Category: Sutta Published: Tuesday, 26 December 2017

Kakkatakarasadayakavimana - Istana Pemberi Sup Kepiting (Vv V.4)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, di Hutan Bambu. Pada waktu itu, seorang bhikkhu yang mempraktekkan pandangan terang terpaksa meninggalkan praktek itu karena sakit telinga yang parah. Obat tabib sama sekali tidak membantu. Dia memberitahukan hal ini kepada Yang Terberkahi. Sang Buddha –yang mengetahui bahwa obatnya adalah sup-kepiting menyuruhnya mencari dana makanan di daerah Magadha. Maka dia pergi ke sana dan berdiri untuk menerima dana makanan di pintu gubuk seorang penjaga ladang. Penjaga yang telah masak sup-kepiting ini meminta beliau untuk duduk dan memberinya sup-kepiting. Baru saja bhikkhu itu mencicipinya, dia segera merasa sehat kembali seolah-olah dimandikan dengan air seratus bejana. Karena ketenangannya kembali pulih berkat makanan yang sesuai, dia mengarahkan pikirannya (lagi) menuju pandangan terang dan mencapai tingkat arahat bahkan sebelum dia selesai makan. Kepada penjaga ladang itu beliau berkata: "O, umat awam, lewat buah dari tindakan jasa ini engkau tidak akan menderita sakit –baik tubuh maupun pikiran." Setelah memberikan pemberkahan, beliau pun pergi. Ketika kemudian penjaga ladang itu meninggal, dia terlahir di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa di suatu ruangan yang terbuat dari batu permata hijau-laut, di suatu Istana keemasan duabelas yojana dengan pilar-pilar batu permata dan dihiasi tujuh ratus aula berpinakel. Di pintunya terdapat kepiting emas yang digantung dengan untaian mutiara. Y.M. Maha Moggallana yang pergi ke sana melihatnya dan bertanya :

Read more: Kakkatakarasadayakavimana - Istana Pemberi Sup Kepiting (Vv V.4)

Category: Sutta Published: Tuesday, 26 December 2017

Chattamanavimana - Istana Chatta, Seorang Pemuda Bhramana (Vv V.3)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi, di Hutan Jeta. Pada waktu itu, ada putra brahmana bernama Chatta yang telah selesai belajar di bawah bimbingan seorang brahmana Setavya. Ketika pulang, orang tuanya memberi uang seribu kahapana untuk diberikan kepada gurunya. Maka dia pun berangkat menuju Setavya untuk membayar brahmana Setavya itu. Para pencuri mendengar hal ini dan mereka merencanakan untuk membunuh Chatta dan merampas uangnya di tengah Jalan. Yang Terberkahi ketika muncul dari pencapaian kasih sayang yang besar berangkat di pagi hari dan duduk di bawah pohon di jalan yang akan dilalui pemuda itu. Ketika pemuda itu lewat, Sang Buddha bertanya kepadanya mengenai misinya, dan selanjutnya menanyakan apakah dia mengetahui perihal tiga perlindungan dan lima peraturan. Chatta mengatakan tidak, dan Yang Terberkahi mengajarkan hal itu kepadanya untuk dipelajari.

Read more: Chattamanavimana - Istana Chatta, Seorang Pemuda Bhramana (Vv V.3)

Category: Sutta Published: Tuesday, 26 December 2017

Revativimana - Istana Revati (Vv V.2)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di dekat Baranasi, di Isipatana di Taman Rusa. Pada waktu itu ada seorang umat awam yang memiliki keyakinan, yang merupakan pendana dermawan dan pelayan Sangha bernama Nandiya. Orang tua Nandinya ingin agar Nandiya menikahi sepupunya yang bernama Revati. Namun karena Revati tidak memiliki keyakinan dan tidak dermawan, Nandiya tidak bersedia. Suatu hari, ibu Nandiya menyuruh Revati untuk datang ke rumahnya dan membuat persiapan menjamu Sangha. Revati melakukan hal itu. Ibu Nandiya memberitahu putranya : "Dia sekarang akan menerima nasihat kita." Maka Nandiya setuju menikahinya. Revati melahirkan dua putra. Nandiya mengadakan acara dana besar-besaran, dan membangun aula di vihara di Isipatana yang dia persembahkan kepada Sang Tathagata, dan menuangkan air persembahan di tangan Beliau. Pada saat itu juga, di alam Tiga-Puluh Tiga dewa muncullah istana surgawi seukuran dua belas yojana dengan peri-peri sebagai pelayan. Ketika sedang berkelana, Y.M. Maha-Moggallana melihatnya dan bertanya kepada Yang Terberkahi untuk siapakah istana itu. Yang Terberkahi mengatakan syair-syair ini :

Read more: Revativimana - Istana Revati (Vv V.2)

Category: Sutta Published: Tuesday, 26 December 2017

Mandakudevaputtavimana - Istana Dewa Katak (Vv V.1)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Campa, di tepi kolam teratai Gaggara. Bangkit ketika hari menjelang fajar, Sang Buddha muncul dari pencapaian kasih sayang yang besar. Beliau melihat, "Di petang hari ini nanti, ketika saya sedang mengajarkan Dhamma, akan ada seekor katak yang mendengar suaraku dan tertarik. Namun ia menjadi korban kekerasan di tangan seseorang, dan akan mati. Ia akan terlahir di alam dewa dan akan datang lagi sementara kelompok orang banyak ini sedang memandangnya. Pada saat itulah akan ada penembusan besar ke dalam Dhamma." Setelah pekerjaan hari itu selesai, Sang Buddha mulai mengajar kelompok berunsur-empat di tepi kolam. Seekor katak berpikir, "Inilah yang disebut Dhamma." Ia keluar dari kolam dan berjongkok di belakang para pendengar. Seorang penggembala sapi melihat Sang Guru sedang berbicara sementara kelompok itu mendengarkan dengan tenang. Dia berdiri bersandar pada tongkat penyangganya dan katak itu tergilas. Katak itu terlahir kembali di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa dengan Istana keemasan seukuran dua belass yojana dan dilayani oleh peri-peri. Ketika merenungkan tindakan apa yang telah dilakukannya sehingga terlahir di sana, dia tidak melihat apa pun kecuali rasa tertarik (-nya) kepada suara Yang Terberkahi. Dengan segera dia datang bersama Istananya dan turun dari situ. Ketika melihat Yang Terberkahi, dia menghampiri Beliau dan memberikan penghormatan. Untuk mengungkapkan Keagungan-Buddha, Beliau bertanya kepadanya?

Read more: Mandakudevaputtavimana - Istana Dewa Katak (Vv V.1)

Category: Sutta Published: Wednesday, 20 December 2017

Rajjumalavimana - Istana Rajjumala (Vv IV.12)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi, di Hutan Jeta. Di suatu desa kecil bernama Gaya hidup seorang brahmana yang memberikan anak perempuannya kepada putra seorang brahmana dalam perkawinan. Di rumah itu, menantu inilah yang memegang kekuasaan. Sejak awa, dia sudah langsung tidak menyukai anak perempuan seorang pelayan. Dia sering memarahi dan mencaci dan memukul pelayan ini. Ketika anak itu tumbuh dewasa, perempuan itu memperlakukan dia secara lebih buruk lagi. (Dikatkan, bahwa pada zaman Buddha Kassapa hubungan mereka adalah sebaliknya). Untuk mencegah agar majikannya tidak menarik rambutnya ketika dia dipukuli, gadis pelayan ini pergi ke tukang cukur dan mencukur rambutnya. Ketika majikan perempuan itu marah, dia berkata bahwa pelayan itu tidak bisa meloloskan dirinya darinya dengan cara menggundulu kepalanya. Majikan itu lalu mengikatkan tali pada kepala pelayan itu, dan menarik dia turun menggunakan tali itu. Dia tidak mengizinkan pelayan ini melepaskan tali itu; demikianlah dia memperoleh namanya.

Read more: Rajjumalavimana - Istana Rajjumala (Vv IV.12)

Category: Sutta Published: Wednesday, 20 December 2017

Vandanavimana - Istana Penghormatan (Vv IV.11)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi. Pada waktu itu, beberapa bhikkhu telah melewatkan masa penghujan di tempat tinggal desa. Karena telah "diundang" ke suatu tempat, mereka pergi melalui suatu desa dalam perjalanan menuju Savatthi untuk menemui Yang Terberkahi. Di sana, seorang perempuan menjumpai dan memberikan penghormatan kepada para bhikkhu dengan pikiran penuh keyakinan dan penuh hormat serta niat baik. Setelah meninggal, perempuan itu terlahir lagi di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa, dan Y.M.Maha-Moggallana bertanya kepadanya :

Read more: Vandanavimana - Istana Penghormatan (Vv IV.11)

Category: Sutta Published: Wednesday, 20 December 2017

Ucchuvimana - Istana Tebu (Vv IV.10)

 

 

Cerita ini mirip di teks (Pali) dengan Istana Tebu sebelumnya. Tetapi, di sini ibu mertuanya menggunakan segumpal tanah ketika dia membunuh menantu perempuannya. Karena itulah maka ceritanya telah diturunkan secara terpisah.

  1. "Setelah menerangi dunia beserta para dewanya, engkau bersinar bagaikan rembulan dan matahar dengan kemegahan dan keelokanmu, keagunganmu, kecemerlanganmu, bagaikan Brahma yang melampaui sinar para dewa, di alam Tiga-Puluh-Tiga bersama Inda."

    Read more: Ucchuvimana - Istana Tebu (Vv IV.10)

Category: Sutta Published: Wednesday, 20 December 2017

Pitavimana - Istana Kuning (Vv IV.9)

 

 

Setelah Yang Terberkahi mencapai nibbana akhir, Raja Ajatasatu membangun stupa besar di Rajagaha untuk menempatkan relik Yang Terberkahi yang dimilikinya dan melakukan upacara persembahan. Pada waktu itu, seorang umat awam perempuan datang dengan empat bunga rambat kosataki untuk mempersembahkan tanpa mempedulikan bahaya di jalan. Namun tiba-tiba ada seekor sapi dengan anaknya yang menerjang dengna liar. Dengan marah sapi itu menyerang perempuan itu dengan tanduknya sehingga dia meninggal. Dia terlahir di alamTiga-Puluh-Tiga dewa. Ketika dia muncul di sana, Sakka - raja para dewa- sedang berada di keretanya untuk berolah raga di taman hiburan. Sakka bertanya kepada perempuan itu dalam syair-syair ini :

Read more: Pitavimana - Istana Kuning (Vv IV.9)

Category: Sutta Published: Wednesday, 20 December 2017

Ambavimana - Istana Mangga (Vv IV.8)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi. Pada waktu itu, seorang umat awam perempuan di sana mendengar tentang buah yang besar dan keuntungan yang besar dari mendanakan tempat-kediaman. Maka, dengan bersemangat, dia menghormat Yang Terberkahi, dan berkata demikian, "Bhante, saya ingin membangun tempat-tinggal. Saya mohon Bhante menunjukkan tempat yang sesuai kepada saya." Yang Terberkahi menyuruh para bhikkhu untuk menunjukkan kepadanya tempat yang sesuai. Kemudian perempuan itu membangun suatu tempat tinggal yang indah dengan pohon-pohon mangga yang ditanam disekelilingnya. Tempat tinggal yang dikelilingi deretan pohon mangga di semua sisinya itu memiliki banyak tempat yang teduh dan banyak air. Tanahnya yang putih ditaburi pasir bagaikan jala mutiara. Semua itu tampak memukau. Perempuan itu mendekor vihara dengan hiasan dinding berbagai warna dengan karangan bunga dan rangkaian wewanggian bagaikan Istana dewa. Dia menaruh lampu minyak membungkus pohon-pohon mangga dengan kain baru, kemudian mempersembahkannya kepada Sangha. Setelah meninggal, dia terlahir lagi alam Tiga-Puluh-Tiga dewa. Baginya di sana muncul sebuah Istana besar yang dikelilingi oleh hutan mangga. Di sana, dikelilingi sekelompok peri, dia menikmati sukacita-surgawi. Y.M. Maha-Monggallana menghampirinya dan bertanya :

Read more: Ambavimana - Istana Mangga (Vv IV.8)

Category: Sutta Published: Wednesday, 20 December 2017

Caturitthivimana - Istana Empat Perempuan (Vv IV.7)

 

 

Ketika Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi, Y.M.Maha-Monggallana sedang mengunjungi alam dewa, seperti yang telah diceritakan sebelumnya. Beliau pergi ke alam Tiga-Puluh-Tiga dewa. Disana, di empat Istana, secara berturut-turut beliau melihat empat putri-dewa yang masing-masing menikmati kegembiraan-surgawi dengan pengikut seribu peri. Dan secara berturut-turut beliau menanyakan tentang tindakan (bajik) yang dulu dilakukan oleh mereka :

Read more: Caturitthivimana - Istana Empat Perempuan (Vv IV.7)

Category: Sutta Published: Wednesday, 20 December 2017

Viharavimana - Istana Vihara (Vv IV.6)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi di Jetavana. Pada waktu itu Visakha, umat awam agung itu telah dibujuk oleh teman-teman dan pelayan-pelayannya untuk berjalan-jalan di taman pada suatu hari perayaan. Setelah mandi dan diminyaki dengan baik, dia menyantap makanan yang enak, menghias diri dengan seperangkat hiasan "perambat besar". Lalu, dengan dikelilingi lima ratus pendamping, dia berangkat dari rumah dengan upacara besar dan dengan sejumlah besar dan dengan sejumlah besar pengikut. Sementara berjalan menuju taman itu, Visakha berpikir, "Apa yang ada bagiku di sana, di dalam hiburan kosong seolah-olah saya adalah gadis muda? Sebaiknya saya pergi ke vihara memberi hormat kepada Yang Terberkahi dan para pria mulia yang memberikan inspirasi pada pikiran, dan saya akan mendengarkan Dhamma." Maka dia pergi ke vihara, berhenti di satu sisi, melepaskan perhiasan "perambat besar", dan memberikannya ke tangan seorang pelyana. Lalu, dengan khusuk dia memberi penghormatan kepada Yang Terberkahi, dan duduk di satu sisi. Dia mendengarkan Dhamma, dan melakukan upacara mengelilingi Sang Buddha, dan kemudian meninggalkan vihara.

Read more: Viharavimana - Istana Vihara (Vv IV.6)