Category: Sutta Published: Friday, 05 January 2018

Cetiya Jataka (J 422)

 

 

"Kebenaran yang dilukai dapat berbalik melukai dengan sakit sekali, dan lain-lain. Sang Bhagava menceritakan kisah ini ketika berdiam di Jetavana, mengenai Devadatta yang ditelan oleh bumi. Pada hari itu mereka sedang berdiskusi di Dhammasala mengenai Devadatta yang berbicara tidak jujur, lalu tenggelam dalam tanah dan terlahir di alam neraka Avici. Sang Bhagava datang dan mendengar bahan pembicaraan mereka, lalu berkata, 'Ini bukan pertama kali ia tenggelam dalam bumi', dan Beliau bercerita kisah lampau."

 

Pada suatu ketika, ketika bumi baru terbentuk, ada seorang raja bernama Mahasammata, yang umurnya mencapai satu masa tak terhitung (Asankheyya) lamanya. Anak lelakinya bernama Roja, anak lelaki Roja adalah Vararoja, dan kemudian penerusnya adalah Kalyana, Varakalyana, Uposatha, Mandhata, Varamandhata, Cara, Upacara, yang dipanggil dengan sebutan Apacara. Ia memerintah di kerajaan Ceti, di kota Sotthivati; ia memiliki berkah empat kekuatan gaib yaitu; dapat berjalan di atas dan melewati udara, mempunyai empat dewa pengawal pada keempat penjuru untuk melindunginya dengan pedang terhunus, menyebarkan wangi cendana dari tubuhnya, menyebarkan wangi bunga teratai melalui mulutnya. Pendeta keluarganya bernama Brahmana Kapila. Adik laki-laki brahma ini adalah Korakalambaka, yang bersama-sama dengan raja belajar pada guru yang sama dan merupakan teman bermain raja.

 

Ketika Apacara masih putra mahkota, ia berjanji untuk menjadikan Korakalambaka sebagai pendeta keluarga jika ia menjadi raja. Pada saat ayahnya meninggal, ia menjadi raja tetapi tidak dapat menggantikan posisi Kapila dari pendeta keluarga. Sang Brahma mempertimbangkan bahwa raja bersama para menterinya dapat mengatur pemerintahan dengan baik dan ia dapat meninggalkan kerajaan untuk menjadi seorang pertapa, kemudian ia berkata, "Oh raja, saya semakin tua. Saya mempunyai seorang anak laki-laki, jadikanlah ia pendeta kerajaan dan saya akan menjadi seorang pertapa." Ia mendapatkan ijin raja dan anaknya ditempatkan sebagai pendeta kerajaan.

 

Kemudian ia pergi ke taman raja, menjadi seorang pertapa, mencapai kemampuan abhibba (kekuatan gaib) dan tinggal di sana, dekat anaknya. Korakalambaka merasa sakit hati terhadap kakaknya karena ia tidak dapat menempati pos yang ditinggalkan oleh kakaknya ketika kakaknya menjadi seorang pertapa.

 

Suatu hari sang raja berkata, "Korakalambaka, kamu bukan pendeta keluarga?"

 

"Tidak, Oh raja, kakakku telah mengaturnya."

 

"Sudahkah ia menjadi seorang pertapa?"

 

"Ia telah menjadi seorang pertapa tapi ia menggantikan posisi pertapa keluarga untuk anak laki-lakinya."

 

"Kemudian apakah kamu dapat mengaturnya?"

 

"Oh raja, hal itu mustahil bagiku untuk menggantikan kakakku dan mengambil posisi yang telah diturunkan."

 

"Jika mungkin, saya akan menjadikan kamu sebagai kakak dan kakakmu sebagai adik."

 

"Bagaimana caranya, Oh raja?"

 

"Dengan sebuah kebohongan."

 

"Oh raja, tidakkah kau tahu kakakku adalah tukang sihir yang memiliki berkah kekuatan gaib? Ia akan menipumu dengan ilusi gaib, ia akan membuat empat dewa pengawalmu menghilang dan membuat bau tak sedap keluar dari tubuh dan mulutmu, ia akan membuatmu turun dari udara dan berdiri di tanah, kau akan ditelan oleh bumi dan kamu tak bisa mempertahankan ceritamu."

 

"Jangan khawatir, saya akan mengaturnya."

 

"Kapan kamu akan melaksanakannya, Oh raja?"

 

"Pada hari ketujuh sejak hari ini."

 

Kabar ini menyebar dalam kota.

 

"Sang raja akan berbohong untuk menjadikan kakak menjadi adik dan akan memberikan posisi tersebut kepada adik dari jenis apakah kebohongan itu? Apakah hal itu biru atau kuning atau warna lainnya?" (Red: pada awal jaman kebohongan adalah hal yang baru). Banyak pandangan yang berbeda tentang hal itu. Pada jaman itu semua orang di seluruh dunia berkata benar, manusia tidak mengerti arti kata berbohong.

 

Anak pendeta mendengar hal itu dan mengatakan kepada ayahnya, "Ayah, raja akan berbohong untuk menjadikanmu adik dan menyerahkan posisi pendeta keluarga kepada paman."

 

"Sayangku, sang raja tidak akan dapat bahkan dengan berbohong untuk menyingkirkan posisi kita. Pada hari apakah ia akan melaksanakannya."

 

"Pada hari ketujuh sejak hari ini, kata mereka."

 

"Beritahu saya ketika waktunya tiba."

 

Pada hari ketujuh banyak orang yang datang di halaman pengadilan, duduk dalam barisan untuk menantikan kebohongan. Sang raja berpakaian lengkap, ia muncul dan berdiri di udara dalam halaman pengadilan di tengah-tengah orang banyak. Sang pertapa datang melalui udara, kemudian ia melebarkan tempat duduk yang terbuat dari kulit sebelum raja menduduki tahta di udara.

 

"Oh raja, apakah benar, bahwa Yang Mulia berkehendak dengan sebuah kebohongan untuk mengantikan kakak sebagai adik dan menggantikan posisi pendeta keluarga kepada adikku?" katanya.

 

"Tuan, saya sudah melakukannya."

 

Kemudian ia memperingatkan sang raja, "Oh raja yang agung, sebuah kebohongan adalah sebuah kebobrokan moral yang menyedihkan, hal itu menyebabkan tumimbal lahir di empat alam kelahiran penuh penderitaan; seorang raja yang berbohong menghancurkan kebenaran dan dengan menghancurkan kebenaran dirinya sendiri juga akan hancur."

 

Lalu ia mengungkapkan bait yang pertama :

"Kebenaran yang dilukai dapat berbalik melukai dengan sakit sekali, oleh karena itu, kebenaran seharusnya jangan dilukai, agar kerugian tidak muncul pada Anda."

 

Untuk memperingatkan sang raja lebih jauh lagi, ia mengatakan, "Raja yang agung, jika baginda berbohong, keempat kekuatan gaibmu akan menghilang," dan ia mengungkapkan bait kedua :

"Kekuatan gaib akan hilang dan meninggalkan orang yang berbohong.
Mulutnya berbau tak sedap, ia tidak dapat menapakkan kakinya di udara.
Siapapun yang menjawab pertanyaan dengan kata tak jujur dengan sengaja."

 

Mendengar syair ini, raja menjadi ketakutan dan melihat ke arah Korakalambaka. Ia berkata, "Jangan takut, Oh raja, tidakkah saya telah mengatakannya sejak dari awal?" dan seterusnya.

 

Sang raja, walaupun ia mendengar kata-kata Kapila, masih tetap pada pernyataannya, "Tuan, kamu adalah sang adik, dan Korakalambaka adalah kakak."

 

Pada saat ia mengutarakan kebohongannya, keempat deva berkata bahwa mereka tidak akan menjaga lagi seorang pembohong, lalu melempar pedang mereka ke kaki raja dan menghilang, mulut raja menjadi berbau busuk seperti telur busuk yang rusak dan tubuhnya seperti saluran yang terbuka, lalu ia jatuh dari udara. Demikianlah keempat kekuatan gaibnya menghilang.

 

Sang petapa berkata, "Raja yang agung, janganlah takut. Jika baginda berkata jujur, saya akan mengembalikan semuanya seperti semula," dan ia mengungkapkan bait ketiga :

"Sebuah kata jujur dan semua kembali menjadi milikmu, Oh raja, yang seharusnya kau peroleh kembali. Sebuah kebohongan akan membuatmu menjadi penghuni dalam tanah di Ceti."

 

Ia berkata, "Dengarkan, Oh raja yang agung. Keempat kekuatan gaibmu hilang pertama kali oleh kebohonganmu. Pertimbangkanlah, sekarang masih mungkin untuk mengembalikan kekuatan gaibmu."

 

Tapi sang raja menjawab, "Kamu ingin menipuku", demikianlah dengan kebohongan yang kedua ia tenggelam dalam tanah setinggi pergelangan kaki.

 

Kemudian Sang Brahmana berkata sekali lagi, "Pertimbangkanlah, Oh raja yang agung," dan mengungkapkan bait keempat :

"Masa kekeringan muncul dalam dirinya pada saat musim hujan, hujan ketika seharusnya musim kering. Siapapun yang menanyakan, menjawab kata tak jujur dengan sengaja."

 

Kemudian ia berkata sekali lagi, "Karena memperlihatkan kebohonganmu, kamu tenggelam sampai setinggi pergelangan kaki. Pertimbangkanlah, Oh raja yang agung", dan berkata bait yang kelima :

"Sebuah kata jujur dan semua kembali menjadi milikmu, Oh raja, kau seharusnya memperoleh kembali. Sebuah kebohongan akan membuatmu menetap di dalam tanah Ceti."

 

Tapi untuk ketiga kali sang raja berkata, "Kamu adalah sang adik dan Korakalambaka adalah kakak," dan oleh kebohongan ini, ia tenggelam sampai setinggi lutut.

 

Sekali lagi Sang Brahma berkata, "Pertimbangkanlah, Oh raja yang agung", dan mengungkapkan dua bait :

"Oh raja, orang yang mempunyai lidah bercabang dua, seperti seekor ular yang licik. Siapapun yang menanyakan, menjawab kata tak jujur dengan sengaja."

"Sebuah kata jujur dan semua milikmu, Oh raja, kau seharusnya memperoleh kembali. Sebuah kebohongan akan membuatmu menetap di dalam tanah Ceti."

 

"Bahkan sekarang masih bisa kembali seperti semula." Tambahnya. Sang raja tidak mengindahkan kata-katanya, dan mengulangi kebohongannya untuk keempat kali, "Kamu adalah adik, tuan, dan Korakalambaka adalah sang kakak," dan oleh kata-kata ini ia tenggelam ke dalam tanah setinggi pinggul.

 

Sekali lagi Sang Brahma berkata, "Pertimbangkanlah, Oh raja yang agung", ia mengungkapkan dua bait :

"Oh raja, bahwa manusia seperti ikan, ia sebaikya tidak berlidah, bagi siapapun yang ditanyakan, menjawab tak jujur dengan sengaja."

"Sebuah kata jujur dan semua milikmu, Oh raja, kau seharusnya memperoleh kembali. Sebuah kebohongan akan membuatmu menetap di dalam tanah Ceti."

 

Untuk kelima kalinya sang raja mengulangi kebohongannya dan oleh sebab itu ia tenggelam setinggi pusar. Sang Brahma sekali lagi berseru untuk mempertimbangkan dan mengungkapkan dua bait :

"Ia hanya melahirkan anak wanita, tak akan melahirkan anak laki-laki. Siapapun yang menanyakan menjawab kata tak jujur dengan sengaja."

"Sebuah kata jujur dan semua milikmu, Oh raja, kau seharusnya memperoleh kembali. Sebuah kebohongan akan membuatmu menetap di dalam tanah Ceti."

 

Sang raja tidak memperdulikan dan mengulangi kebohongan untuk keenam kali, ia tenggelam setinggi dada. Sang Brahma berseru sekali lagi dan mengungkapkan dua bait :

"Anak-anaknya tidak akan tinggal bersamanya, pada tiap sisi ia melarikan diri, siapapun yang ditanyakan menjawab tak jujur dengan sengaja."

"Sebuah kata jujur dan semua milikmu, Oh raja, kau seharusnya memperoleh kembali. Kebohongan akan membuatmu menetap di dalam tanah Ceti."

 

Karena berkumpul dengan teman yang jahat, ia mengabaikan peringatan terakhir dan mengulangi kebohongan untuk ketujuh kali. Kemudian tanah terbuka dan lidah-lidah api dari neraka Avici mengarah dan melahap dirinya.

 

Orang banyak berkata dalam ketakutan, "Sang raja Ceti menghina orang bijaksana dan berbohong; demikianlah ia memasuki Avici."

 

Kelima anak raja menghampiri Sang Brahma dan berkata, "Jadilah engkau penolong kami."

 

Sang Brahma berkata, "Ayahmu menghancurkan kebenaran, ia berbohong dan menghina orang bijaksana, oleh karena itu ia telah memasuki neraka Avici. Jika kebenaran dihancurkan, maka hal itu akan menghancurkanmu. Kita tidak seharusnya tinggal di sini."

 

Kepada yang tertua, ia berkata, "Kemari, sayang, tinggalkan kota melalui pintu gerbang timur dan jalan lurus, kamu akan melihat seekor gajah putih kerajaan yang letih-lesu, menyentuh tanah di ketujuh tempat, itulah tanda bagimu untuk mendirikan sebuah kota dan tinggal di sana, dan namanya adalah Hatthipura."

 

Kepada putra yang kedua, ia berkata, "Kamu pergi melalui pintu gerbang selatan dan jalan lurus sampai melihat seekor gajah putih murni itulah tandanya bagimu untuk mendirikan sebuah kota dan tinggal di sana, dan namanya adalah Assapura."

 

Kepada putra yang ketiga ia berkata, "Kamu pergi melalui pintu gerbang barat dan jalan lurus sampai kamu melihat seekor singa; itulah tandanya bagimu untuk mendirikan sebuah kota dan tinggal di sana dan namanya adalah Sihapura."

 

Kepada putra yang keempat, ia berkata, "Pergilah melalui pintu gerbang utara dan jalan lurus sampai sebuah bingkai roda yang kesemuanya terbuat dari permata, itulah tandanya bagimu untuk mendirikan sebuah kota dan tinggal di sana dan namanya adalah Uttarapancala."

 

Kepada putra yang kelima, ia berkata, "Kamu tidak dapat tinggal di sini, bangunlah sebuah kuil besar di kota ini dan pergilah menuju barat laut dan jalan lurus sampai kamu melihat dua gunung meletus bergantian satu persatu dan membuat suara daddara, itulah tandanya bagimu untuk mendirikan sebuah kota dan tinggal di sana dan kota tersebut namanya adalah Daddarapura."

 

Kelima putra mahkota pergi dan mengikuti tanda yang ada di masing-masing kota dan tinggal di sana.

 

Setelah Dhamma dibabarkan, Sang Bhagava berkata, "Demikianlah, para bhikkhu, ini bukanlah pertama kali Devadatta berbohong dan tenggelam dalam tanah" dan kemudian ia mengidentifikasikan kelahiran. "Pada saat itu sang raja Ceti adalah Devadatta dan Sang Brahmana Kapila adalah saya sendiri."

 

[Sumber Asli: JatakaStories, translated into english by W.H.D. Rouse, M.A.
Dikutip dari Majalah Dhammacakka No.25/Tahun VII, 2002. Diterjemahkan oleh Wayan Budiana.]

 

 

Hits: 82