Category: Sutta Published: Friday, 05 January 2018

Canda Kinnara Jataka (J 485)

 

 

Aku meninggal..dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Bhagava, ketika Beliau berdiam di Nigrodharama dekat Kapilapura mengenai ibu Rahula ketika masih berada di istana.

 

Kisah kelahiran masa lampau ini diceritakan mulai pada masa-masa menjadi Bodhisatta. Tetapi cerita Jataka yang lain, sejauh raungan singa Uruvela Kassapa di Latthivana, Veluvana, telah diceritakan sebelumnya pada Apanaka Jataka, yang dimulai dari Vessantara Jataka hingga kembali ke Kapilavatthu setelah menjadi Buddha. Sang Bhagava duduk di istana Raja Suddhodana, sewaktu makan siang mengkhotbahkan Mahadhammapala Jataka, dan setelah makan siang Beliau berkata, "Saya akan memuji sifat mulia ibu Rahula di kaputrennya, dengan menceritakan Canda-Kinnara Jataka. Kemudian Beliau menitipkan mangkuk-Nya kepada Sang Raja, dan bersama dengan kedua Aggasavaka pergi ke kaputren ibu Rahula (Rahulamata).

 

Pada saat itu keempat puluh ribu penari, seribu sembilan puluh di antaranya adalah dari keturunan kasta ksatria, yang tinggal bersama Beliau sebelum meninggalkan istana masih berada di sana. Ketika putri Yasodhara mendengar bahwa Tathagata datang berkunjung, ia menyuruh semua penari juga ikut memakai jubah kuning, dan mereka melakukannya. Sang Bhagava datang dan duduk di tempat yang telah disediakan untuk beliau. Kemudian semua wanita menangis serentak, dan terdengar suara ratapan yang membahana. Ibu Rahula setelah menangis dan reda kesedihannya, menyambut Sang Bhagava, dan duduk dengan sikap yang sangat menghormat, bagai menghadapi seorang Raja. Kemudian Raja Suddhodana mulai menceritakan kesetiaan putri Yasodhara: "Dengarkanlah, Yang mulia, ia mendengar bahwa anda mengenakan jubah kuning, ia juga ikut mengenakan jubah kuning; rangkaian bunga dan sebagainya tidak lagi dipergunakan, ia pun tidak lagi mengenakan rangkaian bunga; dan sebagainya dan duduk di tanah. Ketika anda memasuki kehidupan non-duniawi ia menjadi janda; dan menolak hadiah dari Raja lain yang menyukainya. Demikian setia hatinya padamu." Demikianlah Raja Suddhodana mengungkapkan kesetiaan putri Yasodhara dalam berbagai cara.

 

Sang Bhagava menanggapi, "Tidak heran, Maharaja! bahwa dalam kehidupanku yang terakhir Ia mencintai-Ku, dan setianya hanya kepada-Ku saja. Dalam kehidupan yang lampau, ketika terlahir sebagai Kinnara (mahluk yang badannya sebelah atas adalah manusia dan sebelah bawah bagai burung), ia setia hanya kepadaku seorang." Lalu Sang Bhagava, atas permintaan Raja Suddhodana menceritakan kejadian di kehidupan yang lampau.

 

Waktu itu, Raja Brahmadatta menjadi Raja di Benares, Bodhisatta terlahir di Himalaya sebagai Kinnara. Isterinya bernama Canda. Mereka tinggal bersama di Gunung Perak bernama Canda-pabbata, atau Gunung Bulan. Pada waktu itu Raja Benares telah menitipkan kerajaannya kepada para menteri, dan dengan mengenakan dua jubah kuning, dan dengan mempersenjatai diri dengan lima macam senjata (pedang, tombak, busur, kapak perang, dan perisai), pergi mendaki Himalaya.

 

Ketika sedang memakan daging hasil buruannya ia teringat ada anak sungai kecil, ia lalu mulai mendaki bukit. Kedua Kinnara yang tinggal di Canda-pabbata pada waktu musim hujan tetap tinggal di puncak gunung, dan hanya turun jika cuaca panas. Pada saat itu Canda-kinnara beserta pasangannya turun dan berkeliling, meminyaki diri dengan parfum, memakan serbuk sari bunga, memakai pakaian tipis terbuat dari bunga untuk pakaian luar dan pakaian dalam, berputar-putar pada tanaman merambat untuk menyenangkan diri, menyanyikan lagu dengan suara semanis madu. Suaminya juga turun ke anak sungai itu; dan pada suatu tempat penghentian ia turun bersama isterinya, menaburkan bunga ke sekeliling, dan bermain di dalam air. Kemudian mereka mengenakan kembali pakaian dari bunganya, dan pada suatu tempat berpasir yang putih bagai hamparan perak mereka melemparkan sebuah sofa dari bunga, dan berbaring di sana. Dengan mengambil sebatang bambu, suaminya mulai bermain dan menyanyi dengan suara yang merdu bagai madu; sementara itu isterinya melambaikan tangannya yang lembut, menarikan gaya rumit dan juga bernyanyi. Raja mendengar suara, dengan melangkah perlahan-lahan supaya tidak terdengar ia mendekati dan berdiri memperhatikan kedua Kinnara dari tempat tersembunyi. Ia segera jatuh cinta dengan Kinnara wanita. Akan kupanah suaminya, supaya mati, pikirnya, dan setelah membunuhnya saya akan menetap di sini bersama isterinya. Lalu ia memanah suami Canda, yang lalu meratap dalam kesakitan sambil mengucapkan keempat syair berikut,

"Aku meninggal kurasa, dan darahku mengalir, mengalir, Saya tak dapat menahan kehidupanku, O, Canda! napasku akan habis!"
"Aku tenggelam, aku merasa sakit, hatiku terbakar, terbakar, Tetapi karena penderitaanmu, Canda, hatiku berduka."
"Seperti rumput, seperti pohon saya binasa, seperti sungai tak berair saya mengering, Tetapi karena penderitaanmu, Canda hatiku berduka."
"Air mataku jatuh seperti hujan pada danau di kaki gunung, Tetapi karena penderitaanmu, Canda, hatiku berduka."

 

Demikianlah Bodhisatta meratap dengan mengucapkan empat syair tersebut dan dengan berbaring di sofa yang terbuat dari bunga, ia kehilangan kesadaran, dan berpaling. Raja berdiri di tempatnya. Tetapi Kinnara wanita tidak tahu bahwa Bodhisatta terluka, walaupun ia telah meratap, karena mabuk cinta terhadapnya. Melihat Canda berbaring di sana berpaling nampak tanpa kehidupan, ia mulai merasa heran, apa yang terjadi dengan junjungannya. Ketika ia memeriksa ia melihat darah mengalir dari lubang luka, dan karena tak dapat menahan rasa sakit karena penderitaan terhadap suaminya tercinta ia menangis dengan suara keras.

 

"Kinnara prianya pasti sudah mati," pikir Raja, lalu ia keluar memperlihatkan diri. Ketika Canda melihatnya, ia berpikir, "Pasti dia inilah perampok yang telah membantai suamiku tersayang!" Ia gemetar, lalu terbang. Berdiri di puncak bukit ia mengutuk Raja dengan lima syair.

"Kau pangeran jahat, ah..nasibku sial! Suamiku tercinta terluka, yang sekarang terbaring di bawah pohon di hutan."
"O pangeran! Kesedihan yang melilit hatiku semoga dibayar ibumu, kesedihan yang melilit hatiku melihat Periku mati hari ini!"
"Ya pangeran! kesedihan yang melilit hatiku, semoga isterimu membayarnya, kesedihan yang melilit hatiku karena melihat periku mati hari ini!"
"Semoga ibumu berduka kehilangan junjungannya, dan semoga ia menangisi putranya, karena ini dilakukan karena nafsu terhadapku, kepada suamiku yang tak bersalah."
"Dan semoga isterimu mengalami kehilangan suami dan putra, karena ini dilakukan karena nafsu terhadapku, kepada suamiku yang tak berbahaya."

 

Setelah merintih dengan mengucapkan lima syair, ia berdiri di puncak gunung. Raja menenangkannya dengan mengucapkan syair juga.

"Jangan menangis atau bersedih, kukira kegelapan hutan telah membutakanmu, Sebuah istana akan menghormatimu, dan Anda akan menjadi ratuku."

 

"Apa yang kamu ucapkan?" Canda menjawab sambil menangis, ketika mendengarnya; dan dengan suara kuat bagai raungan singa ia mengucapkan syair penolakan berikut.

"Tidak! Aku akan bunuh diri! aku tak akan menjadi milikmu, Yang telah membunuh suamiku yang tak bersalah, karena nafsumu padaku."

 

Mendengar syair ini nafsu Raja menjadi hilang, dan ia mengucapkan syair berikut.

"Hiduplah sesuai keinginanmu mahluk pemalu! pergilah ke Himalaya, mahluk yang mencari makanan di semak-semak dan pepohonan, yang menyukai hutan."

 

Setelah mengucapkan syair ini Raja pergi tanpa merasa bersalah. Setelah Canda mengetahui bahwa Raja telah pergi, kembali dan memeluk Bodhisatta, membawanya ke puncak bukit, dan membaringkannya pada sebuah tempat rata di sana, meletakkan kepalanya pada pangkuan, ia merintih dalam dua belas syair.

"Di sini di perbukitan dan gua-gua gunung, di banyak lembah sempit dan relung gua, apa yang harus kulakukan, o periku, aku tak lagi melihatmu?"
"Berbagai binatang buas, dedaunan tersebar pada berbagai tempat menyenangkan,apa yang harus kulakukan, o periku, aku tak lagi melihatmu?"
"Berbagai binatang buas, bunga harum tersebar pada berbagai tempat menyenangkan,apa yang harus kulakukan, o periku, aku tak lagi melihatmu?"
"Air yang jernih mengalir turun dari pegunungan, dengan bunga tumbuh di mana-mana, apa yang harus kulakukan, o periku, kau telah meninggalkanku?"
"Bukit-bukit Himalaya yang biru, sangat menyenangkan dilihat, apa yang harus kulakukan, o periku, aku tak lagi memilikimu?"
"Emas di puncak perbukitan Himalaya, sangat menyenangkan untuk dilihat, apa yang harus kulakukan, o periku, aku tak lagi memilikimu?"
"Perbukitan Himalaya bernyala merah, sangat menyenangkan untuk dilihat, apa yang harus kulakukan, o periku, aku tak lagi memilikimu?"
"Puncak-puncak Himalaya tajam, sangat menyenangkan untuk dilihat, apa yang harus kulakukan, o periku, aku tak lagi memilikimu?"
"Puncak-puncak Himalaya bercahaya putih, sangat menyenangkan dilihat, apa yang harus kulakukan, o periku, aku tak lagi memilikimu?"
"Himalaya berwarna pelangi, sangat menyenangkan untuk dilihat, apa yang harus kulakukan, o periku, aku tak lagi memilikimu?"
"Bukit wangi adalah tempat kesenangan yakha; tanaman menutupi setiap tempat, apa yang harus kulakukan, o periku, aku tak lagi melihatmu?"
"Para peri menyukai bukit wangi (gandha madana), tanaman menutupi semua tempat, apa yang harus kulakukan, o periku, aku tak lagi melihatmu?"

 

Demikian ia merintih, dan meletakkan tangan Bodhisatta di dadanya dan merasakan bahwa tangan itu masih hangat. Canda masih hidup? pikirnya. Saya akan menggerakkan para dewa sampai ia hidup kembali! Lalu ia menangis keras-keras, menggerakkan mereka. Apakah tidak ada yang mengatur dunia? Apakah mereka sedang bepergian atau dalam petuangan mereka mati, sehingga tidak menyelamatkan suamiku? Oleh karena kekuatan deritanya singgasana dewa Sakka menjadi panas. Setelah memperhatikan ia tahu penyebabnya; ia mendekat dengan menyamar sebagai brahmana, dan mengambil air dari tempat air, dan memercikkan air itu kepada Bodhisatta. Saat itu juga racunnya menjadi tawar, warna tubuhnya kembali, bahkan ia tidak mengetahui di mana lukanya. Bodhisatta berdiri dengan baik. Canda yang melihat suaminya yang dicintainya sehat kembali, dalam kegembiraan jatuh di kaki Sakka, dan menyanyikan pujian kepadanya dengan beberapa syair.

"Terpujilah, brahmana mulia! Yang telah menolong seorang isteri tak berdaya. Ia memercikkan obat sari kehidupan, kepada suaminya yang tercinta!"

 

Kemudian Sakka memberikan nasehat : "Mulai sekarang jangan turun dari gunung bulan ke tempat yang dilalui oleh manusia, tetapi berdiam di sana." Sakka mengulangi nasehatnya dua kali lalu kembali ketempatnya. Dan Canda berkata kepada suaminya, "Mengapa berdiam disini dalam bahaya junjunganku? mari kita pergi ke gunung bulan." Lalu mengucapkan syair terakhir.

"Mari kita pergi ke gunung, Di mana air sungai yang indah mengalir, sungai-sungai yang ditumbuhi dengan bunga-bungaan, di sana selamanya, ketika angin sepoi-sepoi, berbisik di ribuan pepohonan, jam-jam bahagia tersihir oleh Canda."

 

Setelah Sang Bhagava mengakhiri khotbah ini, Beliau berkata, "Bukan hanya sekarang, tetapi jauh sebelumnya, ia setia dan penuh pengabdian kepadaku." Lalu beliau mengungkapkan kelahiran lampau, "Pada saat itu Raja adalah Anuruddha, Rahulamata adalah Canda dan saya adalah Kinnara pria."

 

[Sumber Asli: JatakaStories, translated into english by W.H.D. Rouse, M.A.
Dikutip dari Majalah Dhammacakka No.25/Tahun VII, 2002. Diterjemahkan oleh Wayan Budiana.]

 

 

Hits: 106