Category: Sutta Published: Wednesday, 20 December 2017

Kanjikadayikavimana - Istana Pemberi Bubur Nasi (Vv IV.5)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Andhakavinda. Pada waktu itu, penyakit-angin muncul di perut Yang Terberkahi. Yang Terberkahi berkata pada Y.M Ananda, "pergilah, Ananda. Bila engkau telah mengumpulkan dana makanan, bawakan sedikit bubu-nasi asam sebagai obat bagiku." "Saya akan melakukannya, Bhante yang terhormat," kata Ananda berjanji. Dengan membawa mangkuk yang telah diberikan oleh Raja-raja Agung, beliau berdiri di pintu rumah seorang tabibyang merupakan penopangnya. Ketika istri tabib itu melihat beliau, dia kelur menemui Y.M. Ananda. Setelah menyapa, dia mengambil mangkuk itu dan bertanya kepada Thera itu, "Obat mcam apa yang dibutuhkan, Bhante yang terhormat? Perempuan ini memang cerdas. Dia menyadari, "Thera ini datang kemari bila membutuhkan obat, bukan makanan," Y.M. Ananda berkata, "bubur-nasi asam." perempuan itu berpikir, "Obat ini bukan untuk tuanku; sesungguhnya mangkuk ini tak lain tak bukan adlah milik Yang Terberkahi. Mari, biarlah saya ambilkan bubur nasi yang cocok bagi pelindung dunia. " Dengan dipenuhi kebahagiaan dan penghormatan, dia menyiapkan bubur dengan sari jujube, dan mengisi mangkuk itu. Selain itu dia juga menyiapkan dan mengirimkan makanan lain. Melalui dana itu, penaykit Yang Terberkahi pun mereda. Setelah perempuan tersebut meninggal, dia muncul di antara alam Tiga-Puluh-Tiga dewa. Dia berbahagia dan menikmati kegembiraan surgawi yang besar. Y.M. Maha-Moggallana bertanya kepadanya demikian :

Read more: Kanjikadayikavimana - Istana Pemberi Bubur Nasi (Vv IV.5)

Category: Sutta Published: Wednesday, 20 December 2017

Alomavimana - Istana Aloma (Vv IV.4)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di dekat Baranasi di Isipatana di taman-rusa, Beliau memasuki Banarasi untuk mengumpulkan dana makanan. Di sana, seorang perempuan miskin bernama Aloma melihat Beliau. Karena miliki keyakinan dan melihat tidak ada yang lainnya dapat diberikan, dia berpikir, "Bahkan benda semafacm ini pula bila diberikan kepada Yang Terberkahi akan memberikan buah yang besar bagiku." Maka dia mempersembahkan eremah kummasa kering yang tidak diasinkan. Yang Terberkahi menerimanya. Karena berdana makanan itu, dia bersukacita. Ketika meninggal, dia terlahir di antara Tiga-Puluh-Tiga dewa. Y.M.Maha-Moggallana bertanya kepadanya :

Read more: Alomavimana - Istana Aloma (Vv IV.4)

Category: Sutta Published: Wednesday, 20 December 2017

Nagavimana - Istana Gajah (Vv IV.3)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di dekat Baranasi di Isipatana di taman-rusa. Pada waktu itu, ada seorang perempuan yang tinggal di Banarasi, seorang yang percaya dan memiliki keyakinan, yang mempratekkan moralitas. Maka dia memiliki seperangkat jubah yang ditenun untuk Yang Terberkahi dan telah dicuci bersih. Dia menghampiri Sang Buddha dan menaruhkan jubha itu di kaki Beliau dengna berkata, "Bhante yang terhormat, semoga Yang Terberkahi berbelas-kasihan menerima seperangkat jubah ini, semoga ini dapat memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan dalam waktu yang lama." Yang Terberkahi menerimanya. Melihat kualifikasi perempuan itu, Sang Buddha mengajarkan Dhamma. Di akhir Ajaran, dia mencapai buah Pemasuk-Arus. Dengan penuh hormat dia kemudian menyapa Yang Terberkahi, berputar mengelilingi Sang Buddha dan pulang. Tak lama kemudian, dia meninggal dan terlahir lagi di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa, sebagai Yasuttara yang disayangi oleh Sakka, raja para dewa, sebagai favoritnya. Melalui kekuatan tindakan jasanya, di sana muncul seekor gajah agung ditutupi jaring emas; di punggung gajah itu muncullah suatu pavilium permata dengan sebuah dipan permata indah di dalamnya. Pada kedua gadingnya muncullah dua kolam teratai yang indah, cemerlang dengan teratai dan lili-air. Di sana, sambil berdiri di atas teratai, para putri-dewa menari dan menyanyi sembil memegang lima jenis instrumen musik.

Read more: Nagavimana - Istana Gajah (Vv IV.3)

Category: Sutta Published: Wednesday, 20 December 2017

Pabhassaravimana - Istana Yang Bersinar (Vv IV.2)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha. Dan pada waktu itu, di Rajaga ada seorang umat awam yang memiliki keyakinan kepada Maka-Monggallana Thera. Salah satu putirnya juga merupakan seorang yang percaya dan memiliki keyakinan. Dia memiliki raas hormat yang tinggi kepada Thera itu. Suatu hari Y.M. Maha-Monggallana Thera berjalan untuk mengumpulkan dana makanan di Rajagaha, dan sampai ke rumah itu. Gadis itu amat bersukacita ketika melihat beliau. Dia menyiapkan tempat duduk, dan ketika Thera tersebut telah duduk, dia memberikan penghormatan kepada beliau dengan rangkaian bunga melati, dan dia megnisi mangkuk Thera itu dengan sirup gula. Karena ingin menyampaikan teriam kasih, Thera itu tetap duduk. Gadis itu mengisyaratkan bahwa ada banyak tugas rumah-tangga yang harus dikerjakannya. Karena tidak punya banyak waktu lagi, dia berkata, "Saya akan mendengarkan Dhamma pada hari lain." Setelah memberikan penghormatan kepada Thera, dia meninggalkan beliau. Pada hari yang asma itu dia meninggal dan terlahir lagi di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa. Y.M. Maha-Monggallana menghampirinya dan bertanya kepadanya dengan syair-syair ini :

Read more: Pabhassaravimana - Istana Yang Bersinar (Vv IV.2)

Category: Sutta Published: Wednesday, 20 December 2017

Manjetthakavimana - Istana Merah Tua (Vv IV.1)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi, di Jetavana. Ketika Beliau sedang dijamu dengan cara seperti dalam cerita Istana sebelumnya, seorang gadis pelayan di suatu rumah-tangga telah mengumpulkan bunga-bunga dari pohon sala yang sedang mekar di Hutan Gelap, merangkainya diatas serpihan-serpihan kulit kayu untuk membuat buket-buket. Kemudian setelah mengumpulkan sejumlah besar bunga pilihan, bunga-bunga yang telah rontok, dia memasuki kota. Dia melihat Yang Terberkahi sedang dudul di paviliun. Dengan pikiran penuh keyakinan dia memberikan penghormatan dengan bunga-bunga itu, menempatkan buket-buket itu disekitar tempat duduk Beliau, menebarkan bunga-bunga yang lain, menyapa Beliau dengan penuh hormat, berputar tiga kali mengeliling Beiau dan pergi. Setelah meninggal, dia terlahir lagi di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa. Baginya telah tersedia sebuah Istana dari kristal merah. Di depan Istana terdapat hutan sala besar yang tanahnya ditebari pasir keemasan. Ketika devata itu keluar dan memasuki hutan sala, cabang-cabang pohon merunduk dan menebarkan bunga-bunga di atas kepalanya. Y.M. Maha-Monggallana menghampirinya seperti yang telah dijelaskan di atas, dan bertanya kepadanya :

Read more: Manjetthakavimana - Istana Merah Tua (Vv IV.1)

Category: Sutta Published: Monday, 18 December 2017

Paricchattakavimana - Istana Pohon Koral (Vv III.10)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi, di Jetavana. Seorang umat awam yang luhur menjamu Yang Terberkahi di rumahnya dengan penghormatan besar. Pada saat itu, seorang perempuan yang sedang mengumpulkan kayu bakar di Hutan Gelap melihat sebuah pohon asoka sedang berbunga. Dia mengumpulkan bunganya dan pergi untuk menebarkannya di sekeliling Sang Buddha, menghormati Beliau dan pergi. Setelah meninggal, dia terlahir di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa, dan menikmati festival Pohon Koral di Hutan Nandana bersama dengan peri-peri penarinya. Y.M. Maha-Monggallana juga melihatnya dan bertanya kepadanya demikian :

Read more: Paricchattakavimana - Istana Pohon Koral (Vv III.10)

Category: Sutta Published: Monday, 18 December 2017

Visalakkhivimana - Istana Visalakkhi (Vv III.9)

 

 

Setelah Yang Terberkahi mencapai nibbana akhir, Raja Ajatasatu membangun stupa besar di Rajagaha untuk relik yang diterimanya, dan kemudian mengadakan festival penghormatan. Pada waktu itu, ada seorang putri perangkai bunga yang bernama Sunanda. Sunanda adalah umat awam perempuan, siswa ariya yang telah mencapai tingkat Pemasuk-Arus. Dia mengirimkan kaling-kalung bunga yang harum ke cetiya, dan pada hari-hari Uposatha pun dia pergi sendiri untuk memberikanpenghormatan. Setelah meninggal dunia, dia terlahir lagi sebagia pengikut Sakka, raja para dewa. Pada suatu hari Sakka memasuki Hutan Cittalata. Dia melihat Sunanda berdiri di sana tanpa terpengaruh oleh cahaya d sekitarnya. Dan Sakka bertanya kepadanya tentang hal itu.

Read more: Visalakkhivimana - Istana Visalakkhi (Vv III.9)

Category: Sutta Published: Monday, 18 December 2017

Mallikavimana - Istana Mallika (Vv III.8)

 

 

Yang Terberkahi, sang pelindung dunia, telah memenuhi tugas Buddhanya sejak saat memutar roda Dhamma sampai pada waktu mengajar kelana spiritual yang bernama Subhadda. Dan menjelang fajar di malam purnama di bulan Visakha, di antara sepasang pohon sala di Upavattana, yaitu pohon Sala dari raja-raja suku Malla di Kusinara, Beliau telah sepenuhnya padam dalam elemen nibbana (tanpa tersisa). Sementara penghormatan diberikan pada tubuhnya oleh para dewa dan manusia, ada seorang umat awam perempuan dari Kusinara yang bernama Mallkika dari garis keturunan raja-raja Malla, istri Bandhula. Mallika adalah orang yang percaya, yang memiliki keyakinan. Maka dengan air yang harum dia mencuci seperangkat perhiasan berupa "Perambat ebsar", yang menyerupai perangkat perhiasan umat perempuan agung Visakha, memolesnya dengan bantalan kain halus, dan degnan membawa sejumlah besar benda lain, wewangian, rangkaian bunga dan sejenisnya, dia pun memberikan penghormatan kepada sisa-sisa tubuh Sang Buddha. Inilah ringkasannya. Namun cerita Mallika muncul secara panjang lebar di dalam Kitab Komentar Dhammapada.

Read more: Mallikavimana - Istana Mallika (Vv III.8)

Category: Sutta Published: Monday, 18 December 2017

Sesavativimana - Istana Sesavati (Vv III.7)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi, di Jetavana. Pada saat itu, di desa Nal;aka, di Negeri Magadha, ada menantu-perempuan seorang perumah-tangga kaya, yang bernama Sesavati. Menurut cerita, ketika stupa keemasan sebesar satu yojana dibuat untuk Buddha Kassapa, sebagai gadis muda dia pergi dengan ibunya ke tempat monumen itu. Di sana dia bertanyua kepada ibunya, "Ibu, apa yang sedang dilakukan oleh orang-orang ini?" "Mereka sedang membuat batu-batu bata emas untuk membangun cetiya." Mendengar in, dengan pikiran yang penuh keyakinan Sesavati berkata, "Bu, saya punya perhiasan emas kecil dileherku. Saya ingin memberikannya untuk cetiya." Ibunya berkata, "Baik, berikanlah." Si Ibu melepaskan perhiasan itu dari leher putrinya dan kemudian memberikannya kepada pandai emas. Katanya, "INi adlah dana dari gadis ini. Masukkanlah ini ke dalam bata yang sedang engkau buat." Pandai emas itu melakukannya. Ketika gadis itu meninggal, karena tindakan jasa itu dia terlahir lagi di alam dewa, dan hidup dari satu alam yang baik menuju alam baik lain, Dia terlahir kembali di Nalanka pada zaman yang Terberkahi. pada saat itu, dia berusia 12 tahun.

Read more: Sesavativimana - Istana Sesavati (Vv III.7)

Category: Sutta Published: Monday, 18 December 2017

Daddalhavimana - Istana Yang Kemilau (Vv III.6)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi, di Jetavana. Pada saat itu, di suatu desa kecil bernama Nalaka ada seorang kaya, dayaka sukarela dari Y.M Revata Thera. Dia memiliki dua orang putri yang bernama Bhadda dan Subhadda. Baddha ini menikah dengan seorang laki-laki yang penuh dengan keyakinan dan kebijaksanaan, tetapi mereka tidak mempunyai anak. Dia berkata kepada suaminya: "Saya punya adik bernama Subhadda. Ambillah dia. Seandainya dia punya anak lelaki, anak itu akan menjadi anakku juga, dan garis keluarga ini tidak akan mati. :"Baiklah," kata suaminya menyetujui. Maka dia menjalankan saran istrinya itu. Bhadda menasehati Subhadda, "Subhadda, bergembiralah dalam berdana dan tekunlah dalam kehidupan benar. Dengan demikian engkau akan memiliki kekuatan untuk keberuntungan di dunia yang kita lihat ini serta di dunia yang akan datang"

Read more: Daddalhavimana - Istana Yang Kemilau (Vv III.6)

Category: Sutta Published: Monday, 18 December 2017

Guttilavimana - Istana Guttila (Vv III.5)

 

 

Ketika Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, Y.M Maha-Moggallana mengunjungi alam-dewa seperti yang telah dibicarakan diatas. Beliau pergi menuju alam Tiga-Puluh-Tiga dewa. Di sana , di tuga puluh enam Istana, beliau melihat tiga puluh enam putri-putri-dewa. Mereka masing-masing menikmati kegembiraan surgawi yang besar, dengan pengikut seribu peri. Secara berturu-turut beliau bertanya dengan syair-syair yang bermula, “(Engkau yang berdiri) dengan keelokan melebihi yang lain” tentang tindakan (baik) yang telah mereka lakukan dulu. Setelah pertanyaan itu diajukan, mereka menjawab dengan syair-syair yang dimulai dengan: “Saya adalah orang yang memberikan pakaian yang paling halus.” Kemudian dari sana Thera itu pergi ke alam manusia dan menceritakan tersebut kepada Yang Terberkahi. Setelah mendengarnya, Yang Terberkahi berkata, “Moggallana, bukan hanya olehmu saja para dewa itu telah ditanya dan telah menjawab dengan cara ini. Sesungguhnya di suatu saat di masa lampau mereka pun telah ditanya olehku juga, dan mereka menjawab dengan cara yang sama”. Dimohon dengan sangat oleh Thera tersebut, Sang Buddha menceritakan kehidupan Guttila, cerita mengenai kehidupan lampau Beliau sendiri.

Read more: Guttilavimana - Istana Guttila (Vv III.5)