Category: Sutta Published: Thursday, 04 January 2018

Nangalisa Jataka (J 123)

 

 

“Untuk Penerapan Umum”

 

Kisah ini diceritakan oleh Guru Agung kita ketika berada di Jetavana, mengenai saudara Laludayi yang memiliki kebiasana selalu mengucapkan hal-hal yang salah. Ia tidak pernah mengetahui waktu yang tepat untuk menyampaikan ajaran. Misalnya, pada saat perayaan, ia menyampaikan hal-hal yang sedih, “Tanpa daya mereka mengintai, di tempat-tempat persimpangan jalan.” Pada saat acara pemakaman, ia akan kegirangan “Kebahagiaan mengisi hati para dewa dan manusia,” atau “Oh, semoga engkau melihat (447) ratusan, bahkan ribuan hari-hari yang indah!”

 

Sekarang pada suatu hari sepasang kakak beradik di sebuah ruangan menanyakan keanehan dan kebiasaan berucap salah. Setelah mereka duduk, Guru Agung masuk, dan menjawab pertanyaan yang sedang mereka bicarakan.

 

Pada suatu masa ketika Brahmadatta berdiam di Benares, Bodhisattva terlahir dalam keluarga brahmana yang kaya raya, dan ketika dewasa memiliki banyak pengetahuan dan menjadi ilmuwan terkenal yang mengajar lima ratus brahmana muda.

 

Pada masa itu terdapat seorang brahmana muda yang selau memiliki pemikiran bodoh dan berucap salah: ia menyibukkan diri dengan mempelajari naskah kitab sebagai seorang murid, tetapi disebabkan oleh kebodohannya, ia tidak sanggup memahaminya. Ia adalah seorang pengikut setia Bodhisatta dan melayani Beliau seperti seorang budak.

 

Suatu hari, setelah makan siang Bodhisatta membaringkan tubuhnya diatas dipan dan brahamna muda tersebut membersihkan dan memberikan wewanggian pada tangan, kaki, dan punggung beliau. Dan setelah brahmana muda hendak pergi, Bodhisatta berkata padanya, “Topanglah kaki saya di dipan sebelum engkau pergi.” Dan brahaman muda memasang penopang kaki beliau pada satu sisi, tetapi tidak menemukan benda lain yang dapat menopang sisi lainnya. Oleh sebab itu, ia menggunakan kakinya sebagai penopang sepanjang malam. Ketika Bodhisatta terbangun di pagi hari dan melihat bramana muda tersebut, Beliau bertanya mengapa ia duduk di sana. “Guru”, kata anak muda tersebut, “Saya tidak menemukan satu penopang lagi, sebagai gantinya saya memakai kaki saya untuk menopang.”

 

Mendengar hal ini, Bodhisatta berpikir “Sungguh setia! Dan berpikri ia adalah pengikut yang paling bodoh dari semua muridNya. Kelak bagaimana saya dapat meneruskan pelajaran kepadanya?” Timbul pemikiran baha cara terbaik adalah bertanya kepada brahmana muda tersebut setelah kembali dari mengumpulkan kayu bakar dan daun, mengenai apa yang telah dilihat atau dilakukan pada hari tersebut; dan kemudian menanyakan seperti apakah itu. Karena, pikir Sang Guru, ia akan membuatnya memiliki perbandingan dan memberi alasan-alasannya akan memudahkan saya untuk memberikan ilmu kepadanya.

 

Oleh karena itu, Beliau meminta brahmana muda tersebut agar selalu memberitahu kepadaNya apa yang telah dilihat, dimakan dan diminum setelah kembali dan mengumpulkan kayu bakar dan daun. Dan brahmana muda tersebut berjanji akan melakukannya. Jadi, pada suatu hari ketika meliha seekor ular bersama-sama murid yang lain ketika mengumpulkan kayu di hutan, ia berkata, “Guru, saya melihat ular.” “Seperti apakah ular tersebut?” “Oh, seperti timbak bajak.” “Ini adalah perbandingan yang sangat bagus. Ular seperti tombak bajak,” kata Bodhisatta, yang mulai berharap bahwa ia dapat melatih muridNYa agar berhasil.

 

Pada saat yang lain, brahamana muda melihat seekor gajah di hutan dan memberitahu guruNya “Dan seperti apa gajah tersebut?” “OH, seperti tombak bajak.” GuruNya tidak mengatakan apa-apa, Beliau berpikir, karena batang dan gading gajah ada nkemiripan dengan tombak bajak, mungkin karena kebodohan muridNya sehingga ia membuat persamaan (meskipun ia memikirkan gading secara khusus) dikarenakan ketidakmampuannya melihat dengan lebih jelas.

 

Pada hari ketiga, ia diundang untuk makan gula tebu dan dengan kebodohannya ia menjawab pertanyaan GuruNya. “Dan seperti apakah gula tebu?” “Oh, seperti tombak bajak.” “Hampir tidak ada perbandingan yang benar,” pikir Sang Guru, tetapi Beliau tidak mengucapkan sepatah katapun. Pada hari lainnya, murid-murid diundang kembali untuk makan gula tebu dengan susu dan dadih, dan ini juga disampaikan dengan bodoh juga. “Dan sep[erti apakah susu dan dadih tersebut?” “Oh, seperti tombak bajak.” Kemudian Sang Guru berpikir “Anak muda ini dengan tepat mengatakan ular seperti tombak bajak, dan kurang lebih mendekati meskipun tidak tepat, mengatakan bahwa gajah dan gula tebu memiliki kesamaan. Tetapi susu dan dadih (yang mana selalu berwarna putih) memiliki bentuk sesuai dengan tempat apa saja yang diisi; (449) dan di sini ia tidak memiliki perbandingan sama sekali. Orang bodoh ini tidak akan pernah belajar.” Kemudian Beliau mengulangi dalam syair berikut ini :

"Untuk penerapan umum,
ia memiliki keterbatasan kemampuan
tombak bajak dan gading.
Orang bodoh menilai dua hal tersebut
adalah sama."

 

Pelajaran beliau Beliau selesai, Guru Agung menjelaskan kelahiranNya tersebut, “Laludayi adalah orang bodoh pada masa itu, dan Beliau adalah ilmuwan yang terkenal.”

 

[Sumber Asli: JatakaStories, translated into english by W.H.D. Rouse, M.A.
Dikutip dari Majalah Dhammacakka No.36/Tahun X/ 2004.]

 

 

Hits: 106