Category: Sutta Published: Friday, 05 January 2018

Neru Jataka (J 379)

 

 

Sang Buddha menceritakan kisah ini di Jetavana, menanggapi cerita seorang Bhikkhu.

 

Suatu ketika, Bhikkhu itu pergi ke sebuah desa. Penduduk memberinya makan, mendirikan sebuah pondok untuknya, serta menaruh hormat padanya. Pelayanan penduduk desa membuat bhikkhu itu betah. Tetapi kemudian penduduk desa tidak lagi mengindahkannya. Hal ini disebabkan oleh adanya ancaman dari guru-guru pengajar ajaran adanya inti yang kekal. Guru-guru itu mengancam akan meninggalkan desa jika penduduk percaya pada adanya kematian, dan mengabaikan sekte pertapa telanjang. Penduduk desa akhirnya kembali berpaling kepada ajaran sesat itu.

 

Sang Bhikkhu menjadi kecewa. Dia lalu menceritakan kejadian di musim hujan itu kepada Sang Buddha. Ia menyatakan ketidak-senangannya berada di antara penduduk yang tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

 

Lalu Sang Buddha berkata, "Orang bijaksana bahkan ketika dilahirkan sebagai binatang buas sekalipun tak akan tinggal barang seharipun di tengah-tengah mereka yang tidak dapat membedakan baik dan buruk. Mengapa engkau tinggal sebegitu lama di tempat seperti itu?" Kemudian Sang Buddha menceritakan kisah berikut ini.

 

Pada suatu ketika, sewaktu Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta dilahirkan sebagai seekor angsa berbulu keemasan. Bersama adiknya ia tinggal di Bukit Citakutta dan hidup dari memakan padi-padian yang tumbuh subur di pengunungan Himalaya.

 

Suatu hari dalam perjalanan pulang ke Citakutta, mereka melihat sebuah gunung bercahaya emas. Gunung itu disebut orang sebagai Gunung Neru. Sang Bodhisatta dan adiknya singgah di puncak Gunung Neru. Gunung yang menjulang tinggi itu didiami oleh burung-burung dan binatang buas dari berbagai jenis. Semua jenis binatang bercahaya keemasan selama berada di Gunung Neru. Melihat hal itu, adik Bodhisatta merasa heran. Ia bertanya kepada kakaknya, Sang Bodhisatta, dalam sebait syair.

"Gagak, ayam jantan, dan kita burung-burung terbaik; Bila berada di gunung ini semuanya tampak sama. Serigala licik menyaingi macan dan singa. Disebut apakah gunung ini?"

 

Bodhisatta mendengarkannya dan mengucapkan bait syair yang kedua.

"Gunung keemasan, Nerulah puncaknya. Semua binatang terlihat indah."

 

Mendengarkan ucapan kakaknya, adik Bodhisatta mengucapkan 3 bait syair yang terakhir.

"Dimanapun orang bijaksana menemukan sedikit kemuliaan atau bahkan tidak sama sekali; Mereka tidak akan menetap dan akan pergi.Bijaksana dan dungu, takut dan berani, semuanya dinilai sama."

"Gunung yang tidak membedakan, orang bijaksana tak akan tinggal di dekatnya."

"Baik dan licik, Neru tidak membedakannya. Neru yang tidak acuh; Kita yang malang harus segera pergi."

 

Berpikir demikian, mereka segera berlalu, kembali ke Citakutta. Kemudian Sang Buddha mengatakan bahwa angsa kecil adalah Ananda dan angsa yang lebih tua adalah Sang Buddha sendiri.

 

[Dikutip dari JATAKA - Kumpulan Cerita Pilihan; Penerbit Pemuda Vihara Vimala Dharma, Bandung; Sumber asli: JATAKA STORIES; Diterjemahkan dari Bahasa Pali oleh Profesor E.B. Cowell.]

 

 

Hits: 123