Category: Sutta Published: Thursday, 04 January 2018

Aramadusaka Jataka (J 46)

 

 

Kisah ini diceritakan oleh Guru Agung disebuah pondok di Kosala mengenai seseorang yagn merusak lingkungan. Dikisahkan, dalam perjalanan mengumpulkan dana makanan di Kosala, Guru Agung mengujungi sebuah pondok. Tuan rumah pondok tersebut mengundang Sang Buddha untuk makan siang di tempatnya, dan menawarkan tamunya duduk di kebun, di mana Ia menunjukkan ketulusan hatinya bagaikan keluarga degnan menjunjung tinggi Beliau, dan dengan penuh rasa hormat mempersilakan mereka mengelilingi kebunnya.

 

Kemudian mereka berdiri dan berkeliling di sekitar kebun bersama tukang kebun tersebut. Melihat lingkungan yang tandus, mereka menanyakan kepada tukang kebun. "Pengikut awam, ditempat lain terdapat kebun teduh yang bagus, tetapi ditempat ini tidak ada pogon maupun semak. Bagaimana hal ini terjadi?" "Tuan-tuan," ia menjawab; "Ketika daerah ini direncanakan, pria desa yang melakukan penyiraman, mencabut seluruh pohon muda di sekitar sini dan kemudian menyirami air sesuai dengan ukuran akarnya. Sehingga pohon-pohon muda tersebut kering dan mati; menyebabkan daerah ini menjadi tandus."

 

"Ketika berada di dekat Guru Agung, Beliau menyampaikan hal ini. "Ya saydaraku", ini bukanlah pertama kali pria desa itu merusak lingkungan; ia telah melakukan hal yang sama di waktu yang lampau." Dan kemudian, Beliau menyampaikan kisah lampau ini.

 

Pada suatu masa ketika Brahmadatta adalah raja Benares, sebuah acara perayaan di tengah kota diumumkan; dan pesta perayaan tersebut dipenuhi oleh rakyat yang datang berduyun-duyun untuk menikmati hari libur mereka.

 

Pada saat itu, suka bangsa kera sedang berdiam di kebun raja; dan seorang tukang kebun raja berpikir, "Mereka mengadakan pesta hari libur di tengah kota. Saya akan menyurun kera-kera tersebut menyiram kebun dan saya sendiri beristirahat menikmati liburan." Kemudian, ia mendatangi raja kera, dan menceritakan keuntungan-keuntungan yang ia dapatkan di lingkungan kebun dengan menikmati bunga-bunga dan mencicipi buah-buahan dan tunas-tunas muda, kemudian ia berkata, "Hari ini ada pesta diselenggarakan di kota, dan asya ingin beristirahat. Bisakah engkau menyirami pohon-pohon muda tersebut setelah saya pergi?" "Oh! ya," jawab sang kera.

 

"Lakukan apa yang kamu pikirkan," kata tukang kebun; dan sebelum pergi memberikan air yang dangkal dan ember kayu kepada kera tersebut untuk melakukan pekerjaannya.

 

Kemudian kera-kera tersebut mengambil air dengan ember, dan menebang untuk menyirami pohon-pohon muda. "Tetapi kita harus menghemat air," kata raja kera; "pertama-tama cabut setiap pohon muda dan lihat ukuran akarnya. Kemudian sirami air yang banyak pada akar yang tertancap dalam, tetapi berikan sedikit saja untuk akar yang kecil. Bila air ini sudah habis, kita akan sulit mencabutnya.

 

"Baik," kata kera-kera yang lain, dan melakukan sesuai yang diperintahkan.

 

Pada saat itu seorang bijaksana, melihat dan mendekati kera-kera tersebut, menanyakan mengapa merka mencabut pohon-pohon tersebut dan menyiraminya sesuai ukuran akarnya.

 

"Karena ini adalah perintah raja kami," jawab kera-kera tersebut.

 

Jawaban mereka membuat orang bijaksana tersebut merenungi, dengan keinginan untuk berbuat baik, mereka yang bodoh dan lalai hanya akan melakukan kesalahan dan beliau mengucapkan syair ini :

"Ilmu pengetahuan membawa keberhasilan.
Mereka yang bodoh akan dirintangi oleh kebodohannya sendiri.
Bagaikan menyaksikan kera-kera memusnahkan pohon-pohon di kebun."

 

Setelah memberitahu raja kera, orang bijaksana beserta pengikut-Nya meninggalkan kebun tersebut.

 

Guru Agung berkata, "Ini bukanlah yang pertama kali, saudaraku, pria desa ini merusak lingkungan; ia telah melakukan hal yang sama di waktu yang lampau juga." Beliau mengakhiri penjelasan-Nya, dan menjelaskan hubungan mereka pada kelahiran lampau." Pria desa yang telah merusak kebun ini adalah raja kera pada saat itu, dan Saya sendiri adalah orang baik dan bijaksana tersebut.

 

[Sumber Asli: JatakaStories, translated into english by W.H.D. Rouse, M.A.
Dikutip dari Majalah Dhammacakka No.37/Tahun XI/ 2005.]

 

 

Hits: 13