 

Di kota tersebut terdapat sebuah keluarga yang telah jatuh miskin. Sebelumnya mereka merupakan saudagar yang kaya raya, namun saat ini mereka telah kehilangan seluruh sanak keluarga dan harta kekayaannya. Satu-satunya hal yang tersisa hanyalah seorang gadis dan nenekyang membiayai hidu mereka dengan bekerja sebagai pekerja bayaran. Walaupun demikian di rumah mereka terdapat sebuah mangkuk emas yang merupakan peninggalan ketika mereka masih menjadi saudagar yang kaya raya. Mangkuk tersebut merupakan mangkuk yang biasa digunakan oleh kepala keluarga sebagai tempat makan. Namun, mangkuk tersebut sudah lama diletakkan di antara kendi dan periuk sehingga tidak dipakai lagi. Permukaannya tertutup kotoran, sehingga kedua wanita tersebut tidak mengetahui bahwa itu mangkuk emas.

 

Sang pedagang serakah mendatangi rumah mereka, dan berteriak, "Jual tempat air, jual tempat air!" Dan sang gadis, ketika mengetahui kedatangan pedagang itu berkata kepada neneknya, "Oh,nenek belikan aku perhiasan."

 

"Kita sangat miskin, sayangku, apa yang kita miliki untuk ditukarkan dengan perhiasan?"

 

"Ini merupakan sebuah mangkuk yang tidak berguna untuk kita. Mari kita tukarkan mangkuk ini."

 

Perempuan tua tersebut mengundang sang pedagang tersebut untuk masuk ke dalam rumah dan mempersilahkannya duduk, serta menyerahkan mangkuk tersebut sambil berkata, "Ambillah mangkuk ini tuan, dan berbaik hatilah seperti kepada saudara perempuanmu sendiri ketika memberikan suatu barang untuk ditukarkan."

 

Sang pedagang mengambil mangkuk itu, mengamatinya, dan menduga bahwa mangkuk itu adalah emas, menggores mangkuk tersebut dengan sebuah jarum. Setelah dia mengetahui dengan pasti bahwa mangkuk itu emas, ia berpikir untuk mendapatkan mangkuk itu secara cuma-cuma dari wanita itu, dengan berkata, "Berapa nilainya mangkuk ini? Mangkuk ini bahkan harganya tidak lebih dari setengah sen!"

 

Setelah berkata demikian, dia melempar mangkuk tersebut ke tanah, bangun dari tempat duduknya, dan meninggalkan rumah. Kemudian sesuai dengan perjanjian yang dibuat kedua pedagang bahwa pedagang yang satu akan menawarkan barang dagangannya di wilayah yang lain secara bergantian, Bodhisatta lalu menawarkan barang dagangannya di wilayah yang sama dan mendatangi rumah wanita yang sama, sambil berteriak, "Jual tempat air!"

 

Sekali lagi sang gadis mengajukan permintaan yang sama kepada neneknya dan wanita tua tersebut menjawab, "Sayangku, pedagang pertama telah melemparkan mangkuk kita ke tanah dan pergi begitu saja. Apa yang kita punya untuk ditukarkan sekarang?"

 

"Oh, pedagang tadi adalah orang yang kasar, nenekku sayang; sedangkan pedagang yang satu ini tampak sangat baik dan ramah. Dia dengan senang hati akan menerima mangkuk kita." "Jika begitu, undang dia masuk."

 

Kemudian mereka mengundang pedagang itu masuk, mempersilahkan duduk dan menunjukkan mangkuk tersebut kepadanya. Mengetahui bahwa mangkuk itu adalah emas, dia berkata, "Bu, mangkuk ini berharga seratus ribu keping uang, saya tidak sanggup membelinya."

 

"Tuan, pedagang yang datang pertama kali mengatakan bahwa mangkuk tersebut tidak berharga walau setengah sen pun, lalu dia melemparkannya ke tanah dan pergi begitu saja. Hal ini pasti merupakan kekuatan dari kebaikanmu sehingga mengubah mangkuk ini menjadi emas. Ambillah mangkuk itu, berikan kami sesuatu untuk ditukarkan dan pergilah sesuai dengan kehendakmu."

 

Saat itu Bodhisatta memiliki 500 keping dan sejumlah barang lainnya. Semua ia berikan kepada kedua wanita itu, dengan berkata, "Biarlah hanya tas saya, dan delapan keping uang yang saya bawa."

 

Sesuai dengan persetujuan mereka, Bodhisatta membawa tas dan uang bersamanya. Kemudian segera pergi menuju tepi sungai dan memberikan delapan keping uang kepada tukang perahu lalu menaiki perahu itu.

 

Selanjutnya, sang pedagang serakah kembali mendatangi rumah wanita tersebut dengan berkata akan memberikan suatu barang untuk ditukarkan. Namun, sang nenek keluar menemui pedagang tersebut sambil berkata, "Kamu membuat mangkuk emas kami yang berharga seratus ribu keping uang menjadi tidak berharga walau setengah senpun. Namun, datang seorang pedagang yang jujur (tuanmu, saya mengundangnya), yang memberikan kami seratus ribu keping uang dan membawa mangkuk itu bersamanya.

 

Seketika itu, pedagang serakah itu berseru, "Dia telah mencuri mangkuk emas yang harganya seratus ribu keping uang dariku, dia telah membuatku rugi dalam jumlah yang sangat besar." Disebabkan oleh kekecewaan yang mendalam yang menimpanya, ia kehilangan pengendalian diri bagaikan orang yang kehilangan ingatan.[113] Semua uang dan barang yang dibawanya dibuang ke depan pintu rumah tersebut, ia menanggalkan seluruh pakaiannya, dan mengambil sepotong kayu untuk dijadikan sebagai senjata, kemudian dia mencari Bodhisatta di tepi sungai. Mengetahui Bodhisatta sudah berada di seberang sungai, dia berteriak kepada tukang perahu agar kembali ke seberang sungai, namun Bodhisatta berkata kepada tukang perahu untuk tidak melakukannya. Sambil berdiri di tepi sungai dia menatap kepergian Bodhisatta. Kekecewaannya bertambah besar, hatinya menjadi panas, darah mengalir melalui bibirnya, dan hatinya pecah berhamburan seperti lumpur yang terinjak kereta, bagai matahari yang berhenti berpijar. Kebencian mendalam yang dipancarkannya kepada Bodhisatta membuatnya menderita saat itu dan di alam berikutnya. (Kejadian ini merupakan peristiwa pertama di mana Devadatta memiliki perasaan dendam terhadap Bodhisatta).

 

Sang Bodhisatta, setelah menjalankan hidupnya dalam kemurahan hati dan perbuatan baik lainnya, lalu meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi petapa.

 

Ketika Sang Buddha selesai membabarkan Ajaran-Nya, beliau mengemukakan syair berikut :

"Jika di dalam keyakinan, kau lengah dan lemah untuk mencapai tujuan akhir yang telah diajarkan. Kemudian, bagaikan sang pedagang yang disebut Serivan. Kau akan menyesali hasil dari kebodohanmu dalam waktu yang sangat lama."

 

Setelah selesai menyampaikan nasehat dengan syair tersebut sebagai petunjuk untuk mencapai ke-Arahat-an, Sang Guru menjelaskan Empat Kebenaran Mulia. Pada akhir khotbah, laki-laki tersebut mencapai kesucian tingkat Arahat.

 

Setelah menceritakan dua kisah tersebut, Sang Guru membuat hubungan di antara ke dua cerita tersebut, dan memberitahukan bahwa, "Saat itu, pedagang yang serakah adalah Devadatta dan Saya sendiri adalah pedagang yang jujur."

 

[Sumber Asli: JatakaStories, translated into english by W.H.D. Rouse, M.A.
Dikutip dari Majalah Dhammacakka No.32/Tahun IX/ 2003.]

 

 

Hits: 118