Category: Sutta Published: Thursday, 04 January 2018

Katthahari Jataka (J 7)

 

 

"Aku adalah Putramu"

Kisah ini diceritakan oleh Sang Bhagava ktika berada di Jetavana berkenaan dengan kisah mengenai Vasabha Khattiya, yang terdapat di buku keduabelas dalam Bhaddasala Jataka.

 

Menurut sebuah tradisi dikisahkan bahwa dia adalah putri dari Mahanama Sakka dengan seorang pelacur bernama Nagamuda, yang kemudian menjadi istri dari raja Kosala. Dia memiliki seorang putra dengan Sang Raja, namun ketika raja mengetahui asal-usulnya sebagai keturunan seorang pelacur, raja menurunkan statusnya dari posisi seorang permaisuri, juga status putranya Vadudhaba. Sejak itu, ibu dan anak tersebut tidak pernah keluar dari istana.

 

Mendengar hal ini, Sang Bhagava bersama lima ratus anggota Sangha (134) mendatangi istana ketika fajar menyingsing dan duduk di tempat yang telah disediakan untuk-Nya, lalu berkata, "Baginda, dimanakah Vasabha Khattiya?"

 

Kemudian raja menceritakan apa yang terjadi :

"Baginda, putri siapakah Vasabha Khattiya itu?"
"Putri Mahanama, Yang Mulia"
"Ketika ia datang, kepada siapakah ia dijadikan istri?"
"Kepada Saya, Yang Mulia."

 

"Baginda, dia adalah putri seorang raja, dengan raja pula ia menikah dan untuk seorang raja pula dia melahirkan putranya. Oleh karena itu, apakah anak tersebut tidak berhak atas tahta kerajaan yang diperintahkan oleh ayahnya sendiri? Pada kehidupan yang lampau, seorang raja bersedia memberikan kekuasaannya kepada putra hasil hubungannya di luar nikah dengan seorang pencari kayu."

 

Raja meminta kepada Sang Buddha untuk menjelaskan tentang hal ini. Sang Buddha menceritakan secara jelas apa yang telah terjadi pada kelahirannya yang lampau.

 

Pada suatu masa di Benares, Raja Brahmadatta sedang melakukan suatu perjalanan untuk bersenang-senang. Saat raja mengumpulkan buah-buahan dan bunga di hutan, datang seorang wanita dengan riang bernyanyi sambil mengumpulkan kayu di hutan tersebut. Karena jatuh cinta pada pandangan pertama, Sang Raja melakukan hubungan intim dengan wanita itu dan Bodhisatta bertumimbal lahir dalam rahim wanita tersebut. Merasa tubuhnya sangat berat, wanita tersebut mengetahui bahwa dirinya akan menjadi seorang ibu, mengatakan hal ini kepada Sang Raja. Kemudian raja memberikan cincin bertanda kerajaan pada wanita tersebut dan sebelum pergi berkata kepada wanita itu, "Bila anak itu perempuan, juallah cincin itu untuk biaya hidupnya, namun bila anak itu laki-laki, bawa cincin dan anak itu kepadaku."

 

Ketika waktunya sudah tiba, wanita itu melahirkan Sang Bodhisatta. Dan ketika anak tersebut sedang bermain di sebuah taman bermain, terdengar suara tangisan, "Tidak ada ayah yang mengakuiku!" Mendengar hal ini, Bodhisatta berlari menuju ibunya dan bertanya siapakah ayahnya.

 

"Engkau adalah putra dari seorang Raja Benares, anakku."

 

"Putraku, sebelum pergi, Sang Raja memberikan cincin pertanda kerajaan ini dan berkata, `bila anak itu perempuan, juallah cincin ini untuk biaya hidupnya. Namun bila anak itu laki-laki, bawalah cincin dan anak itu kepadaku'"

 

"Lalu, mengapa kau tidak membawaku pada ayahku, Ibu?"

 

Mengetahui pemikiran anaknya sudah cukup dewasa, wanita itu membawa putranya menuju gerbang kerajaan dan meminta agar kedatangan mereka disampaikan kepada raja. Setelah dipersilahkan masuk, mereka masuk dan membungkukkan badan di hadapan raja sebagai tanda penghormatan, dan wanita itu berkata, "Ini adalah putramu, Baginda."

 

Sang Raja mengetahui dengan baik bahwa wanita itu mengatakan dengan sesungguhnya, namun karena merasa malu kepada semua yang hadir saat itu membuatnya ia menjawab, "Dia bukanlah putraku."

 

"Tapi cincin ini milikmu, Baginda, Anda pasti mengenali cincin ini."

 

"Cincin itu juga bukan milikku."

 

Kemudian wanita itu berkata, "Baginda, saya tahu bila saya tidak memiliki saksi untuk membuktikan kata-kata saya, selain cincin itu untuk menunjukkan kebenaran. Oleh sebab itu, apabila Baginda adalah ayah dari anak saya, semoga anak ini tetap melayang ke udara; dan apabila baginda bukan ayahnya, semoga ia jatuh ke tanah dan terbunuh."

 

Setelah mengucapkan hal itu, ia melemparkan Sang Bodhisatta ke udara dengan kakinya.

 

Dengan melayang ke udara dalam posisi duduk bersila, Bodhisatta dengan suara yang lembut mengucapkan sebuah syair untuk ayahnya, menyampaikan suatu kebenaran :

"Aku adalah putramu, wahai Raja Agung, akuilah diriku Baginda. Sang Raja melindungi rakyatnya, terlebih lagi putranya."

 

Mendengar Sang Bodhisatta menyampaikan kebenaran kepadanya di udara, Sang Raja merentangkan kedua tangannya dan berkata, "Datanglah padaku, wahai putraku! Tidak ada orang lain lagi yang harus mengakui dan melindungimu selain Aku!"

 

Ribuan orang membentangkan tangannya untuk menyambut Sang Bodhisatta, namun hanya menuju lengan ayahnya ia turun dan duduk di pangkuan Sang Raja dinobatkan sebagai raja muda, dan ibunya sebagai permaisuri. Ketika ayahnya wafat, ia dinobatkan sebagai raja dengan nama Raja Katthavahana seorang pengumpul kayu - setelah memerintah kerajaannya dengan adil, ia kemudian meninggalkan kehidupan duniawi menjadi seorang petapa.

 

Setelah selesai membabarkan kisah tersebut, Sang Buddha membandingkan dengan kejadian yang menimpa Raja Kosala, lalu Beliau membuat hubungan di antara kedua kisah tersebut, dan berkata, "Mahamaya adalah Sang Ibu dari Bodhisatta waktu itu, Raja Sudhodana adalah Sang Ayah, dan Saya sendiri adalah Raja Katthavahana."

 

[Sumber Asli: JatakaStories, translated into english by W.H.D. Rouse, M.A.
Dikutip dari Majalah Dhammacakka No.31/Tahun IX/ 2003. Diterjemahkan oleh Dhanariyo.]

 

 

Hits: 102