Category: Sutta Published: Thursday, 04 January 2018

Godha Jataka (J 141)

 

 

"Kamu yang menyombongkan kegagahanmu."

Kisah ini diceritakan oleh Sang Bhagava ketika berada di Jetavana,
berkenaan dengan seorang bhikkhu yang sombong di dalam persaudaraan Sangha.

 

Cerita ini disampaikan oleh Sang Buddha ketika beliau berdiam di hutan bambu, mengenai seorang saudara pengkhianat. Diawali dengan kejadian yang sama seperti yang diutarakan oleh Sang Buddha dalam Mahila-Mukha-Jataka.

 

Pada suatu saat ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhsiatta terlahir sebagai seekor iguana. Ketika ia tumbuh dewasa ia mendiami sebuah lubang di tepi sungai dengan diikuti ratusan iguana lainnya. Selanjutnya, Bodhisatta memiliki seekor anak jantan, yaitu seekor iguana muda yang bersahabat karib dengan seekor bunglon, persahabatan itu disertai tindakan untuk menjepit dan merangkul. Keakraban itu dilaporkan kepada raja iguana, sang raja berpesan untuk anak mudanya ini dengan mengatakan bahwa persahabatan semacam itu tidak pada tempatnya, persahabatan dengan bunglon yang kurang patuh itu jika terus dilakukan, malapetaka akan menimpa seluruh kawanan iguana. Kemudian beliau menasehati anaknya agar tidak melakukan sesuatu yagn berlebihan terhadap bunglon. Namun anak itu tetap melakukan keakrabannya dengan bunglon. Terus-menerus Bodhisatta menasehati anaknya, tetapi pesan-pesan beliau tidak ada hasilnya, kemudian beliau mengingatkan akan bahaya bagi iguana yang datang dari bunglon, beliau lalu membuat jalan keluar dalam salah satu sisi lubang mereka, sehingga terdapat kemungkinan adanya jalan keluar apabila sewaktu-waktu diperlukan.

 

Seiring waktu berlalu, iguana mudah itu tumbuh menjadi besar, sementara bunglon tidak dapat tumbuh menjadi besar. Hal itu, layaknya gunung-gunung yang menimbulkan keirihatian dari para raksasa muda, bunglon memiliki niat bahwa para iguana itu akan mati ditangannya jika mereka tetap tinggal di sana untuk beberapa hari lagi, dan dia memutuskan untuk bekerja sama dengan seorang pemburu agar dapat menghancurkan kawanan iguana.

 

Pada suatu hari di musim panas, semut-semut pada keluar setelah terjadi angin ribut yang disertai petir dan guruh, dan para iguana berlari kesana-kemari untuk menangkap dan memakan mereka di sana. Selanjutnya, di dalam hutan di sana terdapat jebakan-jebakan lubang iguana lengkap dengan anjing-anjing yagn siap menerkam iguana; pada saat itu bunglon berpikir apakah penjebak itu akan dapat berhasil memasukkan iguana ke dalam jebakannya. Kemudian ia menjumpai seseorang yang sedang berbaring, dan menanyakan mengapa ia berada di hutan. "Untuk menangkap iguana", demikian orang itu menjawab. "Bagus, saya tahu tempat di mana terdapat persembunyiaan yang berisi ratusan dari mereka", kata bunglon; "bawa api dan belukar lalu ikuti saya". Kemudian penjebak itu membawa perangkap ke tempat para iguana tingga, "Sekarng" kata bunglon, "letakkan bahan bakarmu di sini dan asapi para iguana itu. Pada saat itu biarkan anjing-anjing anda menyerang dan bawa tongkat yang besar di tangan anda. begitu para iguana melompat keluar, robohkan mereka dan buatlah tumpukan hasil dari bunuhan itu." Kemudian, bunglon penghianat ini mengeluarkan noda kotorannya, di sana ia meletakkannya, dengan kesombongannya, ia berkata pada dirinya sendiri, "Pada hari ini saya akan melihat kehancuran musuh saya."

 

Tukang jebak itu mulai bekerja untuk mengasapi iguana agar keluar; dan menyalakan api untuk membuat iguana keluar dari lubangnya. Begitu para iguana keluar, tukang jebak itu memukul kepalanya dan apabila luput dari tangannya, iguana akan jatuh ke tangan anjing-anjingnya. Di sana terdapat pembantaian besar-besaran kawanan iguana. Menyadari apa yang telah dilakukan oleh bunglon, sambil menangis Bodhisatta berkata, "Demikianlah terjadi akibat persahabatan yang jahat, membawa banyak penderitaan pada kelompok merka. Seekor bunglon jahat telah membuktikan kutukannya bagi seluruh kawanan iguana." Kemudian dikatakan beliau terselamatkan oleh jalan keluar yang telah beliau persiapkan sebelumnya, bersabdalah beliau dalam bait berikut ini :

"Persahabatan yang jahat tidak pernah berakhir dalam kebaikan.
Persahabatan berakhir hanya karena seekor bunglon.
Kawanan Iguana menjumpai akhir hayatnya."

 

Di akhir ceritanya, Sang Buddha menidentifikasi kelahiran itu dengan mengatakan, "Devadatta adalah bunglon pada saat itu; saudara pengkhianat itu adalah iguana yang tidak taat, anak laki-laki Bodhisatta, dan saya sendiri adalah raja iguana.

 

[Sumber Asli: JatakaStories, translated into english by W.H.D. Rouse, M.A.
Dikutip dari Majalah Dhammacakka No.41/Tahun XII/ Februari-April 2006.]

 

 

Hits: 137