Category: Sutta Published: Friday, 15 December 2017

Lakhumavimana - Istana Lakhuma (Vv II.2)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Baranasi. Menuju kota Baranasi terdapat pintu gerbang yagn disebut Gerbang Nelayan. Di dekatnya ad sebuah desa yang jgua dikenal sebagai Gerbang Nelayan. Disana ada seorang perempuan bernama Lakhuma. Sebagai orang yang percaya, cerdas, dan memiliki keyakinan, dia menyapa para Bhikkhu ketika mereka masuk melalui gerbang itu. Dia menunjukkan mereka jalan ke rumahnya, mempersembahkan makanan. Karena keyakinannya makin tumbuh, dia membangun paviliun dan di sana menjamu para Bhikkhu, mendengarkan Dhamma di dalam kelompok mereka. Setelah menjadi mantap di dalam perlindangan dan moralitas, dengan perhatian penuh, dia rajin mengembangkan objek-objek mditasi pandangan terang yang telah dipelajarinya. Karena kualifikasinya, tidak lama kemudian dia memantapkan diri di dalam Pemasuk-Arus.

Read more: Lakhumavimana - Istana Lakhuma (Vv II.2)

Category: Sutta Published: Friday, 15 December 2017

Dasivimana - Istana Pelayan Perempuan (Vv II.1)

 

 

Ketika Yang Terberkahi sedang berdiam di Jetavana, seorang umat awam yagn tinggal di Savatthi pergi ke vihara di sore hari bersama banyak umat awam lain untuk mendengarkan Dhamma. Ketika semuanya telah berdiri, umat awam itu menghampiri Yang Terberkahi dan berkata, "Bhante yang terhormat, mulai sekarang saya akan memberikan dana empat makanan tanpa-putus." Kemudian Yang Terberkahi memberikan Dhamma kepadanya karena kesempatan itu sesuai, dan membiarkan dia pergi. Kepada pengatur dana makanan dia berkata, "Yang mulia, saya telah menentukan empat makanan tanpa-putus untuk Sangha. Mulai besok dan selanjutnya, sudilah para Bhikkhu yang mulia ini datang ke rumahku." Lalu dia pulang. Dia menjelaskan hal itu kepada pelayan perempuannya, dan berkata, "Dalam hal ini engkau harus selalu rajin." "Baik", jawabnya. Pada dasarnya pelayan ini memang memiliki keyakinan yang kuat, menginginkan jasa kebajikan dan luhur. Maka, setiap hari dia bangun pada dini hari untuk menyiapkan makanan dan minuman yang lezat. Dia membersihkan tempat duduk yang digosokkan dengan parfum. Ketika para Bhikkhu tiba, dia mempersilakan mereka duduk di tempat yang sudah disiapkan. Dia memberi hormat dengan penuh kesungguhan, mempersembahkan parfum, bunga, dupa, dan lampu kepada mereka. Dan mereka dilayaninya dengan penuh hormat.

Read more: Dasivimana - Istana Pelayan Perempuan (Vv II.1)

Category: Sutta Published: Thursday, 14 December 2017

Kesakarivimana - Istana Kesakari (Vv I.17)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Baranasi, di Taman Rusa di Isipatana. Di pagi hari, para bhikkhu berpakaian, mengambil mangkuk dan jubahnya, dan memasuki Baranasi. Mereka pergi ke dekat pintu seorang brahmana. Di rumah itu, putri brahmana tersebut yang bernama Kesakari yang sedang mencari kutu di kepala ibunya di dekat pintu rumah, melihat para Bhikkhu yang berjalan. Dia berkata kepada ibunya, "Ibu, orang-orang yang telah meninggalkan kehidupan duniawi itu tampak olehku masih amat muda belia. Mereka lembut, sangat tampan, pantas dipandang, dan tidak dikuasai kekacauan apa pun. Mengapa mereka meninggalkan dunia pada usia ini?"

Read more: Kesakarivimana - Istana Kesakari (Vv I.17)

Category: Sutta Published: Thursday, 14 December 2017

Sirimavimana - Istana Sirima (Vv I.16)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, di tempat pemberian makan tupai di Hutan Bambu. Dan pada waktu itu, Sirima si pelacur yang disebutkan di dalam Cerita di atas, telah meninggalkan profesinya yang tidak murni karena pencapaian buah Pemasuk-Arus. Setiap hari dia memberikan dana kepada delapan anggota Sangha yang dipilih lewat kupon. Sejak awal, setiap hari delapan Bhikkhu datang ke rumahnya. Dengan mengatakan, ‘Ambillah ghee, ambillah susu," dsb. Dia mengisi mangkuk-mangkuk mereka. Makanan yang diperoleh satu Bhikhhu cukup untuk tiga atau empat orang. Setiap hari, makanan yang pantas senilai enambelas kahapana diberikan sebagai dana.

Read more: Sirimavimana - Istana Sirima (Vv I.16)

Category: Sutta Published: Thursday, 14 December 2017

Uttaravimana - Istana Uttara (Vv I.15)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha di tempat pemberian makan tupai di Hutan Bambu. Pada saat itu, ada seorang laki-laki miskin bernama Punna yang bekerja pada seorang banker Rajagaha. Dia tinggal di rumahnya hanya bersama istrinya, Uttara, dan putrinya yang juga bernama Uttara. Suatu hari di Rajagaha ada festival tujuh hari. Bankir itu mendengar hal tersebut dan ketika Punna datang di pagi hari, dia berkata, "Sahabat, pembantu-pembantu kita ingin merayakan festival. Apakah engkau juga akan merayakan festival, atau engkau akan bekerja agar menerima gaji?" "Tuan", kata Punna, "peristiwa seperti festival adalah untuk orang kaya, sedangkan di rumahku bahkan tak ada beras untuk membuat bubur buat besok. Untuk apa festival bagiku? Jika ada sapi, saya akan pergi membajak." "Kalau demikian, ambillah beberapa sapi," kata tuannya itu. Punna pun mengambil sapi jantan yang kuat dan bajak yang bagus. Lalu dia berkata pada istrinya. "Istriku, orang-orang kota sedang merayakan festival. Aku akan pergi mencari uang karena kita miskin. Tetapi untukku, hari ini saja, masaklah makanan dua porsi, dan kirimkan padaku." Kemudian dia pergi ke ladang.

Read more: Uttaravimana - Istana Uttara (Vv I.15)

Category: Sutta Published: Thursday, 14 December 2017

Dutiyasunivavimana - Istana Menantu Perempuan Kedua (Vv I.14)

 

 

Sama seperti cerita Istana sebelumnya. Hanya saja, di sini dananya adalah kummasa.

  1. Engkau yang berdiri dengan keelokan melebihi yang lain, devata, membuat segala penjuru bersinar bagaikan bintang penyembuh.

  2. Karena apakah maka keelokanmu sedemikian rupa? Karena apakah engkau sejahtera di sini, dan di sana muncul apa pun yang merupakan kesenangan sesuai dengan hatimu?

    Read more: Dutiyasunivavimana - Istana Menantu Perempuan Kedua (Vv I.14)

Category: Sutta Published: Thursday, 14 December 2017

Sunivavimana - Istana Menantu Perempuan (Vv I.13)

 

 

Di sebuah rumah di Savatthi, ada seorang menantu-perempuan yang berasal dari keluarga baik-baik. Dia melihat seorang Thera yang telah menghancurkan kekotoran batin, datang ke rumah itu untuk mengumpulkan dana makanan. Dipenuhi sukacita dan kebahagiaan, dia berpikir, “Telah muncul suatu ladang jasa tertinggi bagiku.” Dia mengambil kue-beras yang sebenarnya akan dimakannya sendiri, dan memberikannya dengan penuh hormat kepada Thera tersebut. Sang Thera menerimanya, berterima kasih kepadanya, dan kemudian pergi. Di kemudian hari, menantu-perempuan itu meninggal dan terlahir kembali di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa. Sisanya sama seperti yang dijelaskan di atas.

Read more: Sunivavimana - Istana Menantu Perempuan (Vv I.13)

Category: Sutta Published: Thursday, 14 December 2017

Patibbatavimana - Istana Perempuan Setia (Vv I.11)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi. Di kota itu ada seorang istri yang setia. Dia hidup harmonis bersama suaminya. Dia sabar dan pandai; dia tidak mencaci sekalipun ketika marah; ucapannya lembut dan tulus. Dia memiliki keyakinan, dan dia memberikan dana sesuai kemampuannya. Terserang oleh suatu penyakit, dia mati dan terlahir kembali di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa. Sisanya sama seperti yang telah diceritakan.

Read more: Patibbatavimana - Istana Perempuan Setia (Vv I.11)

Category: Sutta Published: Thursday, 14 December 2017

Tiladakkhinavimana - Istana Dana-Wijen (Vv I.10)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi di Jetavana, di taman Anathapindika. Pada saat itu, di Rajagaha ada seorang perempuan bersama anaknya sedang mencuci wijen dan mengeringkannya di bawah terik matahari karena dia ingin minum sedikit minyak wijen. Pada hari itu sebenarnya masa-hidupnya berakhir. Dia harus mati dan kumpulan tindakannya akan mendorongknya menuju (kelahiran ulang di) alam menderita. Yang Terberkahi, sementara mengamati bumi pada saat fajar, melihat perempuan itu dengan mata-dewa dan berpikir : “Perempuan yang seharusnya mati hari ini akan terlahir kembali di alam menderita; sekarang biarlah aku menerima biji wijen sebagai dana makanan agar dia bisa mencapai surga.” Dalam sekejap Beliau meninggalkan Savathhi menuju Rajagaha, dan ketika Beliau berjalan untuk mengumpulkan dana makanan di Rajagaha, Beliau sampai di pintu rumah perempuan itu. Perempuan itu melihat Yang Terberkahi. Dipenuhi sukacita dan kebahagiaan, dia segera berdiri dan menangkupkan tangannya. Karena melihat tidak ada apa pun yang cocok untuk dipersembahkan, dia mencuci tangan dan kakinya, menumpuk sejumlah biji wijen, memenuhi kedua tangannya dengan biji-biji tersebut dan meletakkan biji wijen di genggaman itu ke mangkuk Yang Terberkahi. Yang Terberkahi berkata dengan penuh welas asih kepadanya, “Semoga engaku bahagia,” dan pergi. Menjelang fajar, perempuan itu mati dan terlahir lagi di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa di suatu Istana keemasan duabelas yojana. Y.M. Maha-Moggallana yang sedang mengunjungi alam-dewa, seperti yang dijelaskan di atas, bertemu dengannya dan bertanya :

Read more: Tiladakkhinavimana - Istana Dana-Wijen (Vv I.10)

Category: Sutta Published: Thursday, 14 December 2017

Dipavimana - Istana Lampu (Vv I.9)

 

 

Ketika Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi, pada hari Uposatha banyak umat awam, baik laki-laki maupun perempuan yang menjalankan atthasila. Pada hari itu, mereka mengenakan pakaian yang bersih, mantel yang bersih dan dengan membawa parfum dan bunga di tangan, mereka pergi ke vihara di siang hari, melayani para bhikkhu yang memberikan inspirasi pikiran, dan di petang hari mendengarkan Dhamma. Sementara mereka sedang mendengarkan dan bermaksud tinggal (bermalam) di vihara, hari menjadi gelap. Seorang perempuan berpikir, “Mereka seharusnya menyalakan lampu di sini.” Dia telah membawa dari rumahnya sendiri sebuah lampu dan segala yang dibutuhkan untuk menyalakannya. Maka, dia menyalakan lampu, dan menaruhnya di depan tempat duduk-Dhamma dan mendengarkan Dhamma. Merasa gembira setelah memberikan lampunya, dia dipenuhi sukacita dan kebahagiaan. Dia pulang sesudah memberi hormat. Setelah meninggal, dia terlahir kembali di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa di suatu Istana dengan permata-permata yang gemerlap. Tetapi karena tubuhnya berkilau luar biasa, dia bersinar melebihi para dewa lain dan menebarkan sinar ke sepuluh penjuru. Suatu hari, Y.M. Maha Moggallana sedang mengunjungi alam dewa (seperti dalam penjelasan di atas). Tetapi di sini beliau mengajukan pertanyaan yang bermula dengan tiga syair :

Read more: Dipavimana - Istana Lampu (Vv I.9)

Category: Sutta Published: Thursday, 14 December 2017

Tatiyanavavimana - Istana Perahu Ketiga (Vv I.8)

 

 

Ketika Yang Terberkahi sedang bepergian di provinsi dengan sejumlah besar kelompok Bhikkhu, Beliau tiba di sebuah desa brahmana yang bernama Thuna di negeri Kosala. Para perumah-tangga brahmana dari Thuna mendengar, “Kabarnya, petapa Gotama telah tiba di ladang desa kita. ”Para perumah-tangga brahmana yang tidak memiliki keyakinan, yang memiliki pandangan salah, dan yang bersifat tamak– berkata, ”Jika Petapa Gotama memasuki desa ini dan tinggal selama dua atau tiga hari, dia akan memantapkan semua orang dalam Ajarannya sendiri. Kemudian agama brahmana tidak akan memiliki penopang lagi.” Maka mereka berusaha menghalangi Yang Terberkahi agar tidak berhenti di sana, dengan cara menyingkirkan perahu-perahu dari tempat perhentian dan membuat agar jembatan-jembatan serta jalan pintas tidak dapat digunakan. Semua sumur, kecuali satu, mereka timbun dengan rumput-rumput liar dan sebagainya. Mereka menyembunyikan tempat-tempat perairan, rumah-rumah istirahat, dan lumbung-lumbung. Demikianlah yang diceritakan di dalam Udana.

Read more: Tatiyanavavimana - Istana Perahu Ketiga (Vv I.8)