Category: Sutta Published: Monday, 18 December 2017

Pallankavimana - Istana Dipan (Vv III.3)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi, di Jetavana. Pada waktu itu, putrid seorang uma awam dinikahkan dengan putra umat awam lain di kota Savatthi yang memiliki garis keturunan dan keadaan yang mirip. Perempuan itu baik wataknya, dan sempurna praktek moralitasnya. Dia menghormati suaminya, menjalankan lima peraturan, dan pada hari-hari Uposatha, dia menjalankan Delapan Sila. Setelah meninggal, dia muncul di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa. Y.M. Maha-Monggallana Thera pergi ke sana seperti yang telah dijelaskan di atas. Dan beliau bertanya kepadanya :

Read more: Pallankavimana - Istana Dipan (Vv III.3)

Category: Sutta Published: Monday, 18 December 2017

Ucchuvimana - Istana Tebu (Vv III.2)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha… dan seterusnya, sama seperti cerita sebelumnya. Hanya saja, inilah perbedaannya: perempuan itu memberikan tebu, dan dipukul dengan bangku. Dia meninggal pada saat itu juga dan terlahir lagi di ala Tiga-Puluh-Tiga dewa. Pada malam yang sama, dia dating ke hadapan sang Thera. Bagaikan rembulan dan matahari, dia membuat Puncak Nasar cemerlang beberapa saat ketika memberi hormat kepada Beliau. Kemudian dia berdiri di satu sisi, dengan sikap bakti, dan Thera tersebut bertanya kepadanya :

Read more: Ucchuvimana - Istana Tebu (Vv III.2)

Category: Sutta Published: Monday, 18 December 2017

Ularavimana - Istana Elok (Vv III.1)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, di Hutan Bambu. Pada waktu itu, di sebuah rumah di Rajagaha yang melayani Y.M. Maha-Moggallana ada seorang gadis yang cenderugn berdana dan suka memberi. DI rumah itu memang disiapkan makanan keras dan makanan lunak dan seabgainya sebelum makanan (utama). Gadis itu terbiasa memberikan separuh dari bagiannya sendiri (yang ada dirumah). Dia tidak akan makan sebelum memberikan dana makanan. Bahkan bila tidak melihat orang yang pantas menerima pemberian, dia menyisihkan (sejulah makanan) sampai dia melihat orang semacam itu. Pengemis pun diberinya juga. Ibunya bersukacita dan bahagia. Katanya pada diri sendiri, “Putriku suka berdana dan senang memberi.” Maka ibunya lalu memberikannya dua porsi. Ketika satu porsi yang diberikan itu telah didanakan, si ibu memberinya seporsi lagi. Gadis itu pun bahkan juga mulai mendanakannya sebagaian.

Read more: Ularavimana - Istana Elok (Vv III.1)

Category: Sutta Published: Friday, 15 December 2017

Dutiyabhikkhadayikavimana - Istana Pemberi Dana Makanan Kedua (Vv II.11)

 

 

Sama seperti cerita Istana sebelumnya. Hanya saja, di sini Yang Terberkahi berada di Rajagaha, dan perempuan itu memberikan dana kepda seorang Bhikkhu yang tidak memiliki kekotoran batin, tenang pikirannya, tanpa kebingungan.

Read more: Dutiyabhikkhadayikavimana - Istana Pemberi Dana Makanan Kedua (Vv II.11)

Category: Sutta Published: Friday, 15 December 2017

Bhikkhadayikavimana - Istana Pemberi Dana Makanan (Vv II.10)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi. Dan pada waktu itu, di Uttaramadhura ada seorang perempuan yang masa hidupnya telah sampai pada akhirnya dan akan terlahir kembali di alam menderita. Menjelang fajar, Yang Terberkahi bangkit dari pencapaian kasih sayang yang besar, dan mengamati dunia. Beliau melihat perempuan itu. Karena ingin memantapkan dia di dalam kelahiran yang baik, Beliau sendiri pergi ke Madhura, masuk ke pinggiran kota untuk mengumpulkan dana makanan. Pada waktu itu, perempuan tersebut sedang menyiapkan makanan di rumah. Setelah menyisihkannya, dia pergi menuju tempat pengairan dengan membawa tempayan, dan mandi di sana. Dalam perjalanan pulabng dengan tempayan penuh air, dia melihat Yang Terberkahi. Ketika dia bertanya, "Mungkin Bhante yang terhormat sudah menerima dana makanan?" Yang Terberkahi berkata, "Kami akan menerima." Maka dia mengetahui bahwa Beliau belum menerima dana makanan. Dia menurunkan tempayannya, menghampiri Yang Terberkahi, memberi hormat dan berkata, "Bhante yang terhormat, saya akan memberikan dana makanan. Izinkan saya." Yang Terberkahi memberi persetujuan dengan berdiam diri. Mengetahui bahwa Beliau setuju, perempuan itu segera berjalan di depan, menyiapkan tempat duduk yang sudah diperciki. Kemudian dia berdiri menunggu kedatangan Yang Terberkahi. Setelah Yang Terberkahi masuk dan duduk, dia memberikan makanan, dan kemudian duduk. Ketika telah selesai makan dan menarik tangannya dari mangkuk, Yang Terberkahi berterima kasih kepadanya dan pergi. Perempuan itu mendengar ucapan terima kasih Beliau dan mengalami sukacita dan kebahagiaan yang besar. Tanpa kehilangan sukacita yang disebabkan oleh Sang Buddha, dia berdiri melakukan penghormatan sampai Beliau lenyap dari pandangan.

Read more: Bhikkhadayikavimana - Istana Pemberi Dana Makanan (Vv II.10)

Category: Sutta Published: Friday, 15 December 2017

Niddha-Suniddavimana - Istana Nidda dan Sunidda (Vv II.8-9)

 

 

Istana kedelapan dan kesembilan berasal dari Rajagaha. Dan kita harus memahami (syair-syairnya) :

"Seorang umat awam perempuan bernama Nidda, pengikut Gotama yang dikenal luas. Karena inilah maka keelokanku sedemikian rupa.(seperti di 23.5-11) Demikian juga Sunidda, persis seperti yang telah dikatakan. Bahkan tidak ada yang baru di dalam syair-syairnya. Oleh sebab itulah maka beberapa kitab menghapusnya karena ada pengulangan barus. Seperti yang telah dikatakan: '(Engkau beridri) dengan keelokan melebihi yang lain dan keelokanmu menyinari segala penjuru. Devata itu, karena gembira yang menghasilkan buah itu. Di Rajagaha, mereka mengenalku sebagai Nidda, seorang umat awam perempuan (No.8), Sunidda (No.9) dan keelokanku menyinari segala penjuru.'"

Read more: Niddha-Suniddavimana - Istana Nidda dan Sunidda (Vv II.8-9)

Category: Sutta Published: Friday, 15 December 2017

Uposathavimana - Istana Uposatha (Vv II.7)

 

 

Cerita ini mirip dengan cerita Istana yang diceritakan sebelumnya. Hanya saja, disini Uposatha adalah seorang umat awam perempuan di Saketa. Setelah menjelaskan kepada Y.M Maha-Moggallana apa yang menyebabkan keelokannya sekarang menyinari segala penjuru, dia kemudian menceritakan kesalahannya :

  1. "Sering saya mendengar tentang Nandana dan kerinduan pun muncul di dalam diriku; karena pikiran saya tertuju padanya dengan kerinduan yang terbentuk, saya muncul di Nandana."

    Read more: Uposathavimana - Istana Uposatha (Vv II.7)

Category: Sutta Published: Friday, 15 December 2017

Sonadinnavimana - Istana Sonadina (Vv II.6)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi, di Jetavana. Pada saat itu, di Nalanda ada seorang umat awam perempuan bernama Sonadinna, seorang umat yang memiliki keyakinan. Dengan keramahan dan kebiasaan moral yang mantap serta kemurnian yang besar, dia melayani para bhikkhu dalam hal empat kebutuhan, dan menjalankan (peraturan) berunsur-delapan. Dia memperoleh manfaat mendengarkan Dhamma, dan karena memiliki kualifikasi, dengan mengembangkan Empat Kebenaran Mulia sebagai topik meditasinya, dia menjadi Pemasuk Arus. Suatu ketika, karena menderita sakut, dia meninggal dan muncul di antara Tiga-Puluh-Tiga dewa. Y.M. Maha-Moggallana bertanya kepadanya dengan syair-syair ini :

Read more: Sonadinnavimana - Istana Sonadina (Vv II.6)

Category: Sutta Published: Friday, 15 December 2017

Bhaddhitthivimana - Istana Perempuan Elok (Vv II.5)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi di Jetavana, di vihara Anathapindika. Pada waktu itu, di kota Kimbila ada seorang putra perumah-tangga yang bernama Rohaka, seorang yagn percaya, memiliki keyakinan, dan sempurna dalam praktek moralitasnya. Disuatu keluarga lain yang mirip situasinya, ada juga seorang gadis, seorang yang percaya, yang memiliki keyakinan yang diberi nama Bhadda karena kebaikan sifatnya. Ibu dan ayah Rohaka meminta agar Baddha dinikahkan dengan putra mereka. Pada saat yang tepat, Baddha diantarkan ke sana untuk upacara pernikahan. Keduanya menjalani kehidupan yang harmonis. Karena kesempurnaan perilakunya, perempuan itu kemudian dikenal sebagai Perempuan Elok.

Read more: Bhaddhitthivimana - Istana Perempuan Elok (Vv II.5)

Category: Sutta Published: Friday, 15 December 2017

Candalivimana - Istana Candali (Vv II.4)

 

 

Ketika Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, Beliau masuk ke dalam pencapaian kasih sayang yang agung yang dipratekkan oleh para Buddha. Ketika bangkit dari sana dan mengamati dunia, Beliau melihat bahwa di kota itu - di pemukiman Candala ((Kaum buangan, 'tidak boleh disentuh') ada seorang perempuan tua yang masa-hidupnya hampir berakhir, dan baginya ada satu karma yang akan mendorongnya masuk ke alam menderita. Karena cinta kasih yang besar, Beliau membuat perempuan itu melakukan karma yang akan mendorongnya menuju surga. Dengan berpikir, "Aku akan memantapkan dia di surga", Beliau beserta sekelompok besar bhikkhu memasuki Rajagaha untuk mengumpulkan dana makanan.

Read more: Candalivimana - Istana Candali (Vv II.4)

Category: Sutta Published: Friday, 15 December 2017

Acamadayikavimana - Istana Pemberi Kerak Nasi (Vv II.3)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, di tempat pemberian makan Tupai di Hutan Bambu. Pada saat itu, para anggota dari suatu rumah-tangga di Rajagaha diserang epidemi kolera. Semua orang di sana meninggal, kecuali seorang perempuan. Karena merasa amat ngeri dan takut pada kematian, dia meninggalkan rumah serta semua uang dan biji-bijian yang berada di dalamnya, dan kemudian lari lewat lubang dinding. Tak ada seorangpun yang membantunya, maka dia pergi ke rumah keluarga lain dan tinggal di bagian belakang rumah itu. Keluarga itu merasa kasihan kepadanya dan memberinya bubur-nasi, nasi-rebus, kerak-nasi dan apa pun yang tersisa di dalam periuk nasi dan alat-alat masak lainnya. Berkat kedermawanan mereka, dia boleh tinggal di sana.

Read more: Acamadayikavimana - Istana Pemberi Kerak Nasi (Vv II.3)