Category: Cerita Anak Published: Saturday, 04 November 2017

Kuda Hebat Yang Mengetahui
(Keberanian)

 

Dahulu kala, Raja Brahmadatta memerintah di Benares, sebelah Utara India. Ia mempunyai seekor kuda yang dulunya dilahirkan didaerah Sindh, di desa Sungai Indus, sebelah Barat India. Sebenarnya, kuda ini adalah makhluk yang akan mencapai penerangan (Bodhisatta).

Selain besar dan kuat, kuda tersebut juga sangat pintar dan bijaksana. Ketika ia masih muda, orang-orang menyadari bahwa kelihatannya kuda ini tahu apa yang diinginkan oleh pengendaranya bahkan sebelum diberitahu. Jadi ia dinamai kuda Yang-Tahu.

Ia dianggap sebagai kuda terbaik di antara kuda-kuda kerajaan yang lain, dan diberikan apapun yang berbaik. Kandanya selalu dihiasi dan dijaga agar bersih dan indah. Kuda biasannya patuh kepada majikannya. Yang-Tahu sangatlah setia terutama kepada raja yang telah merawatnya dengan begitu baik. Di antara semua kuda kerajaan Yang-Tahu juga adalah yang paling berani. Jadi raja pun menghormatinya bersenjatanya dan mempercayainya.

Diceritakan bahwa 7 kerajaan tetangga bergabung berama untuk berperang melawan Raja Brahmadatta. Tiap raja membawa 4 pasukan bear - pasukan gajah, kuda, barisan kereta, dan tentara-tentara dan Bersama-sama, ketujuh raja tersebut dengan semua angkatan bersenjatanya mengepung kota Benares.

Raja Brahmadatta mengumpulkan semua menteri dan penasehatnya untuk membuat rencana mempertahankan kerajaan. Mereka menasehati raja tersebut, "jangan menyerah, Kita harus berjuang untuk mempertahankan posisi kita,. Tetapi anda tidak seharusnya membahayakan orang-orang kerajaan dahulu. Sebaliknya kirimkanlah juara diantara para ksatria untuk menggantikan anda di medan laga. Jika ia gagal, barulah anda sendiri yang harus maju".

Jadi Sang raja memanggil juara dari semua ksatria dan bertanya, "Dapatkah anda menang melawan ke-7 raja ini?" Ksatria itu memjawab, "Jika anda mengizinkan saya untuk menaiki kuda yang terberani dan paling bijaksana, kuda hebat Yang-Tahu, hanya dengan begitu ak dapat memenangkan pertempuran". Raja itu setuju dan berkata, "Juaraku, sekarang tergantung pada andam dan Yang-Tahu untuk menyelamatkan negara yang saat ini sedang dalam bahaya. Bawalah bersamamu apapun yang kauperlukan".

Ksatria juara itu pergi ke kandang kerajaan. Ia memerintahkan agar Yang-Tahu diberi makan dengan baik dan dipasangkan baju perlindungan, dengan semua pernik yang diperlukan. Kemudian ia menghormati dan menaiki sadel yang indah tersebut.

Yang-Tahu mengetahui apa yang sedang terjadi. Ia berpikir, "Ketujuh raja ini telah datang untuk menyerang negara dan rajaku, yang telah memberikan makanan, memperhatikan, serta mempercayaiku. Tidak hanya ketujuh raja itu, tetapi juga rombonga tentera mereka yang besar dan kuat mengancam rahaku dan semua penduduk Benares. Aku tidak dapat membiarkan mereka menang. Tetapi aku juga tidak dapat membiarkan ksatria juara ini membunuh raja-raja itu. Karena jikalau demikian maka aku akan ikut membuat tindakan yang salah karena mengambil nyawa makhluk lain, hanya demi satu kemenangan biasa. Maka sebaliknya, aku akan mengajarkan cara yang baru. Aku akan menangkap ketujuh raja tersebut tanpa membunuh siapapun. Ini baru akan merupakan kemenangan yang benar-benar hebat!"

Kemudian yang-Tahu berbicara kepada pengendaranya. "Tuan ksatria, marilah kita memenangkan peperangan ini dengan cara yang baru, tanpa menghancurkan kehidupan. Anda harus hanya menangkap satu raja dalam satu kesempatan, dan tetap kokoh berada di punggungku. Biarkanlah saya menemukan strategi di antara setiap pasukan. Perhatikanlah saya sembari anda menunggang, dan saya akan menunjukkan kepada anda keberanian yang melebihi cara yang lama, cara pembunuhan!"

Dengan mengatakan 'cara baru' dan 'strategi yang baru', dan 'keberanian yang melewati', tampaknya hewan yang mulia itu menjadi lebih hebat daripada kehidupan. Ia maju dengan gagahnya dengan kaki-kakinya yang kuat, dan melihat ke bawah menuju semua pasukan yang mengepung kota itu. Semua mata tertuju kepada makhluk yang luar biasa ini. Bumi bergetar sesaat setelah kaki-kaki depannya menginjak tanah dan ia meleset ke dalam kumpulan empat pasukan dari raja yang pertama. Ia mempunyai kecepatan bagai kilat, kekuatan 100 gajah, dan keyakinan diri yang hebat bagaikan seorang dari dunia yang lain.

Gajah-gajah tersebut tidak dapat mengingat ada kuda lain yang seperti itu, jadi pasukan gajah itu mundur ketakutan. Kuda-kuda yang lain tahu bahwa makhluk yang satu ini adalah saudara serumpun yang patut menjadi tuan mereka, jadi pasukan kuda dan kereta tersebut tegak berdiam dan menunduk hormat sewaktu Makhluk yang Hebat itu lewat. Dan para pasukan yang berbaris terserak bagaikan ditimpa angin ribut.

Raja yang pertama tidak sempat menyadari apa yang terjadi, tahu-tahu ia telah tertangkap dengan mudah dan dibawa kembali ke kota Benares. Demikian juga dengan raja kedua, ketiga, keempat dan kelima.

Dengan cara yang sama raja keenam ditankap. Tetapi salah satu prajuritnya yang setia keluar dari tempat persembunyian dan menusukkan pedannya dalam-dalam pada sisi badan Yang-Tahu yang berani itu. Dengan darah mengalir dari luka tersebut, ia membawa raja keenam dan prajurit tersebut kembali ke kota.

Ketika ksatria penunggang Yang-Tahu mengetahui luka yang berat tersebut, tiba-tiba ia merasa takut untuk menunggang kembali yang-Tahu untuk menghadapi raja ketujuh. Jadi ia mulai mengenakan perlengkapan perang bagi kuda tyang lain, yang memang berbadan hampir sebesar Yang-Tahu.

Melihat hal ini, meskipun sangat menderita dari lukannya yang mematikan, Yang-Tahu berpikir, "Ksatria juara ini kehilangan keberaniannya begitu cepat. Ia belum mengerti benar sifat alami kekuatanku - pengetahuan bahwa kedamaian yang sesungguhnya hanyalah dapat dimenagnkan dengan cara yang damai. Ia mencoba untuk mengalahkan raja ketujuh berserta pasukannya dengan cara seperti lazimnya, mengendarai kuda biasa.

"Setelah mengambil langkah pertama, tidak lagi membunuh makhluk hidup, aku tidak dapat lagi berhenti setengah jalan. Usahaku yang keras untuk mengajarkan cara yang baru akan hilang bagaikan garis yang dibuat di atas air!"

Kuda hebat Yang-Tahu berbicara kepada ksatria tersebut. "Tuan ksatria, raja ketujuh dan pasukannya adalah yang paling kuat di antara yang lainnya. Mengendarai kuda biasa, meskipun anda membunuh 1000 orang dan binatan, anda akan dikalahkan. Aku adalah satu anggota dari rumpun kuda Sindh terhebat yang disebut Yang-Tahu, hanyalah aku yang dapat melewati mereka tanpa melukai siapapun dan membawa raja yang ketujuh kembali dengan hidup-hidup!"

Ksatria tersebut mendapatkan kembali keberaniannya. Kuda yang berani itu kembali tegak berdiri dengan rasa sakit yang menderanya. Meskipun darah terus saja mengalir, ia tetap melesat kedepan dan menembus kumpulan 4 kelompok serdadu, dan ksatria itu berhasil membawa raja ketujuh tersebut. Sekali lai semua jalan yang dilaluinya tanpa pertumpahan darah dan luka. Melihat ketujuh raja telah tertangkap, semua pasukan meletakkan senjata mereka dan meminta perdamaian.

Menyadari bahwa kuda yang-Tahu tidak akan dapat hidup melewati malam itu, Raja Brahmadatta pergi menjenguknya. Ia telah membesarkan kuda itu sejak kuda ini masih muda, jadi ia mencintainya. Ketika ia melihat bahwa kuda itu telah sekarat, ia pun menangis.

Yang-Tahu berkata, "Tuanku raja, aku telah melayani tuan dengan baik. Dan aku telah dapat meninggalkan cara yang lama dan menunjukkan cara yang baru. Sekarang anda harus mengabuli permintaan terakhirku. Anda tidak boleh membunuh ketujuh raja terseut, meskipun mereka telah berbuat salah terhadap anda. Karena kemenangan berdarah akan membawa bibit perang di masa depang. Maafkanlah serangan mereka terhadap anda, biarlah mereka kembali menuju kerajaan mereka masing-masing, dan semoga anda selalu hidup dalam perdamaian mulai dari sekarang".

"Hadiah apapun yang akanh anda berikan kepada saya, sebaliknya berikanlah kepada ksatria juara. Berbuatlah hanya hal-hal yang baik, bermurah hatilah, hormatilah Kebenaran dan janganlah membunuh makhluk hidup apapun. Memerintahlah dengan adil dan penuh kasih sayang".

Kemudian ia menutup mata dan menghembuskan nafas terakhirnya. Raja tersebut menangis, dan semua berduka atas kematian Yang-Tahu. Dengan penghormatan yang sebesar-besarnya mereka mengkremasikan tubuh Yang-Tahu - Makhluk yang akan mencapai Penerangan (Bodhisatta).

Raja Brahmadatta kemudian membawa ketujuh raja tersebut kehadapan Yang-Tahu. Mereka juga menghormati Makhluk yang Hebat ini, yang telah mengalahkan begitu banyak serdadu tanpa menghamburkan setetes darah pun, kecuali darahnya sendiri. Dalam ingatan, mereka membuat perdamaianm dan tidak pernah lagi ketujuh raja ini dan Brahmadatta berperang.

PESAN YANG ADA:
Kedamaian yang sebenarnya hanyalah dapat dimenangkan dengan cara yang damai.

 

[Dikutip dari Buku Mutiara Dhamma X, atas izin Ir. Lindawati T.]

 

 

Hits: 21