Category: Cerita Buddhis Published: Thursday, 23 November 2017

Pesta Nikah Di Jambunada

 

Pikir seorang laki-laki di Jambunada yang akan menikah keesokan harinya, “Apakah sang Buddha, Sang Terberkati, akan hadir dalam pesta pernikahanku?”

Dan sang Terberkati berjalan lewat rumahnya dan bertemu dengan orang itu. Ketika mendengar keinginan dalam hati calon mempelai tersebut, dia memutuskan untuk datang ke situ.

Demi melihat iring-iringan sang Buddha bersama banyak bhiksu pengikutnya, tuan rumah yang merasa kekurangan panganan dan tempat duduk berusaha sebisa-bisanya menyenangkan para tamunya seraya berkata: “Silahkan makan sepuas-puasnya Tuanku dan anda semuanya yang ikut bersamanya.”

Meskipun rombongan besar itu mulai makan kenyang, makanan dan minuman yang tersaji tiada habis-habsnya. Maka pikiran sang empunya pesta: “Sungguh menakjubkan! Aku seharusnya mengundang semua kerabat dan sahabatku ke sini. Seandainya saja aku mengundang mereka semua.”

Belum lenyap pikiran ini dari benaknya, semua kerabat dan sahabat pada berdatangan memasuki rumah pesta. Dan meskipun tempat itu kecil, tersedia cukup ruang bagi semua yang hadir disitu. Mereka duduk di seputar meja dan makan, dan ada lebih dari cukup untuk mereka semua.

Yang Terberkati senang melihat banyak tamu yang diliputi gembira. Karena itu, dia berkenan memuaskan dahaga jiwa mereka dengan kata-kata kebenaran seraya mempromosikan suka cita kebaikan:

“Kebahagiaan terbesar yang dapat dibayangkan manusia adalah ikatan perkawinan yang mempersatukan dua hati yang mencinta. Tetapi, masih ada kebahagiaan yang lebih besar dari perkawinan yaitu memeluk kebenaran. Kematin akan memisahkan suami dari istrinya, istri dari suaminya. Akan tetapi, kematian tidak akan pernah menjamah dia yang menikahkan diri dengan kebenaran.

Oleh karena itu, kawinlah dan hiduplah dalam ikatan suci dengan kebenaran. Suami yang mencintai istirnya dan mengidamkan sebuah rumah-tangga yang akan berlangsung abadi harus setia kepadanya seperti kesetiaan kebenaran. Maka istrinya akan menaruh sandaran hidup kepadanya, menghormati dan melayani dia dengan pengidamkan ikatan rumah-tangga yang abadi harus setia kepadanya seperti kesetiaan kebenaran. Maka suami akan menaruh kepercayaan kepadanya dan memberi dia nafkah yang cukup. Sesungguhnya, aku berkata kepadanya, anak-anak mereka akan menjadi seperti orang tuanya dan akan menyasikan kebahagiaan ayah-bundanya.

Hendaknya semua orang kawin, hendaknya perkawinan dilandasi cinta akan kebenaran. Dan ketika Mara, sang penghancur datang memisahkan badan wadagmu, engkau akan hidup terus dalam kebenaran dan mengambil bagian dalam kehidupan abadi. Semua ini karena kebenaran itu abadi.”

Tak seorangpun disitu yang tidak diperkuat kehidupan spiritualnya. Hati mereka semua terbuka pada kemanisan lezat kehidupan kebenaran dan semua menjadi Buddha, Dharma dan Sangha tempat pengungsian bagi jiwa-jiwa mereka.

 

[Sumber : Buddhisme bagi pemula, halaman 79–80.]

 

 

Hits: 22