Category: Cerita Buddhis Published: Thursday, 07 December 2017

Pedagang Kaya Yang Berawal Dari Bangkai Tikus

 

Dahulu kala, di kota Varanasi, India, terdapat seorang laki-laki bernama kasetti. Ia adalah menteri keuangan yang bekerja pada raja Brahmadatta. Kasetti sangat berpengetahuan dan memiliki kelebihan dapat melihat masa depan, sehingga orang-orang sangat menyukainya.

Suatu hari, Kasetti mengikuti raja berjalan mengelilingi kota. Tiba-tiba ia melihat bangkai tikus di tepi jalan, dan berkomentar, “Orang yang pintar akan mengambil bangkai tikus ini, hidupnya pasti akan jadi sukses dan bahagia.” Tanpa disengaja kata-kata Kasetti terdengar oleh seorang laki-laki miskin yang tidak memiliki pekerjaan. Ia sangat percaya perkataan Kasetti dan segera mengambil bangkai tikus tersebut.

“Aduh, Tapi apa yang harus saya lakukan selanjutnya?” guman laki-laki itu dalam hati sambil menenteng ekor bangkai tikus dan berjalan ke dalam kota.

Tiba-tiba, “Meongggg…. Meonggg.”

Tanpa disadari laki-laki miskin tersebut, ternyata sejak tadi, seekor kucing dengan leher berjalung uang logam telah mengikutiya sambil mengendus bangkai tikus. “ohh, kamu mau tikus ini, yah?” kata laki-laki itu.

Kucing itu kemudian mengeong lagi, mengiyakan perkataan laki-laki miskin tersebut.

“Bangkai tikus ini aku tukar dengan uang logam di lehermu, yah?”

“Meongggg.” Sepertinya sang kucing kembali setuju.

Laki-laki miskin tersebut tersenyum dan segera mencopot uang logam tersebut sambil menyodorkan bangkai tikus kepada kucing.

Tak lama kemudian, laki-laki tersebut beranjak pergi sambil menggengam uang logam di tangannya. Di perismpangan jalan, dia mendengar teriakan dibelakangnya, “Madunya asli, murah sekali, maduuuuu”. Ternyata seorang penjual madu. Terbit rasa ingin mencicipi madu tersebut.

Laki-laki itu pun segera membeli madu dengan sekeping uang logam tersebut Kemudian dia mencari gentong memasukkan madu tersebut ke dalamnya dan memenuhinya dengan air dingin. “Aah, segar sekali… Rasanya sangat manis dan menghilangkan rasa letihku.”

Tak jauh darinya, melintas seorang penjual bunga sedang mendorong gerobak sambil bercucuran keringat. Timbul rasa simpati dalam diri Laki-laki miskin tersebut, dia pun segera menghampiri sang penjual bunga, “Anda capek? Minumlah segelas air madu ini!”

Tanpa pikir panjang, penjual bunga itu langsung meminumnya, “wahhh, segar sekali.” Si penjual bunga sangat gembira dan merasa tertolong. Sebagai imbalannya, dia memberikan seikat bunga kepada laki-laki miskin tersebut.

Melihat seikat bunga yang indah ditangannya, laki-laki tersebut berpikir untuk menjual bunga tersebut pada seorang pria berpakaian rapi, yang sepertinya hendak menemui kekasihnya. Pria tersebut memberikan lima keping uang ogam untuk seikat bunga tersebut. Laki-laki miskin merasa gembira dan segera menggunakan seluruhnya untuk membeli madu kembali. Dia kembali mencampurkan madu tersebut dengan air dan menjadikannya sirup madu yang lezat.

Semakin lama sirup madu itu menjadi dagangan yang laris manis. Orang-orang berdatangan untuk menikmatinya, hingga berkembang berbagai cerita dari mulut ke mulut.

“Sirup madu itu dapat mengembalikan tenaga.”

“Masuk angin langsung sembuh jika minum sirup madu.”

Pada suatu hari, seorang pesuruh dari istana sedang membeli sirup madu. Sambil duduk, si pesuruh mengeluh pada laki-laki miskin tersebut, “kemarin ada angin taufan yang sungguh mengerikan Ranting pohon dan daun berserakan hingga memenuhi halaman istana. Gak ngerti deh, ranting yang begitu banyak dibuang ke mana yah? Huhhh…”

Laki-laki miskin tersebut tertegun, dia teringat bahwa beberapa saat yang lalu, dia kedatangan salah seorang anak buah dari pengusaha keramik yang mengeluh bahwa dia belum menemukan kayu bakar. “Hmmmm, mungkin aku bisa mengambil ranting di istana dan memberinya kepada tukang keramik itu,” pikirnya dalam hati. Dia pun seera meminjam gerobak dan mengajak anak-anak yang sedang bermain untuk ikut dengannya pergi ke istana.

Laki-laki itu mencari tukang kebun yang dikenalnya, “Saya ingin mengambil ranting kering yang ingin dibuang.”

Tukang kebun tertawa gembira dan merasa bebannya langsung hilang, “Silakan, silakan.”

Setelah semua sampah kayu diangkat, tukang kebun tersebut memberikan uang kepada laki-laki itum yang segera dia gnakan untuk membeli makanan bagi anak-anak yang membantu.

Laki-laki itu langsung membawa kayu bakar tersebut ke tukang keramik. Wah.. gembira sekali hati tukang keramik melihat kayu-kayu berkwalitas tersebut, “Kayu bakar ini sangat baik dan paling cocok untuk membakar piring yang berkwalitas,” kata tukang keramik dan memberi uang kepada laki-laki itu.

Namun, laki-laki itu malah menolak menerima uang dan berkata dengan halus, “Saya tidak membutuhkan uang. Jika diizinkan saya ingin memiliki keramik buatan Tuan.”

Tentu saja tukang keramik tidak keberatan, dia langsung mengambil piring, mangkuk, vas bunga, dan beberapa jenis keramik lainnya untuk dia berikan pada laki-laki tersebut, “Saya berikan barang-barang bagus, yang biasanya hanya digunakan oleh raja dan keluarganya.”

Esok harinya, laki-laki tersebut sudah berhasil menjual keramiknya pada seorang saudagar yang percaya bahwa keramik ditangannya adalah keramik yang digunakan oleh raja. Karena uangnya tidak cukup, saudagar itu menambahkan cincin permata yang ada di jarinya.

Suatu hari, laki-laki miskin tersebut mendengar desas-desus bahwa akan tiba serombongan pedagang yang membawa 500 ekor kuda di kota. “Hmmm, mereka membutuhkan makanan kuda.” Laki-laki itu segera mendatangi kuli yang biasa membeli air madu dan menggaji orang-orang di sana untuk memotong, dan dalam sekejap, sudah terkumpul rumput hingga berkarung-karung. Tak lama, serombongan pedagang datang bersama 500 ekor kuda. Dia sangat senang ketika melihat bahwa teah tersedia rumput yang cukup untuk makanan kuda-kudanya. Dia pun tak ragu untuk membeli dengan harga tinggi. Laki-laki miskin itu telah mendapatkan uang banyak sekarang, namun, dia tetap kembali menjual air madu.

Beberapa bulan kemudian, sebuah kapal besar dari luar negeri berlabuh. Yang konon kabarnya membawa barang-barang berkualitas dari negeri seberang. Laki-laki penjual madu tertarik, dia pun segera mengenakan pakaian yang paling bagus, mengenakan cincin permata, dan menyewa kereta kuda mewah untuk pergi ke pelabuhan guna menemui pemilik kapal tersebut. Melihat penampilan laki-laki itu, pemilik kapal langsung percaya kepadanya. Dia pun setuju untuk membuat kontrak yang menyatakan bahwa hanya laki-laki penjual madu ini yang berhak untuk membeli seluruh barang-barang di kapal. Cincin permata itu jari menjadi jaminannya.

Keesokan harinya, seorang pedagang besar mendatangi pemilik kapal, “Saya ingin membeli semua barang yang ada dalam perahu ini.”

“Sayang sekali saya sudah membuat kontrak untuk menjual seluruh barang ini dengan seseorang.”

“Saya ingin bertemu dengan orang itu dan akan membayar 10 kali lipat lebih besar daripada kontrak.”

Demikianlah, akhirnya laki-laki penjual madu tersebut mendapatkan bayaran jauh lebih mahal dari harga semula. Dia pun menjadi orang kaya yang terkenal di Varanasi. Jika ditanya apa rahasia keberuntungannya, laki-laki teresbut akan menjawab spontan, “Karena saya percaya pada kata-kata Kasetti, maka saya bisa bahagia seperti sekarang.”

Suatu hari laki-laki tersebut mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Kasetti. Dia pun menyampaikan rasa terima kasihnya. “Karena bantuan Anda, sekarang saya sangat bahagia.”

Menteri Kasetti tertawa lebar sambil berujar pelan, “Kalau saya tidak salah ingat, itu dimulai dari bangkai tikus. Anda menjadi kaya karena percaya akan kata-kata saya, serta memiliki keinginan dan tekad untuk maju. Berarti ini semua karena pikiran dan usaha Anda sendiri. Seluruh kebahagiaan yang sekarang Anda nikmati dibangun oleh diri sendiri. Namun, jangan lupa Anda juga harus mencapai kebahagiaan secara kejiwaan. Jika Anda percaya dan mau berusaha, maka seluruh keluarga juga pasti mendapatkan kebahagiaan sebenarnya.

 

 

Hits: 14