Category: Sutta Published: Thursday, 28 December 2017

Agariyavimana - Istana Rumah (Vv VI.1)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, di Hutan Bambu. Pada waktu itu, hidup satu keluarga kaya yang luhur di Rajagaha, suatu sumber manfaat yang baik bagi para Bhikkhu dan bhikkhuni. Ayah dan ibunya, Karena sepanjang hidup telah melakukan tindakan jasa atas nama Tiga Permata, meninggal dari sini dan terlahir di antara alam Tiga-Puluh-Tiga dewa. Bagi mereka tersedia suatu Istana emas sebesar sepuluh yojana. Pada waktu itulah Y. M. Maha Moggallana bertanya :

Read more: Agariyavimana - Istana Rumah (Vv VI.1)

Category: Sutta Published: Wednesday, 27 December 2017

Maharathavimana - Istana Kereta Kencana Besar (Vv V.14)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi, di Hutan Jeta. Ketika Y.M. Maha-Moggallana mengadakan perjalanan di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa, beliau melihat dewa-muda, Gopala, yang sedang meninggalkan Istananya dan menaiki keretanya yang agung untuk pergi bersenang-senang dan berolahraga. Ketika dewa-muda itu melihat Thera tersebut, dia pun turun dari kereta dan berdiri di hadapan beliau dengan kedua tangan yang ditangkupkan di atas kepala. Y.M.Maha-Moggallana bertanya kepadanya :

  1. "Duduk di kereta yang dicat berwarna-warni ini, yang indah dan ditarik seribu kuda dengan kuk, pergi ke tempat-tempat hiburan (engkau bersinar) bagaikan pendana yang melimpah, raja para makhluk, Vasava."

    Read more: Maharathavimana - Istana Kereta Kencana Besar (Vv V.14)

Category: Sutta Published: Wednesday, 27 December 2017

Cularathavimana - Istana Kereta Kencana Kecil (Vv V.13)

 

 

Setelah Sang Buddha mencapai Nibbana Akhir, relik Beliau dibagi-bagikan. Di bawah bimbingan Maha-Kassapa Thera yang agung, dipilihlah para Bhikkhu untuk mengulang Dhamma; para siswa, yang masing-masing datang untuk musim penghujan bersama dengan kelompoknya, tinggal di tempat yang berbeda-beda karena memikirkan orang-orang yang menerimanya. Dan bersama Y.M. Maha Kaccana tinggal di daerah berhutan di perbatasan. Pada waktu itu Assaka sedang berkuasa di kota Pota. Sujata, putra Assaka dari permaisuri utamanya yang dibuang oleh ayahnya karena tekanan dari istrinya yang paling muda– telah menempuh kehidupan di hutan. Pada zaman Buddha Kassapa sebenarnya dia memilih kehidupan sebagai bhikkhu, namun pada waktu itu dia meninggal sebagai manusia biasa. Sekarang dia terlahir lagi dan diberi nama Sujata. Ketika ibunya meninggal pada usia muda, permaisuri yang baru pun melahirkan anak laki-laki. Raja merasa sangat gembira dan menjanjikan hadiah khusus kepada istrinya itu. Ketika Sujata berusia enambelas tahun, istri raja menuntut janji tersebut. Dia meminta pada raja untuk menjadikan putranya itu sebagai pewaris tahta. Tentu saja raja menolak karena putra tertuanyalah yang berhak sebagai ahli warisnya. Namun ratu terus merongrong raja untuk memenuhi janjinya, sehingga akhirnya raja merasa harus melakukannya. Dengan bercucuran air mata, raja pun memberitahu Sujata. Pemuda itu merasa sedih melihat kesedihan ayahnya, dan dia meminta izin untuk pergi menjalani kehidupan-hutan. Raja bermaksud membangun sebuah kota untuknya, tetapi Sujata tidak setuju. Dia juga tidak bersedia dikirim ke pangeran tetangga. Raja memeluknya dan membiarkan dia pergi, atas pengertian bahwa dia harus kembali setelah menjadi yatim piatu untuk mengambil-alih tahta kerajaan. Sujata hidup dengan cara seperti penghuni hutan yang lain. Pada suatu hari, dia pergi berburu rusa. Dia terus mengejar sampai rusa itu lenyap di dekat gubuk daun Maha Kaccana Thera yang bertanya kepadanya demikian :

Read more: Cularathavimana - Istana Kereta Kencana Kecil (Vv V.13)

Category: Sutta Published: Wednesday, 27 December 2017

Tatiyanagavimana - Istana Gajah Ketiga (Vv V.12)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, di Hutan Bambu. Pada waktu itu, tiga Thera Arahat datang ke suatu desa untuk melewatkan musim penghujan. Dan dari sana mereka pergi ke Rajagaha untuk memberikan penghormatan kepada Yang Terberkahi. Ketika melewati perkebunan tebu milik seorang brahmana yang memiliki pandangan salah, mereka bertanya kepada penjaganya : "Dapatkah kami tiba di Rajagaha hari ini juga?" "Tidak, tuan, jarak ke sana masih setengah yojana; silakan bermalam di sini saja dan lanjutkan perjalanan besok." "Apakah di sini ada tempat untuk kami bermalam?" "Tidak, tetapi akan saya beritahukan suatu tempat." Penjaga itu kemudian mendirikan gubuk-gubuk dari batang tebu, ranting dan sebagainya. Lalu dia memberi mereka nasi dan sari-tebu. Setelah mereka makan, penjaga itu memberi mereka masing-masing sebatang tebu, dengan pemikiran bahwa itu adalah (dari) bagiannya untuk masa panen itu. Dengan sukacita dan harapan bagi kesejahteraannya sendiri, dia lalu kembali. Tetapi majikannya bertemu dengan para bhikkhu itu, dan bertanya kepada mereka dari mana mereka memperoleh tebu. Mendengar jawabannya, dia menjadi amat murka. Segera dia memukul si penjaga itu dengan tongkat dan membunuhnya dengan satu pukulan. Lewat jasa tindakannya, penjaga tersebut terlahir lagi di Aula Dewa-dewa Sudhamma. Dia memiliki seekor gajah besar yang seluruhnya berwarna putih. Kedua orang tua dan sanak saudaranya meratap pada pemakamannya, tetapi dia datang menunggang gajah ke antara mereka dalam kebesaran. Seorang laki-laki yang pandai dan berpembawaan halus bertanya kepadanya tentang tindakan jasa yang telah dilakukannya :

Read more: Tatiyanagavimana - Istana Gajah Ketiga (Vv V.12)

Category: Sutta Published: Wednesday, 27 December 2017

Dutiyanagavimana - Istana Gajah Kedua (Vv V.11)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, di Hutan Bambu. Pada waktu itu, seorang umat awam yang memiliki keyakinan menjalani kehidupan sesuai peraturan. Dia menjalankan hari-hari Uposatha, memberikan dana kepada Sangha dan pergi ke vihara untuk mendengarkan Dhamma dengan membawa dana. Setelah meninggal dari sini dia muncul di alam Tiga Puluh Tiga dewa. Seekor gajah putih yang besar siap melayaninya, dan dengan sejumlah besar pengikut dia kadang-kadang pergi berolah raga untuk bersenang-senang. Di suatu tengah malam, karena didorong keinginan untuk menunjukkan rasa terima kasih, dengan menunggang gajahnya dia pergi dari alam-dewa menuju Hutan Bambu. Di sana berdiri dengan sikap bakti di hadapan Yang Terberkahi. Y.M. Vangisa yang berdiri di dekat Yang Terberkahi, dengan izin Yang Terberkahi bertanya kepadanya :

Read more: Dutiyanagavimana - Istana Gajah Kedua (Vv V.11)

Category: Sutta Published: Wednesday, 27 December 2017

Nagavimana - Istana Gajah (Vv V.10)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi, di Hutan Jeta. Pada waktu itu Y. M. Maha-Moggallana sedang mengadakan perjalanan ke alam Tiga-Puluh-Tiga dewa. Beliau melihat satu dewa-muda menunggang seekor gajah besar yang seluruh tubuhnya berwarna putih dengan sejumlah besar pengikut– terbang di udara. Y.M. Maha-Moggallana pergi menghampirinya. Dewa-muda itu lalu turun dan memberi hormat kepada beliau dan Y.M. Maha-Moggallana bertanya kepadanya tentang tindakan yang telah dilakukannya :

Read more: Nagavimana - Istana Gajah (Vv V.10)

Category: Sutta Published: Wednesday, 27 December 2017

Dutiyasucivimana - Istana Jarum Kedua (Vv V.9)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, di Hutan Bambu. Seorang penjahit pergi untuk melihat-lihat hutan itu, dan di sana dia melihat seorang bhikkhu yang sedang menjahit jubah dengan jarum yang telah dibuat di Hutan Bambu itu. Dia pun memberi beliau jarum-jarum dengan wadahnya. Pertanyaan yang sama diajukan kepada penjahit itu setelah dia terlahir kembali di alam Tiga Puluh Tiga dewa.

  1. "Sungguh tinggi Istana ini dengan tugu-tugu yang berhias permata, selusin yojana kelilingnya, ada tujuh ratus aula berpinakel yang elok dan pilar-pilar batu permata hijau-laut indah yang dilapisi logam berkilau."

    Read more: Dutiyasucivimana - Istana Jarum Kedua (Vv V.9)

Category: Sutta Published: Wednesday, 27 December 2017

Sucivimana - Istana Jarum (Vv V.8)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, di Hutan Bambu. Pada waktu itu, dilakukan pembuatan jubah untuk Y.M. Sariputta dan dibutuhkan sebuah jarum. Sesampai di rumah seorang pandai besi untuk mengumpulkan dana makan dan ditanya apa yang dibutuhkan, bhikkhu itu memberitahukan kebutuhannya. Dengan pikiran yang penuh keyakinan, si pandai besi itu mempersembahkan dua jarum dan memohon beliau untuk memberitahu dia jika ada kebutuhan lagi. Setelah pandai besi itu meninggal, dia terlahir lagi di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa dan Y.M. Maha-Moggallana bertanya kepada dewa-muda ini.

Read more: Sucivimana - Istana Jarum (Vv V.8)

Category: Sutta Published: Tuesday, 26 December 2017

Dutiyakaraniyavimana - Istana Yang Harus Dikerjakan Kedua (Vv V.7)

 

 

Cerita ini mirip dengan yang cerita keenam. Bedanya, di sana makanan itu diberikan kepada Yang Terberkahi, sedangkan di sini kepada seorang Thera.

  1. "Sungguh tinggi Istana ini dengan tugu-tugu yang berhias permata, selusin yojana kelilingnya, ada tujuh ratus aula berpinakel yang elok dan pilar-pilar batu permata hijau-laut indah yang dilapisi logam berkilau."

  2. "Di sana engkau berdiam dan minum serta makan sementara kecapi-kecapi surgawi melantunkan melodi. Di sini terdapat citarasa surgawi, lima jenis kesenangan-indera, dan perempuan-perempuan yang berhias emas menari-nari."

    Read more: Dutiyakaraniyavimana - Istana Yang Harus Dikerjakan Kedua (Vv V.7)

Category: Sutta Published: Tuesday, 26 December 2017

Karaniyavimana - Istana Yang-Harus-Dikerjakan (Vv V.6)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi, di Hutan Jeta. Seorang umat awam, ketika kembali dari mandi di sungai Aciravati, bertemu dan mengundang Yang Terberkahi untuk makan di rumahnya dan menjamu Beliau dengan hormat. Sisanya adalah seperti pada cerita sebelumnya. Jawaban dewa itu adalah sebagai berikut :

  1. "Sungguh tinggi Istana ini dengan tugu-tugu yang berhias permata, selusin yojana kelilingnya, ada tujuh ratus aula berpinakel yang elok dan pilar-pilar batu permata hijau-laut indah yang dilapisi logam berkilau."

    Read more: Karaniyavimana - Istana Yang-Harus-Dikerjakan (Vv V.6)

Category: Sutta Published: Tuesday, 26 December 2017

Dvarapalakavimana - Istana Penjaga Pintu (Vv V.5)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, di Hutan Bambu. Pada waktu itu, seorang umat awam memberikan dana makanan empat kali tanpa henti kepada Sangha. Tetapi karena takut pada pencuri, dia biasanya memastikan bahwa pintu rumahnya selalu terkunci karena rumahnya berada di batas luar kota itu. Karena itu, para bhikkhu yang datang untuk makan di situ kadang-kadang harus pergi lagi dalam keadaan lapar. Setelah mengetahui hal ini dari istrinya, dia menunjuk seorang penjaga pintu untuk menyambut para Bhikkhu yang datang dan melayani mereka. Ketika pendana itu meninggal, dia terlahir lagi di alam Yama. Tetapi ketika penjaga pintu itu meninggal, dia terlahir lagi di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa dengan Istana emas duabelas yojana, seperti pada cerita sebelumnya. Kepada Y.M. Moggallana yang bertanya serupa, dia menjawab :

Read more: Dvarapalakavimana - Istana Penjaga Pintu (Vv V.5)