Category: Cerpen Buddhis Published: Wednesday, 22 November 2017

Pilihan Hidup
Oleh : Bodhiratna

 

David adalah seorang manager pada sebuah restoran di Jakarta. Dia selalu ceria dan dalam mood yang bagus dan selalu memiliki sesuatu perkataan yang positif. Jika seseorang menanyakan bagaimana dia melakukannya, maka dia akan menjawab,"Jika saya selalu bisa memilih yang lebih baik, maka pasti diri saya ada dua!"

Ketika David tidak bekerja lagi di restoran itu, banyak pelayan restoran yang mengikutinya berhenti bekerja di restoran tersebut, dengan maksud untuk mengikutinya dari satu restoran ke restoran lain. Alasan para pelayan itu mengikuti dirinya adalah karena sikap dan pendiriannya. Dia adalah seorang motivator. Jika seorang pegawai sedang "bete" alias mengalami hari yang buruk, David selalu ada di sana, memberi nasehat kepada si pegawai untuk melihat segi positif dari situasi tersebut.

Read more: Pilihan Hidup

Category: Cerpen Buddhis Published: Wednesday, 22 November 2017

Friends

 

"Tok, tok, tok !" "Tunggu sebentar!" sahut Andre mendengar pintu kamar kostnya diketuk. Dengan malas, Andre pun berdiri, berjalan ke arah pintu, "Oh, kamu, Nia, ada apa siang-siang begini?"

"Ada apa?" tanya Nia keheranan, "Oh, kamu menyindirku ya?, karena aku kepagian lebih dari setengah jam? Sorri, soalnya daerahku itu 'kan susah dapat angkot, jadinya aku keluar lebih awal, tahunya hari ini gampang!"

Read more: Friends

Category: Cerpen Buddhis Published: Monday, 16 October 2017

Sebuah Kejujuran
Oleh: Wie Fuk Nyang

 

Sinar Matahari siang itu begitu teriknya menyengat tubuh, kerongkongan terasa kering dibuatnya. Namun, tubuh kecil berkulit hitam itu terus menawarkan dagangan korannya kepadara orang-orang yang berlalu sepanjang jalan raya itu. Hiruk pikuk dan panasnya terik matahari tidak dihiraukannya, seakan suatu keadaan dan pandangan yang sudah biasa baginya.

Read more: Sebuah Kejujuran

Category: Cerpen Buddhis Published: Monday, 20 November 2017

Malam Waisak Tanpa Purnama
Oleh : Yenny Heriana

 

Aku keluar menuju teras rumah. Saat itu sudah hampir pukul tujuh. Langit sudah gelap di luar sana, dan sang mentari telah tenggelam digantikan oleh sri-rembulan. Kurasakan angin dingin menerpa wajahku. Aku bergidik. Ah, tampaknya bakalan turun hujan. Aku mendongak ke atas, ke langit kelam. Awan hitam bergelung-gelung di langit yang juga hitam. Oow.. salah perkiraanku tadi, ternyata rembulan pun enggan menampakkan dirinya, enggan menggantikan tahta sang mentari.

Read more: Malam Waisak Tanpa Purnama

Category: Cerpen Buddhis Published: Saturday, 14 October 2017

Badai Pasti Berlalu

 

Waktu itu Hani bersama kakaknya sedang berada di Stasiun Yogya, menunggu kereta yang akan membawanya pulang ke kota kecil tempat mereka dilahirkan.

Di pintu peron dia melihat dua lelaki remaja seusianya sedang berjalan memasuki stasiun. Di punggung mereka bertengger ransel besar-besar .Tanpa diduga cowok itu duduk tidak jauh dari tempatnya duduk bersama kakaknya.

Read more: Badai Pasti Berlalu

Category: Cerpen Buddhis Published: Saturday, 04 November 2017

Ketika Kusadari
Oleh: Virati

 

Aku termangu di jendela kamarku, angin malam menggeraikan rambutku. Ternyata waktu begitu cepat berlalu. Tiga tahun sudah kutinggalkan kota kelahiranku. Aku memantapkan tekad kulaih di kota Gudeg, kita impianku sejak SD. Suasana kota pelajar ini memang beda, yang memberi kenyamanan tersendiri buatku. Bhakan sejak tiga tahun kuliah di UGM, baru satu kali aku pulang.

Read more: Ketika Kusadari

Category: Cerpen Buddhis Published: Saturday, 14 October 2017

Aku Tersesat!
Oleh: Yenny Heriana

 

Bunyi gemeretak itu mengagetkanku. Aku berteriak, melompat, dan menoleh ke belakang. Dengan segera aku membulatkan mata dan mendengarkan mencari sumber suara itu. Ah, hanya ranting pohon. Aku melangkah mendekat, memastikan bahwa itu benar-benar hanya ranting pohon, lalu tertawa sinis. “Hah! Sejak kapan kamu menjadi penakut begini, Reta? Kamu kan sudah berlindung pada Sang Triratna!” Aku mengomel sendiri, berharap yang tadi itu bisa menenangkan hatiku yang sudah hampir meledak, atau aku cuma menghibur diriku sendiri. Aku tak peduli. Aku meneruskan perjalananku, sembari mengucapkan ‘Om Mani Padme Hum’ dalam hatiku. Kuharap itu bisa membantu.

Read more: Aku Tersesat!

Category: Cerpen Buddhis Published: Tuesday, 17 October 2017

Selamat Tinggal

 

"Adi !" teriak Pamela memanggil pemuda yang dikasihinya. Tapi Adi cuma berlalu. Ia mendengar panggilan Pam, begitu ia memanggil Pamela, tapi ia mengacuhkannya.

Dengan berlari kecil, Pamela berhasil menyamai langkah Adi lalu mencoba menghentikan dia. Adi pun menghentikan langkahnya dan memandangi wajah Pam, teman satu kampusnya. Dengan mengulas senyum, Adi bertanya, "Ada apa, Pam ?", seakan yang baru saja terjadi itu cuma angin lalu.

Read more: Selamat Tinggal

Category: Cerpen Buddhis Published: Friday, 13 October 2017

Akhirnya, Kuterima Karmaku
Oleh : Bodhiratna

 

Waktu menunjukkan pukul 11 siang, aku keluar dari vihara. Hari ini adalah hari minggu. Cuaca hari ini sungguh cerah. Wah, aku pikir, betapa asiknya jalan-jalan ke BIP. Aku sudah sampai di gerbang depan Vihara Vimala Dharma. Kemudian aku mengingat apa yang baru aku dengar dari ceramah salah satu bhante, saya tak tahu namaNya. Yang pasti kepalanya gundul, trus pake jubah kuning, trus cara jalannya pelan-pelan, trus wajahnya memancarkan sinar matahari, eh memantulkan. Tadi sih katanya bagaimana seorang buddhis itu seharusnya perhatiannya selalu terfokus, tidak bercabang-cabang, kalo ngga salah ingat ada istilah "metadisi" di ceramahnya (kalo gue ngga salah dengar tadi). Dia menceritakan bagaimana seseorang itu harus selalu konsen sama pekerjaannya. Trus ngga tau lagi deh dia ngomongin apa, soalnya gue engga konsen sama ceramahnya sih. Tapi setidaknya kan ada sedikit yang gue tangkap, ya itu tu, "metadisi".

Read more: Akhirnya, Kuterima Karmaku

Category: Cerpen Buddhis Published: Monday, 16 October 2017

Cinta Yang Terpuruk
Oleh : NTD

 

Indahnya matahari terbenam tidak membuatku bahagia. Aku berdiam sendiri di kamar, termenung dan sempat terlintas ucapannya di siang hari. "Aku tidak bermaksud untuk menghianatinya juga menduakannya, Mengapa ia berpikir demikian? Mengapa ia berpikir bahwa selama ini aku berpura-pura padannya? "Tanpa kusadari, pipiku sudah basah dengan air mata.Aku belum sempat menjelaskan persoalan ini dengannya tadi siang, tapi besok aku akan menemuinya di kampus.

Read more: Cinta Yang Terpuruk

Category: Cerpen Buddhis Published: Thursday, 12 October 2017

Akhirnya Engkaupun Tersenyum
Oleh : Bodhiratna

 

Malam minggu ini, aku sendirian lagi. Duduk seorang diri di teras rumahku. Malam belum begitu larut. Baru sekitar jam sepuluh. Tapi suasana sungguh sepi. Atau hatiku yang sedang sepi, pikirku. Mataku menerawang ke angkasa. Menatap indahnya bulan di saat purnama. Bulan yang indah beserta ribuan zamrud bertebaran di angkasa. Semuanya tampak begitu indah. Tapi mengapa aku tak dapat menikmati indahnya malam ini. Karena aku seorang diri. Mengapa aku harus sendiri! Mengapa ? Apakah ini sudah takdir untuk diriku ? Hehhh, entah sudah helaan yang ke berapa. Rasanya sudah ribuan kali aku menghela nafas. Pikiranku kacau.

Read more: Akhirnya Engkaupun Tersenyum