Category: Sutta Published: Thursday, 04 January 2018

Vanarinda Jataka (J 57)

 

 

"Siapa saja, O raja monyet." - Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru, ketika berdiam di Veluvana, mengenai usaha Devadatta untuk membunuh Beliau. Ketika mendapatkan informasi mengenai tujuan pembunuhan yang dilakukan oleh Devadatta, Sang Guru berkata, "Kejadian ini bukanlah yang pertama kali, para Bhikkhu, Devadattha berusaha mencari kesempatan untuk membunuh saya; dia juga telah melakukan hal yang sama pada masa yang lampau, tetapi keinginannya yang jahat selalu gagal. Dan setelah berkata demikian, Beliau menceritakan kisah di masa yang lampau ini.

 

Pada suatu ketika, ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisattva terlahir kembali sebagai seekor monyet. Ketika telah tumbuh dewasa, ia sebesar kuda betina yang sedang hamil dan mempunyai kekuatan yang luar biasa. Ia hidup sendirian ditepi sungai, dimana pada pertengahan sungai itu terdapat satu pulau kecil yagn tumbuh banyak pohon mangga, dan pohon-pohon buah yang lainnya.

 

Di pertengahan arus sungai, diantara pulai kecil itu dan tepi sungai, suatu batu karang yang terpencil beraedae diatas permukaan air. Dengan kekuatan bagikan seekor gajah, Bodhisattva selalu melompat dari tepi sungai menuju pulau itu. Dengan hal ini, dia memenuhi keingiannya untuk makan buah-buahan yang tumbuh di pulau, dan kembali pada sore hari dengan cara yang sama. Dan demikianlah kehidupan yang dijalankannya sehari-hari.

 

Nah, pada waktu itu, hidup seekor buaya, dan pasangnnya didalam sungai itu. Dan sang istri, yang sedang mengandung melihat bayangan Bodhisattva yang berpergian mondar-mandir, berkeinginan untuk memakan hati monyet. Maka dia meminta kepada suaminya untuk menangkap monyet itu untuknya. Karena keinginan untuk mengabulkan angan-angan istrinya, buaya jantan itu pergi dan mengambil tempat diatas batu karang, bermaksud menangkap sang monyet pada saat kemabli ke tempatnya pada sore hari.

 

Setelah bepergian mengelilingi pulau selama seharian, pada sore harinya, Bodhisattva melihat batu karang itu dan ingin tahu mengapa batu karang itu terlihat bertambah tingginya dibandingkan dengan permukaan air. Hal tersebut dikarenakan Bodhisattva selalu menandakan ketinggian air yang tepat dalam sungai itu, dan batu karang yang berada dalam sungai itu. Maka, ketika sang monyet melihat hal tersebut, meskipun ketinggian air berada pada posisi yang sama, tetapi batu karang itu terlihat bertambah tinggi dibandingkan dengan permukaan air, dia menduga bahwa seekor buaya mungkin bersembunyi di sana untuk menangkapnya. Dan, dalam keinginannya untuk mendapatkan fakta penyebab kejadian itu, sang monyet berseru, seolah-olah memanggil batu karag, "Hai batu karang!" Dan tidak terdapat jawaban, maka sang monyet mengulangi sebanyak tiga kali, "Hai, batu karang!" Dan batu karang masih diam juga, sang monyet berseru lagi, "Apakah yang terjadi, sahabatku batu karang, sehingga anda tidak memberikan jawaban kepada saya pada hari ini?"

 

"Oh! Sang buaya berpikir; "Jadi, kebiasaan batu karang adalah memberikan jawaban kepada monyet itu. Saya harus memberikan jawaban untuk batu karang sekarang, "Karena hal tersebut, sang buaya berseru, "Ya, monyet; ada apakah? "Siapakah anda?" tanya Bodhisattva. "Saya adalah seekor buaya." "Mengapa anda berada pada batu karang itu?" "Untuk menangkap dan memakan hati anda." Karena tidak terdapat jalan keluar, maka hanya satu hal yang dapat dilakukan untuki memperdaya sang buaya, maka Bodhisattva berseru. "Karena tidak terdapat jalan keluar bagi saya, selain memberikan diri saya sendiri kepada anda. Buka mulut anda dan tangkap saya ketika saya melompat."

 

Nah, anda harus mengetahui bahwa ketika seekor buaya membuka mulutnya, maka matanya akan terpejam. Jadi sang buaya membuka mulutnya tanpa rasa curiga dan matanya menjadi terpejam. Dan sang buaya menunggu di atas batu karang dengan mata yang terpejam dan mulut terbuka. Melihat keadaan ini, sang monyet yang cerdik melompati kepala sang buaya, dan kemudian, dengan terjangan seperti cahaya, mencapai tepi sungai. Pada saat kecerdikan perbuatan ini tidak terduga oleh sang buaya, maka ia berkata, "monyet, ia yang memiliki empat kebajikan dalam dunia ini, maka ia dapat mengalahkan musuh-musuhnya. Dan kelihatannya, anda memiliki empat kebajikan semuanya". Dan setelah berkata demikian, sang buaya mengulangi bait ini :

"Siapa saja, O raja monyet, seperti anda, yang menggabungkan kebenaran, pandangan luas, keteguhan hati yang kokoh, dan keberanian, akan mengalahkan musuhnya secara total dan membuat mereka lari."

 

Dan dengan pujian terhadap Bodhisattva ini, sang buaya kembali ke tempat kediamannya sendiri.

 

Sang Guru berkjata, "kejadian ini bukan yang pertama kali, para bhikkhu, Devadatta berusaha mencari kesempatan untuk membunuh saya; dia juga telah melakukan hal yang sama pada masa yang lampau." Dan, setelah mengakhiri pelajaran ini, Sang Guru menunjukkan hubungan dan mengenai Kelahiran Kembali dan berkata, "Devadatta adalah sang buaya pada waktu itu, Brahmani Chica adalah istri sang buaya, dan saya sendiri adalah Raja Monyet." (Bodhinana)

 

[Dikutip dari Majalah Dhammacakka No.6/Tahun III/ 1997.]

 

 

Hits: 114