Category: Sutta Published: Friday, 05 January 2018

Maha Dhamma Pala Jataka (J 447)

 

 

Kisah ini diceritakan Sang Buddha kepada ayahnya ketika Ia menginap di hutan kecil Banyan milik ayahnya dalam kunjungan-Nya, sebagai Buddha, untuk yang pertama kalinya ke Kapilapura. Kisah ini berkenaan dengan penolakan seorang ayah untuk percaya bahwa anaknya sudah meninggal, karena bukan kebiasaan dalam keluarganya untuk meninggal dalam usia muda.

Ketika Brahmadatta menjadi raja di Benares, di kerajaan Kasi, ada sebuah desa bernama Dhammapala. Nama tersebut diberikan karena keluarga Dhammapala tinggal di sana. Dengan menjalani sepuluh jalan kebenaran, brahmana ini dikenal di desanya sebagai Dhammapala yang artinya pelindung Dhamma. Bahkan di kediamannya, para tamu memberi dana, menjalankan kebajikan dan melaksanakan hari-hari suci.

 

Pada saat Bodhisatta hadir di rumah tersebut, mereka memberinya nama Dhammapala-kumara yang artinya pelindung dhamma muda. Setelah cukup usia, ayahnya memberi ia seribu keping mata uang dan menyuruhnya belajar ke Takkasila. Ia pergi ke sana dan belajar pada guru dunia yang termahsyur dan menjadi pimpinan siswa dari lima ratus pemuda.

 

Ketika putra gurunya yang tertua meninggal, sang guru, di tengah sanak keluarga dan murid-muridnya, menangis pada upacara pemakaman anaknya. Kemudian sang guru beserta kerabat dan murid-muridnya menangis dan meratap, tetapi Dhammapala tidak. Setelah kembali dari pemakaman, kelima ratus pemuda duduk bersama gurunya, dan berkata, "Ah, sayang sekali, anak laki-laki yang begitu baik dan lembut meninggal dalam usia muda dan dipisahkan dari ayah dan ibunya!"

 

Kemudian Dhammapala menjawab, "Sungguh sangat muda, seperti apa yang anda katakan. Mengapa ia meninggal dalam usia yang begitu muda? Tidak seharusnya seorang anak meninggal dalam usia muda".

 

Lalu mereka bertanya padanya, "Mengapa? Bukankah kamu tahu bahwa setiap manusia akan mati?"

 

"Saya tahu, tapi mereka tidak mati dalam usia muda".

 

"Bukankah semua bagian tubuh tidak kekal dan tidak nyata?"

 

"Ya, tidak kekal, tapi makhluk tidak meninggal dalam usia muda, hanya ketika menjadi tua mereka akan meninggal".

 

"Apakah itu kebiasaan dalam keluargamu?"

 

"Ya, itu kebiasaan dalam keluarga saya".

 

Para siswa menceritakan percakapan ini kepada guru mereka. Kemudian sang guru memanggilnya dan bertanya, "Dhammapala anakku, benarkah dalam keluargamu tidak pernah ada yang mati dalam usia muda?"

 

"Ya, hal itu benar adanya".

 

Mendengar hal tersebut, gurunya berpikir, "Hal ini sungguh sangat mengagumkan. Saya akan menjumpai ayahnya dan menanyakan hal ini padanya. Jika benar, saya akan mengikuti ajaran-ajaran kebaikannya".

 

Setelah menyelesaikan semua urusan pemakaman anaknya, sang guru memanggil Dhammapala dan memintanya untuk memimpin murid-muridnya selama ia pergi. Kemudian ia menyiapkan tulang kambing liar dan dicuci dan diberi wangi-wangian, lalu dimasukkan ke dalam tas. Bersama pelayan kecil, ia meninggalkan Takkasila. Setelah tiba di rumah Maha Dhammapala, pelayan sang brahmana segera menyambutnya. Ia meminta pelayan itu untuk mengatakan pada Maha Dhammapala bahwa guru anaknya datang dan menunggu di depan pintu.

 

"Baik", kata pelayan itu, dan untuk selanjutnya menyampaikan pesan tersebut pada tuannya. Segera Maha Dhammapala datang, memintanya masuk dan mempersilahkannya duduk di dipan. Ia kemudian melakukan kewajibannya sebagai tuan rumah. Misalnya, mencuci kaki tamunya dan sebagainya.

 

Setelah bersantap bersama, mereka duduk sambil bercakap-cakap. Kemudian sang guru berkata, "Brahmana, anakmu Dhammapala yang penuh kebijaksanaan dan ahli dalam Tri Weda dan delapan belas pencapaian telah meninggal. Semua yang ada tidak kekal, jadi janganlah berduka cita baginya".

 

Mendengar cerita ini, sang brahmana menepuk tangannya dan tertawa keras. "Mengapa engkau tertawa?"

 

"Karena yang meninggal itu bukanlah anakku, ia pasti orang lain".

 

"Tidak, brahmana. Yang meninggal adalah anakmu, bukan yang lain. Inilah tulang belulangnya dan percayalah", sambil berkata begitu ia membuka bungkusan tulang-tulang itu.

 

"Tulang kambing liar mungkin, atau tulang anjing. Anakku tidaklah meninggal. Dalam keluarga kami selama tujuh generasi tak seorangpun yang meninggal dalam usia muda. Kamu pasti sedang berbohong". Kemudian mereka bertepuk tangan dan tertawa keras-keras bersama.

 

Sang guru, ketika melihat hal yang mengherankan ini, sangat gembira dan berkata, "Brahmana, kebiasaan dalam garis keluargamu tidak dapat menjadi alasan bahwa yang muda tidak akan meninggal. Mengapa kamu tidak meninggal dalam usia muda?" Dia menanyakan hal itu dengan melantunkan bait syair pertama. Kebiasaan apa atau jalan suci yang bagaimana; dari perbuatan baik bagaimana yang memberi hasil, saya mohon katakan, o brahmana, apakah alasannya; mengapa dalam keluargamu, yang muda tak pernah mati? Katakanlah!

 

Kemudian brahmana, untuk menerangkan kebajikan-kebajikan yang menyebabkan keluarganya tidak meninggal dalam usia muda, mengucapkan syair-syair berikut: Berjalan dalam kebenaran, berbicara tidak berbohong; segala dosa jahat dan kotor dijauhkan; menghindari semua kejahatan; membuat tak seorang pun dari kami mati dalam usia muda.

 

Kita mendengar perbuatan yang bodoh dan yang bijaksana; dari perbuatan bodoh apakah yang bisa diambil dan pelihara? Kebijaksanaan kami ikuti dan kebodohan kami tinggalkan; itulah yang menyebabkan tak seorang dari kami mati dalam usia muda.

 

Terdapat kegembiraan dalam niat memberi. Bahkan ketika memberi merasa bahagia. Setelah memberi tak ada rasa menyesal. Itulah yang menyebabkan tak seorang dari kami mati dalam usia muda.

 

Melayani para pendeta, brahmana, dan pengembara, pengemis, dan mereka yang compang-camping, dan semua yang membutuhkan; memberi mereka minum, memberi makan orang-orang lapar; itulah yang menyebabkan tak seorang dari kami mati dalam usia muda.

 

Dalam pernikahan, kita tidak berkeluh kesah tentang istri orang lain. Setia terhadap janji perkawinan; dan menanamkan kesetiaan istri kepada diri kami; itulah yang menyebabkan tak seorang dari kami mati dalam usia muda.

 

Dari istri-istri yang bijaksana inilah anak-anak berasal. Penuh dengan kebijaksanaan, mengetahui pendidikan; memahami Weda, dan sempurna dalam segala hal; membuat tak seorang pun dari kami mati dalam usia muda.

 

Selalu berusaha melakukan kebajikan demi tercapainya kebahagiaan. Demikianlah hidup ayah, dan demikian pula hidup ibu; demikian pula putra dan putri, saudara dan juga saudari; membuat tak seorang pun dari kami mati dalam usia muda.

 

Demi kebahagiaan pula para pelayan menerapkan hidup mereka untuk kebaikan, bujang dan perawan semuanya; para pembantu, semua menjauhi keburukan; membuat tak seorang pun dari kami mati dalam usia muda.

 

Akhirnya, dalam dua bait syair berikut ini dinyatakannya kebaikan hidup dalam kebenaran :

Kebenaran menyelamatkan seseorang dari kecenderungan yang ke sana dan ke sini. Kebenaran yang dilatih dengan baik membawa kebahagiaan. Mereka yang melakukan berkah mulia ini dengan benar, mendapat anugerah; Orang budiman tidak akan memperoleh penderitaan.

Kebenaran menyelamatkan orang budiman, bagaikan tempat berteduh. Menyelamatkannya ketika hujan, sang putrapun masih hidup. Kebaikan memberi Dhammapala keselamatan. Tulang-tulang lain yang telah engkau bawa.

 

Mendengar hal ini sang guru menjawab, "Sungguh perjalananku kali ini merupakan perjalanan yang sangat menyenangkan, bermanfaat, bukannya tanpa hasil".

 

Kemudian dengan penuh kebahagiaan ia memohon maaf dan menambahkan, "Saya datang ke sini dengan membawa tulang-tulang kambing liar dengan tujuan mengujimu. Putramu selamat dan dalam keadaan sehat. Saya berharap engkau menanamkan dalam diri saya ajaran-ajaran untuk membina kehidupan yang benar".

 

Ia selanjutnya menuliskan ajaran-ajaran tersebut pada sebuah daun, dan setelah tinggal di tempat brahmana selama beberapa hari, ia kembali ke Takkasila. Ketika Dhammapala telah menguasai seluruh keahlian dan pelajaran, sang guru melepasnya dengan sejumlah besar pengikut.

 

Sang Buddha berkata, "Dalam cerita tersebut, ayah dan ibu Dhammapala adalah keluarga maharaja, sang guru adalah Sariputta, para pengikut adalah para pengikut Buddha, dan Dhammapala muda adalah Saya sendiri".

 

 

Hits: 165