Category: Cerita Anak Published: Friday, 13 October 2017

Buddha Diam
Kemurahan Hati

 

Dahulu kala, ada seorang yang sangat kaya yang hidup di Benares, India Utara. Ketika ayahnya meninggal, ia mewarisi harta yang lebih banyak lagi. la berpikir, "Mengapa aku harus menggunakan harta ini hanya untuk kebahagiaanku sendiri? Biarlah saudara-saudaraku yang lain juga ikut menikmatinya".

Jadi ia membangun ruang makan di empat penjuru kota ?Utara, Selatan, Timur, dan Barat. Di aula-aula ini ia memberikan makanan gratis bagi siapa saja yang membutuhkannya. Ia menjadi sangat terkenal karena kedermawanannya. Demikian juga ia dan para pengikutnya terkenal sebagai pelaku 5 Langkah Latihan (Panca Sila).

Pada saat itu, ada seorang Buddha Diam yang bermeditasi di dekat hutan Benares. Beliau disebut Buddha karena beliau telah mencapai penerangan. Ini artinya beliau tidak lagi merasakan dirinya sendiri, yang disebut ‘aku?atau ‘saya? Yang ada hanyalah kehidupan itu sendiri. Jadi ia mampu menjalani kehidupan seperti apa adanya, pada setiap saat ini. Menjadi satu dengan kehidupan, beliau dipenuhi dengan belas kasih dan simpati terhadap penderitaan orang lain. Jadi beliau berkeinginan untuk mengajar dan membantu mereka untuk mencapai penerangan seperti dirinya. Tetapi pada waktu terjadinya cerita ini adalah waktu yang sangat menyedihkan. Waktu di mana tidak ada orang lain yang dapat mengerti tentang Kebenaran, serta menjalani kehidupan seperti yang terjadi. Dan karena Buddha tersebut mengetahui hal ini, beliau menjadi Diam. Sembari bermeditasi di hutan, Buddha Diam ini memasuki tahapan batin yang sangat tinggi. Konsentrasi beliau begitu tingginya sehingga beliau dapat bertahan dalam satu posisi selama 7 hari 7 malam, tanpa makan dan minum.

Ketika beliau telah kembali ke dalam keadaan biasa, beliau berada dalam keadaan kelaparan yang membahayakan. Pada waktu yang biasa, beliau pergi untuk berpindapatta di aula milik orang yang kaya raya tersebut.

Ketika orang kaya tersebut baru saja duduk untuk makan siang, ia melihat Buddha Diam datang dengan mangkoknya. Ia berdiri dari tempat duduk dengan hormat. Ia menyuruh pembantunya untuk pergi dan memberikan makanan kepada beliau.

Sementara itu, Mara, dewa kematian, terus mengintai. Mara adalah yang dipenuhi dengan keserakahan untuk menguasai semua makhluk. Ia hanya akan mendapatkan kekuatan ini dari rasa takut akan kematian.

Karena seorang Buddha hidup dengan damai pada setiap saat, beliau tidak lagi mempunyai keinginan untuk dilahirkan kembali, dan karenanya tidak takut akan kematian. Karena, Mara tidak dapat menguasai Buddha Diam, ia ingin menghancurkan beliau. Ketika ia melihat bahwa beliau berada dalam bahaya kematian akibat kelaparan, ia tahu bahwa kesempatannya telah datang. Sebelum pembantu itu dapat meletakkan makanan ke dalam mangkok Buddha Diam, Mara menciptakan selokan dalam dengan batubara menyala merah untuk tiba-tiba muncul memisahkan mereka. Tampak bagaikan jalan masuk ke neraka.

Ketika melihat hal ini, pembantu tersebut ketakutan setengah mati. Ia berlari kembali kepada tuannya. Orang kaya tersebut bertanya mengapa ia kembali tanpa memberikan makanan persembahan tersebut. Pembantu tersebut menjawab, "Tuanku, ada selokan dalam yang berisi penuh dengan batubara menyala merah tepat di hadapan Buddha Diam".

Orang kaya tersebut berpikir, "Orang ini pasti melihat yang bukan-bukan". Jadi ia mengirim pembantu yang lain untuk memberikan makanan persembahan tersebut. Pembantu yang ini pun ketakutan setengah mati karena selokan batubara tersebut. Beberapa pelayan diperintahkan, tetapi semuanya kembali karena ketakutan terhadap kematian.

Tuan tersebut berpikir, "Tidak ragu lagi, pasti Mara, dewa kematian, sedang mencoba untuk menghalangi perbuatan baikku memberikan persembahan makanan kepada Buddha Diam. Karena perbuatan baik adalah awal dari jalan menuju penerangan, Mara mencoba menghalangiku dengan berbagai cara. Tetapi ia tidak mengerti keyakinanku kepada Buddha Diam, dan kuatnya keinginanku untuk memberi".

Jadi ia sendiri mengambil makanan persembahan tersebut untuk diberikan kepada Buddha Diam. Ia juga melihat selokan dengan batubara menyala merah. Kemudian ia melihat ke atas dan melihat Dewa Kematian yang mengerikan, melayang di udara. Ia bertanya, "Siapa kamu?" Mara menjawab, "Aku adalah Dewa Kematian!"

"Apakah kamu yang menciptakan selokan api ini?" tanya orang itu. "Ya, memang begitu", kata dewa tersebut. "Mengapa kamu lakukan itu?" "Untuk mencegahmu memberikan persembahan makanan, dengan begitu akan mengakibatkan Buddha Diam mati kelaparan! Dan juga untuk mencegah perbuatan baikmu itu menolongmu mencapai penerangan, jadi kamu akan tetap berada dalam kekuasaanku!"

Orang kaya dari Benares itu menjawab, "Oh Mara, dewa kematian, yang jahat, kamu tidak dapat membunuh Buddha Diam, dan kamu tidak dapat mencegah perbuatan baikku! Marilah kita lihat niat siapa yang lebih kuat!"

Kemudian ia melihat selokan yang membara tersebut, dan berkata kepada Yang telah Mencapai Penerangan, yang tenang dan lembut, "Oh, Buddha Diam, biarlah sinar Kebenaran terus bersinar sebagai contoh bagi kami. Terimalah persembahan untuk hidup ini!" Dengan berkata demikian, ia sama sekali melupakan dirinya sendiri, dan pada saat itu pula tidak ada lagi rasa takut akan kematian. Tepat sesaat ia melangkahkan kakinya ke dalam selokan membara itu, ia merasa dirinya diangkat oleh setangkai bunga teratai yang sejuk. Mahkota bunga tersebut mekar di udara, dan memenuhinya dengan wama keemasan. Sembari berdiri di tengah bunga teratai ini, makhluk hebat ini ,menuangkan makanan persembahan ke dalam mangkok Buddha Diam. Mara—dewa kematian—telah dikalahkan!

Sebagai tanda terima kasih atas pemberian ini, Buddha Diam mengangkat tangannya memberikan berkat. Orang kaya ini menunduk dengan hormat, menyatukan kedua belah telapak tangannya di atas kepala. Kemudian Buddha Diam tersebut pergi dari Benares, dan pergi menuju ke hutan Himalaya.

Masih berdiri di tengah teratai yang indah tersebut, dengan sinar yang keemasan, tuan yang murah hati tersebut mengajar para pengikutnya. Ia mengatakan kepada mereka bahwa berlatih 5 Langkah Latihan (Panca Sila) penting artinya untuk memurnikan batin. Ia mengatakan bahwa dengan batin yang murni, akan ada manfaat yang besar dalam memberikan persembahan –yang benar-benar merupakan suatu pemberian kehidupan! Ketika ia telah selesai mengajar, selokan membara tersebut menghilang dan teratai yang sejuk itu pun menghilang.

PESAN YANG ADA : JANGANLAH MEMPUNYAI RASA TAKUT KETIKA MELAKUKAN PERBUATAN-PERBUATAN YANG BAIK.

 

[Dikutip dari Buku Mutiara Dhamma X, atas izin Ir. Lindawati T]

 

 

Hits: 35