Category: Sutta Published: Friday, 05 January 2018

Culladhammapala Jataka (J V.358)

 

 

"Mahapatapa permaisuri malang," dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Bhagava ketika beliau sedang berdiam di Veluvana, berkenaan dengan usaha-usaha Devadatta untuk membunuh Bodhisatta."

 

Dalam kelahiran-kelahiran lainnya Devadatta gagal untuk menimbulkan rasa takut pada Bodhisatta, walaupun hanya sebesar atom, tetapi dalam Culladhammapala Jataka, ketika Bodhisatta hanya berumur tujuh bulan, ia memerintahkan orang untuk memotong kedua tangannya, kedua kaki dan kepalanya juga dipotong dan sekeliling tubuhnya diiris-iris bagai rangkaian bunga. Cerita dalam Daddara Jataka ia membunuh Bodhisatta dengan jalan memuntir lehernya, dan memanggang dagingnya dalam oven dan memakannya. Dalam Khantivadi Jataka ia memerintahkan orang untuk mencambuknya dengan dua ribu kali pecutan cambuk, dan memerintahkan agar kedua tangannya, kedua kakinya dan kedua telinga serta hidungnya dipotong, kemudian merenggut rambutnya, dan diseret-seret, dan ketika seluruh punggungnya telah terentang, ia menendang perutnya lalu pergi, pada hari itu juga Bodhisatta meninggal. Tetapi dalam Cullanandaka Jataka dan Vevatiyakapi Jataka ia hanya menghukum mati Bodhisatta.

 

Demikianlah Devadatta untuk waktu yang sangat lama selalu berusaha membunuh Bodhisatta, dan berbuat begitu terus, walaupun Bodhisatta telah menjadi Buddha. Suatu hari mereka mengangkat persoalan ini sebagai topik diskusi di Dhammasala dan berkata, "Bhante, Devadatta selalu membuat rencana untuk membunuh Sang Buddha. Dengan tujuan membunuh Sammasambuddha, ia memerintahkan para pemanah untuk memanah Beliau, ia menggulingkan batu besar kepada Beliau, dan melepaskan gajah Nalagiri untuk membunuhNya." Ketika Sang Bhagava datang dan bertanya apa yang menjadi topik diskusi, mendengar apa yang didiskusikan, Beliau berkata, "Para Bhikkhu, bukan hanya sekarang, di kehidupan yang lalu pun ia juga berusaha membunuh saya, tetapi ia gagal membuatku takut, tidak setitikpun, walaupun ketika aku terlahir sebagai pangeran Dhammapala yang menyebabkan kematianku, walaupun aku adalah puteranya, dengan mengiris-iris seluruh tubuhku dengan pedang, bagaikan seikat rangkaian bunga." Setelah berkata demikian Beliau menceritakan kisah di kehidupan yang lampau.

 

Suatu ketika Mahapatapa bertahta di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai putera permaisuri Canda, dan mereka menamakannya Dhammapala. Ketika Ia berumur tujuh bulan, ibunya memandikannya dengan air kembang dan mengenakannya pakaian mewah lalu duduk bermain bersamanya. Raja datang ke kaputren tempat tinggalnya. Dan ketika sedang bermain bersama Bodhisatta, karena dipenuhi oleh rasa cinta seorang ibu terhadap anaknya, ia melalaikan kewajiban untuk berdiri waktu melihat kedatangan raja. Raja berpikir, "Sekarang wanita ini penuh dengan kebanggaan berkenaan dengan putranya, dan tidak menghargaiku lebih dari sebatang jerami, dan jika anak ini menjadi dewasa, ia akan berpikir, `Saya memiliki laki-laki dalam diri putraku,' dan akan tidak memperdulikanku. Aku akan membunuhnya segera."Lalu ia pulang dan duduk di singgasananya ia memanggil algojo, beserta perlengkapannya.

 

Sang algojo mengenakan jubah kuningnya dan mengenakan kalung bunga berwarna merah, meletakkan kapaknya dipundak, dan membawa sepotong balok serta mangkuk di kedua tangannya, datang dan berdiri di depan raja, dan memberi hormat lalu berkata, "Apakah yang menyenangkanmu, baginda?"

 

"Pergilah ke kaputren ratu, dan bawalah Dhammapala kemari," jawab raja.

 

Tetapi ratu tahu bahwa raja pergi meninggalkannya dalam keadaan marah, dan meletakkan Bodhisatta di dadanya dan duduk menangis. Algojo datang dan memukul punggungnya, lalu merampas Bodhisatta dari tangannya, lalu membawanya kepada raja dan berkata, "Apakah yang menyenangkanmu, baginda?" Raja memerintahkan untuk membawa sekeping papan dan meletakkan di depannya, lalu berkata, "Letakkan dia di sana." Orang itu melaksanakan perintahnya. Tetapi Ratu Canda datang dan berdiri di belakang puteranya, sambil menangis. Algojo bertanya lagi, "Apakah yang menyenangkan baginda?" "Potong kedua tangan Dhammapala,"jawab raja. Ratu Canda berkata, "Maharaja, putraku hanya seorang anak yang berumur tujuh bulan. Ia tidak tahu apa-apa. Dia tidak bersalah. Jika ada yang harus disalahkan maka itu adalah saya. Oleh sebab itu potonglah tangan saya saja." Dan untuk memperjelas maksudnya ia mengucapkan syair pertama :

"Permaisuri mahapatapa yang malang,
Saya sendirilah yang harus dipersalahkan.
Bebaskanlah Dhammapala, baginda.
Sebagai gantinya potonglah tanganku yang tak beruntung ini."

 

Raja melihat kepada algojo. "Apakah yang menyenangkanmu, baginda?" "Jangan tunda lagi, potong kedua tangannya," jawab raja. Saat itu juga algojo mengambil kapaknya yang tajam, dan memotong kedua tangan Bodhisatta bagaikan memotong rebung bambu muda. Bodhisatta, ketika kedua tangannya dipotong tidak menangis atau meratap, tetapi tergerak oleh kesabaran dan cinta kasih menghadapinya dengan pasrah. Tetapi ratu Canda meletakkan ujung jari-jarinya di pangkuan dan dengan berlumuran darah meratap-ratap. Algojo bertanya lagi, "Apakah yang menyenangkanmu, baginda?" "potonglah kedua kakinya, " jawab raja. Mendengar ini Canda mengucapkan syair kedua :

"Permaisuri mahapatapa yang malang,
Saya sendirilah yang harus dipersalahkan.
Bebaskanlah Dhammapala, baginda.
Sebagai gantinya potonglah tanganku yang tak beruntung ini.

 

Tetapi raja memberi isyarat kepada algojo, lalu algojo memotong kedua kakinya. Ratu canda juga meletakkan kedua kaki Bodhisatta di pangkuannya, dan dengan berlumuran darah ia meratap dan berkata, "Junjunganku Mahapatapa, kedua tangan dan kedua kakinya telah dipotong. Seorang ibu memiliki kewajiban menyokong anaknya. Saya akan bekerja mencari nafkah dan menyokong anakku. Berikanlah ia kepadaku." Algojo bertanya kepada raja , "Baginda, apakah kesenangan baginda telah terpenuhi? Apakah tugasku sudah selesai?" "Belum, jawab raja. "Apakah yang menyenangkanmu, Baginda?" "Penggallah kepalanya," jawab raja. Lalu Canda mengulangi syair ketiga :

"Permaisuri mahapatapa yang malang,
Saya sendirilah yang harus dipersalahkan.
Bebaskanlah Dhammapala, baginda.
Sebagai gantinya potonglah tanganku yang tak beruntung ini."

 

Dengan syair ini permaisuri menawarkan kepalanya sendiri. sekali lagi algojo bertanya, "Apakah kesenanganmu, Baginda?" "penggallah kepalanya," jawab raja. Lalu ia memenggal kepalanya dan bertanya, "Apakah kesenangan raja telah terpenuhi?" "Belum," jawab raja. "Apa yang dapat kulakukan selanjutnya, Baginda?" "Iris dia dengan sisi pedang," jawab raja, "iris seluruh tubuhnya dengan irisan pedang bagaikan rangkaian bunga." Kemudian algojo melempar tubuh Bodhisatta ke udara, dan menangkapnya dengan sisi pedangnya, mengiris seluruh tubuhnya dengan irisan pedang bagai seikat rangkaian bunga." dan menyebarkan potongan-potongannya di podium. Canda meletakkan daging Bodhisatta di pangkuannya, dan ia duduk di podium, meratap, ia mengulangi syair berikut :

"Tak ada penasehat bersahabat menasehatkan raja :
'Jangan membantai keturunan yang berasal dari darah dagingmu sendiri'.
Tak ada sanak penyayang yang memohon pengampunan :
'Jangan membantai bocah yang menggantungkan hidupnya padamu'."

 

Kemudian setelah mengucapkan kedua syair ini permaisuri Canda, menekan kedua tangannya di dada, mengulangi syair ketiga :

"Kamu Dhammapala, menurut hak kelahiranmu adalah penguasa dunia.
Kedua belah tanganmu, yang sebelumnya dimandikan dengan minyak cendana,
Berbaring dalam genangan darah.Napasku yang berhenti aah..! tercekik dengan desah dan tangis kehancuran."

 

Ketika sedang meratap demikian, hatinya "hancur", bagai bambu yang pecah di kebun yang terbakar, dan ia langsung jatuh, mati di situ juga. Raja juga tak dapat terus bertahan di singgasananya terjatuh di podium. Celah gelap merekah, dan raja Mahapatapa jatuh di dalamnya.

 

Kemudian bumi yang tebalnya lebih dari duaratus ribu yojana tidak sanggup menahan kejahatannya, merekah dan membuka celah. Api muncul dari neraka Avici, dan menangkapnya, menggulungnya, bagai pakaian wool kebesaran, dan jatuh dalam neraka Avici. Para menteri mengadakan upacara penguburan terhadap Canda dan Bodhisatta.

 

Setelah Sang Bhagava menyelesaikan khotbah ini, beliau mengungkapkan kelahiran masa lampau: "Pada waktu itu raja adalah Devadatta, Mahapajapati adalah Canda, dan saya sendiri adalah pangeran Dhammapala.

 

[Sumber Asli: JatakaStories, translated into english by W.H.D. Rouse, M.A.
Dikutip dari Majalah Dhammacakka No.33/Tahun X/ 2004.]

 

 

Hits: 8