Category: Sutta Published: Tuesday, 02 January 2018

Nandanavimana - Istana Nandana (Vv VII.2)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi, di Hutan Jeta. Pada waktu itu, ada seorang pekerja miskin yang telah mengambil istri. Dia memiliki keyakinan dan menopang sendiri orang tuanya yang lanjut usia, karena pada pikirnya, "Perempuan yang ditempatkan di rumah tangga akan menjadi penguasa rumah itu. Jarang ada perempuan yang menghormati keluarga suaminya? Maka dia hidup seperti itu dengan menjaga peraturan moral dan menjalankan Athasila pada hari Uposattha. Setelah meninggal, dia terlahir lagi di antara alam Tiga Puluh Tiga dewa dengan istana duabelas yojana. Y.M. Maha Moggallana, ketika datang seperti yang telah diceritakan sebelumnya, bertanya kepadanya :

Read more: Nandanavimana - Istana Nandana (Vv VII.2)

Category: Sutta Published: Tuesday, 02 January 2018

Cittalatavimana - Istana Cittalata (Vv VII.1)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi, di Hutan Jeta. Pada waktu itu, ada seorang umat awam yang mencari nafkah dengan cara bekerja untuk orang lain. Dia memiliki keyakinan dan menopang sendiri orang tuanya yang lanjut usia, karena pada pikirnya, "Perempuan yang ditempatkan di rumah tangga akan menjadi penguasa rumah itu. Jarang ada perempuan yang menghormati keluarga suaminya? Maka dia hidup seperti itu dengan menjaga peraturan moral dan menjalankan Athasila pada hari Uposattha. Setelah meninggal, dia terlahir lagi di antara alam Tiga Puluh Tiga dewa dengan istana duabelas yojana. Y.M. Maha Moggallana, ketika datang seperti yang telah diceritakan sebelumnya, bertanya kepadanya :

Read more: Cittalatavimana - Istana Cittalata (Vv VII.1)

Category: Sutta Published: Friday, 29 December 2017

Uttaravimana - Istana Uttara (Vv VI.10)

 

 

Setelah Yang Terberkahi mencapai Nibbana akhir dan Konsili diadakan, Y.M. Kumara Kassapa pergi ke kota Setavya dengan banyak Bhikkhu dan tinggal di Hutan Simsapa. Pada waktu itu, seorang penguasa bernama Payasi mendengar hal ini dan dia pun mengunjungi dan menyambut beliau. Kemudian, dalam diskusi mengenai pandangan-pandangannya, Thera itu menyadarkannya tentang realitas kehidupan di luar dunia ini, sebagaimana diceritakan di Payasi Sutta. Sebelum pergi, Payasi memberikan dana-dana amal, tetapi dia mempersembahkan dana dan pakaian buruk yang bisa dikatakan tidak memadai, karena dia belum terbiasa dengan hal itu (sebelumnya). Karena itu, setelah meninggal dia muncul di kelompok dewa rendah dengan Empat Raja Besar. Sebaliknya, seorang pemuda brahmana bernama Uttara yang membantu Payasi dalam berbagai aktivitasnya telah berdana dengan dermawan dan penuh hormat. Dia muncul di dalam kelompok Tiga Puluh Tiga dewa dengan Istana dua belas yojana. Untuk menunjukkan rasa terima kasihnya, Uttara muncul dengan Istananya di hadapan Kumara Kassapa Thera dan menghormat beliau. Kumara Kassapa Thera bertanya kepadanya :

Read more: Uttaravimana - Istana Uttara (Vv VI.10)

Category: Sutta Published: Friday, 29 December 2017

Dutiyakundalivimana - Istana Pemakai Anting Kedua (Vv VI.9)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi, di Hutan Jeta. Pada waktu itu, sepasang murid utama Beliau dengan para pengikutnya sedang mengadakan perjalanan di antara suku Kasi dan di senja hari mereka tiba di suatu vihara. Seorang umat awam datang dan membasuh serta meminyaki kaki mereka. Dia mengundang para Bhikkhu itu untuk hari berikutnya, dan kemudian memberikan dana yang besar. Setelah berterima kasih kepadanya, para Thera itu pun melanjutkan perjalanannya. Setelah meninggal, dia terlahir lagi di alam Tiga Puluh Tiga dewa dengan Istana emas duabelas yojana. Y.M. Maha Moggallana bertanya kepadanya :

Read more: Dutiyakundalivimana - Istana Pemakai Anting Kedua (Vv VI.9)

Category: Sutta Published: Friday, 29 December 2017

Kundalivimana - Istana Pemakai Anting (Vv VI.8)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi, di Hutan Jeta. Pada waktu itu, sepasang murid utama Beliau dengan para pengikutnya sedang mengadakan perjalanan di antara suku Kasi dan di senja hari mereka tiba di suatu vihara. Seorang umat awam datang dan membasuh serta meminyaki kaki mereka. Dia mengundang para Bhikkhu itu untuk hari berikutnya, dan kemudian memberikan dana yang besar. Setelah berterima kasih kepadanya, para Thera itu pun melanjutkan perjalanannya. Setelah meninggal, dia terlahir lagi di alam Tiga Puluh Tiga dewa dengan Istana emas duabelas yojana. Y.M. Maha Moggallana bertanya kepadanya :

Read more: Kundalivimana - Istana Pemakai Anting (Vv VI.8)

Category: Sutta Published: Friday, 29 December 2017

Yavapalakavimana - Istana Penjaga Barli (Vv VI.7)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, di Hutan Bambu. Pada waktu itu, seorang pemuda miskin bekerja menjaga ladang barli. Untuk makan paginya, dia membawa kummasa. Ketika dia sedang duduk untuk makan, datang ke tempat itu seorang Thera yang kekotoran batinnya telah hancur. Pemuda itu bertanya, "Apakah Yang Mulia sudah memperoleh makanan?" Thera itu diam, tidak menjawab. Melihat hal ini, pemuda itu mengartikan "Belum". Maka, dia pun berkata, "Bhante, sudah terlambat untuk mengumpulkan dana makanan sekarang. Saat ini sudah amat dekat dengan jam makan; berbelas kasihanlah kepada saya, dan silakan makan kummasa ini". Karena welas asihnya, Thera itu pun makan sementara pemuda itu melayani beliau. Kemudian, setelah berterima kasih kepada pemuda itu, beliau pun pergi. Dengan bakti di pikirannya, pemuda itu berpikir telah melakukan hal yang baik dengan berdana kepada manusia yang mulia itu. Ketika kemudian dia meninggal, dia terlahir lagi di alam Tiga Puluh Tiga dewa dengan sebuah Istana sebagaimana telah dijelaskan di atas. Y.M. Maha Moggallana bertanya kepadanya :

Read more: Yavapalakavimana - Istana Penjaga Barli (Vv VI.7)

Category: Sutta Published: Friday, 29 December 2017

Bhikkhadayakavimana - Istana Pemberi Dana Makanan (Vv VI.6)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, di Hutan Bambu. Pada waktu itu, seorang bhikkhu sedang berjalan di jalan besar memasuki suatu desa untuk mengumpulkan dana makan dan berhenti di pintu sebuah rumah. Pemilik rumah yang baru saja membasuh tangan dan kakinya dan duduk untuk mulai makan memasukkan semua makanannya ke dalam mangkuk Bhikkhu tersebut. Setelah mengucapkan terima kasih, Bhikkhu itu kemudian pergi. Dengan gembira laki-laki itu berpikir, Saya telah memberikan makanan kepada seorang Bhikhhu yang lapar dan saya sendiri berpuasa. Setelah meninggal dunia, dia terlahir lagi di alam Tiga Puluh Tiga dewa dengan Istana emas dua belas yojana. Y.M. Maha Moggallana bertanya kepadanya :

Read more: Bhikkhadayakavimana - Istana Pemberi Dana Makanan (Vv VI.6)

Category: Sutta Published: Thursday, 28 December 2017

Dutiya-upassayadayakavimana - Istana Pemberi Tempat Bernaung Kedua (Vv VI.5)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, di Hutan Bambu. Pada waktu itu musim hujan sudah berlalu. Banyak Bhikkhu yang berada di dalam perjalanan untuk memberikan penghormatan kepada Yang Terberkahi memasuki suatu desa dan mencari tempat bermalam yang sesuai. Seorang umat awam yang ditemuinya, setelah berunding dengan istrinya, kemudian mengundang bhikkhu itu sebagai tamunya. Ketika keesokan paginya bhikkhu itu melanjutkan perjalanannya, umat awam itu memberi beliau segumpal molasis. Setelah dia meninggal, umat awam itu terlahir lagi dengan istrinya di alam Tiga Puluh Tiga dewa dengan Istana emas dua belas yojana. Y.M. Maha Moggallana bertanya kepadanya :

Read more: Dutiya-upassayadayakavimana - Istana Pemberi Tempat Bernaung Kedua (Vv VI.5)

Category: Sutta Published: Thursday, 28 December 2017

Upassayadayakavimana - Istana Pemberi Tempat Bernaung (Vv VI.4)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, di Hutan Bambu. Pada waktu itu musim hujan sudah berlalu. Seorang Bhikkhu yang berada di dalam perjalanan untuk memberikan penghormatan kepada Yang Terberkahi memasuki suatu desa dan mencari tempat bermalam yang sesuai. Seorang umat awam yang ditemuinya, setelah berunding dengan istrinya, kemudian mengundang bhikkhu itu sebagai tamunya. Ketika keesokan paginya bhikkhu itu melanjutkan perjalanannya, umat awam itu memberi beliau segumpal molasis. Setelah dia meninggal, umat awam itu terlahir lagi dengan istrinya di alam Tiga Puluh Tiga dewa dengan Istana emas dua belas yojana. Y.M. Maha-Moggallana bertanya kepadanya :

Read more: Upassayadayakavimana - Istana Pemberi Tempat Bernaung (Vv VI.4)

Category: Sutta Published: Thursday, 28 December 2017

Phaladayakavimana - Istana Pemberi Buah (Vv VI.3)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, di Hutan Bambu. Pada waktu itu, Raja Bimbisara ingin makan buah mangga yang belum musim. Tukang kebun, walaupun mengetahui kesulitannya, berjanji untuk berusaha sebaik-baiknya mencari buah mangga dengan cara-cara yang dipaksakan. Ketika ada empat buah mangga yang telah masak, dia memetiknya untuk raja. Tetapi ketika melihat Y.M. Maha Moggallana yang sedang berjalan untuk mengumpulkan dana makan, dia berpikir, "Saya akan memberikan buah mangga ini kepada manusia yang pantas memperolehnya. Saya rela bila raja akan membunuhku atau membuangku, karena sungguh tidak berarti tindakan jasa di sini dan kini jika diberikan kepada raja. Sebaliknya, sungguh tak terhingga tindakan jasa di sini dan kini serta di masa mendatang jika berdana kepada manusia yang mulia ini. Karena itu, dia memberikan buah mangga itu kepada Thera tersebut dan memberitahu raja. Raja mengirimkan orang-orangnya, dan berkata, "Periksalah apakah yang telah dikatakannya kepadaku itu benar. Y.M. Maha Moggallana kemudian memberikan buah mangga itu kepada Sang Buddha, yang kemudian membagikan juga pada para Thera, yaitu Sariputra, Maha-Moggallana, dan Maha Kasapa Thera. Mendengar hal ini, raja merasa gembira melihat keberanian tukang kebun itu, sehingga raja pun memberinya sebuah desa, pakaian, perhiasan, dan menyuruhnya agar juga memberikan jasa tindakan itu kepadanya. Tukang kebun itu menjawab : "Saya berdana, tuanku; silakan memilih perolehan sesuka Baginda. Ketika tukang kebun itu meninggal, dia terlahir lagi di antara alam Tiga Puluh Tiga dewa dengan Istana keemasan enambelas yojana. Y.M. Maha Moggallana bertanya kepadanya :

Read more: Phaladayakavimana - Istana Pemberi Buah (Vv VI.3)

Category: Sutta Published: Thursday, 28 December 2017

Dutiya-agariyavimana - Istana Rumah Kedua (Vv VI.2)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, di Hutan Bambu. Pada waktu itu, hidup satu keluarga kaya yang luhur di Rajagaha, suatu sumber manfaat yang baik bagi para Bhikkhu dan bhikkhuni. Ayah dan ibunya, Karena sepanjang hidup telah melakukan tindakan jasa atas nama Tiga Permata, meninggal dari sini dan terlahir di antara alam Tiga-Puluh-Tiga dewa. Bagi mereka tersedia suatu Istana emas sebesar sepuluh yojana. Pada waktu itulah Y. M. Maha Moggallana bertanya :

Read more: Dutiya-agariyavimana - Istana Rumah Kedua (Vv VI.2)