Category: Cerita Anak Published: Monday, 23 October 2017

Kisa Gotami

 

Pada suatu hari, seorang yang berlimpah hartanya menemukan bahwa tumpukan emasnya tiba-tiba berubah menjadi seonggok abu. Karena masygul hatinya, ia hanya berbaring sepanjang hari dan menolak menyantap makanan dan minumannya. Salah seorang diantara para sahabat mendengar kabar sakitnya dan berkunjung ke rumahnya. Di situ, ia mendapat penjelasan mengenai sebab-musabab yang menimpa sahabatnya itu. Maka kata sahabat orang kaya itu: “Engkau tidak mempergunakan kekayaanmu dengan semestinya. Jika engkau hanya menumpuk dan menumpuk kekayaan, ia tiada berguna seperti abu sisa bakaran yang tiada nilainya. Sekarang camkan nasibatku kepadamu. Gelarkan alas tikarmu dan aturlah abu ini dalam beberapa tumpukan. Setelah itu, engkau harus bersikap seolah-olah sedang menjajakan sesuatu kepada para pembeli.”

Orang kaya itu melakukan persis seperti yang dinasihatkan kepadanya. Ketika tetangga-tetangganya bertanya, “Mengapa engkau menjajakan abu dapurmu?” dia menjawab, “Aku sedang menjual harta kepunyaanku.”

Beberapa saat kemudian, seorang gadis muda bernama Kisa Gotami, yatim-piatu yang sangat miskin lewat di depan dia dan melihatnya. Kata gadis itu kepadanya, “Tuanku, mengapa engkau menjual emas dan perakmu?”

Mendengar hal itu, dia menjawab, “Sudilah kiranya engkau memberi aku emas dan perak yang kau maksud?. Dan Kisa Gotami meraup segenggam abu dan lihatlah! Abu itu berubah kembali menjadi emas.

Karena menganggap Kisa Gotami dianugerahi mata pengetahuan spiritual dan kemampuan menakar nilai sesungguhnya dari suatu benda, tuan yang kaya itu memutuskan menikahkan putranya dengan dia, dan berkata, “Bagi banyak orang, emas tidak lebih baik dari abu, tetapi dengan Kisa Gotami, abu berubah menjadi emas murni.”

Alkisah Kisa Gotami beranakkan satu putra namun kemudian anak itu mati. Dalam sedihnya, dia membawa jenazah putranya itu ke tetangga-tetangganya minta diberi obat-obatan. Melihat hal itu, mereka berkata, “Dia telah kehilangan indra keenamnya. Anaknya sendiri mati.”

Akhirnya, Kisa Gotami bertemu dengan seseorang yang berkata: “Tiada padaku obat-obatan seperti yang kau minta untuk anak-mu tetapi aku mengetahui seorang dokter yang dapat membantumu.”

Kisa Gotami mengadu di hadapan Buddha sambil menangis. “Tuan dan Guru, sudilah berikan kepadaku obat penyembuhan anakku ini.”

Sang Buddha menjawab: “Aku memerlukan segenggam biji wijen.” Tak terkira hatinya mendengar hal itu seraya berjanji akan membawanya dengan segera. Sabda Sang Buddha lagi: “Biji-biji itu harus diambil dari sebuah rumah yang tidak pernah mengalami kehilangan anak lelaki, suami, istri atau sahabat.”

Kisa Gotami yang malang kini mengetuk dari pintu ke pintu sehingga orang-orang merasa kasihan dengannya dan berkata: “ini, ambillah!” Tetapi ketika ia bertanya, “Pernahkah ada anak laki-laki, suami, istri, atau teman mati dirumahmu?” Mereka menjawab: “Aduh, kami yang hidup hanya sedikit, tapi yang mati sudah banyak jumlahnya. Jangan mengingatkan kami lagi pada perisitwa-perisitwa yang sangat menyedihkan itu.” Begitulah, tidak ada rumah yang steril dari kematian.

Kisa Gotami gelisah dan putus asa. Duduklah dia di pinggir jalan sambil menatap lampu-lampu yang berkelap-kelip tiada hentinya. Perlahan namun pasti, kegelapan akhirnya menyelimuti seisi kota. Kisa Gotami merenungkan nasib manusia, betapa mereka hidup dan kemudian mati. Timbul dalam hatinya: “Betapa kesedihan membangkitkan egosime dalam hatiku! Kematian adalah lumrah bagi semua orang; namun dalam lembah kesepian ini ada jalan yang membimbing dia yang telah menanggalkan segala egosentrisme menuju keabadiaan.”

Dalam terang ini, Kisa Gotami merelakan kepergian anaknya dan menguburnya di tengah hutan. Setelah itu, ia kembali ke hadapan Buddha dan menjadikan Buddha tempat pengungsian dan menemukan kedamaian hati dalam Dhamma, yaitu obat pelipur dan penyembuh segala hati yang meradang dalam luka dan duka.

Sabda sang Buddha:
“Hidup manusia di dunia ini penuh kesusahan, singkat dan bercampur dengan penderitaan. Karena itu, tak seorangpun mampu menghindar dari kematian. Setelah mencapai usia lanjut, sang Kematian bakal mengetuk rumahmu. Begitulah yang harus terjadi dalam kehidupan segenap makhluk hidup.”

Seperti halnya buah-buah matang di pohon yang setiap saat bisa jatuh ke tanah, begitu juga manusia sejak lahirnya selalu dibayangi bahaya kematian.

Seperti halnya setiap barang-barang buatan manusia yang suatu saat pasti akan pecah, begitu juga kehidupan manusia.

Baik yang muda maupun yang tua, yang bodoh dan pintar, semuanya jatuh dalam kekuasaan kematian; semuanya pasti mati.

Seorang ayah tidak akan sanggup menyelamatkan anak, kerabat atau para sahabatnya yang meninggal dunia itu.

Camkan baik-baik! Sementara kaum kerabat sedang larut berkabung, satu per satu manusia di giring seperti seekor sapi yang digiring ke rumah jagal.

Jadi, dunia memang ditakdirkan bersama kematian dan pembusukan. Oleh karena itu, orang bijak tidak akan larut dalam perkabungan karena mengetahui hal ini. Bukan karena sedu-sedan tangisan atau jeritan pedih dia mendapatkan kedamaian hati. Sebaliknya, penderitaannya akan kian bertambah dan tubuhnya akan kian menderita. Ia justru akan tampak pucat dan sakit-sakitan padahal yang mati tetap terbaring tinggal jasad kaku.

Orang meninggalkan dunai ini untuk selama-lamanya dan nasib mereka selanjutnya tergantung pada setiap perbuatan mereka semasa hidup.

Jika seseorang hidup hingga 100 tahun atau bahkan lebih, dia toh akan dipisahkan dari para kerabatnya dan meninggalkan dunia tanpa kembali lagi.

Dia yang telah mementangkan tali busur jiwanya dan hidup dalam kebeningan akan mendapatkan ketenangan batin. Dia yang telah mengatasi semua penderitaan akan bebas dari penderitaan dan diberkati.

 

[Dikutip dari Buddhisme untuk pemula, halaman 75 – 78.]

 

 

Hits: 40