Category: Cerpen Buddhis Published: Monday, 04 December 2017

Setulus Sentuhan Kasih
Oleh : Hendry Filcozwei Jan

 

Gedung PTT yang megah tepat berada di seberang tempat aku berdiri menantikan angkot Cikudapateuh-Ciroyom. Pagi ini jalan BKR belum begitu ramai oleh kendaraan. Yang ramai justru orang-orang yang lalu lalang selesai berolah raga di lapangan Tegalega. Kupandangi sepasang suami istri muda dengan buah hati mereka di gendongan sang suami yang lewat persis di depanku. Berjalan, bercanda dan tertawa riang bersama. Sesekali sang suami mencium anaknya. Hmmm...... tampaknya mereka adalah pasangan keluarga muda yang sangat berbahagia.

Read more: Setulus Sentuhan Kasih

Category: Cerpen Buddhis Published: Monday, 04 December 2017

Senja Di Borobudur

 

Sebenarnya perjalananku ke kota Magelang bukanlah dalam rangka liburan, tetapi untuk menghilangkan beban kehidupan yang menghimpit dadaku selama ini. Dalam usia 49 tahun aku sudah sukses dalam karier. Aku sudah mempunyai seorang pendamping hidup yang cantik. Keud aorang putraku sudah dewasa semua. Tetapi semua itu belum memberikan rasa puas dan bahagia dalam diriku, terkadang aku berpikir, "Apakah sebenarnya arti hidup ini?"

Read more: Senja Di Borobudur

Category: Cerpen Buddhis Published: Wednesday, 29 November 2017

Semburat Lembayung Di Hatiku

 

Jam dinding menunjukkan pukul 22.00, tetapi aku masih belum dapat memejamkan mataku dan memimpikan sesuatu yang indah dalam tidurku. Aku terus membalik-balikkan tubuhku di tempat tidur. Pikiranku terus memikirkan masalah-masalah yang timbul dalam diriku akhir-akhir ini, ingin rasanya aku memaksakan mataku untuk terpejam tapi niat itu kuurungkan ketika aku mengingat bahwa mulai esok adalah liburan semester, berarti aku tak perlu bangun pagi.

Read more: Semburat Lembayung Di Hatiku

Category: Cerpen Buddhis Published: Tuesday, 28 November 2017

Insafnya Si Tukang Iseng

 

Boy sedang asyik-asyiknya mendengarkan radio di kamar ketika telepon berdering.
"Siapa sih, siang-siang bolong begini nelpon, menggangu kesenangan orang aja!", kata Boy. Dengan malas Boy keluar dari kamar dan mengangkat telepon.

"Hallo, selamat siang, bisa bicara dengan Edi?" terdengar suara cewek di ujung telepon.
"Oh, Edi-nya lagi pergi, siapa ya?" tanya Boy. "Dini", jawab suara tersebut.

Read more: Insafnya Si Tukang Iseng

Category: Cerpen Buddhis Published: Monday, 27 November 2017

Gara-Gara Mobil Mogok
Oleh : NTD

 

Fandy tersentak dari lamunannya. Frederick, sang sohib, baru saja membuyarkan semua bayangan yang sedang muncul di pelupuk matanya.

"Kamu pasti lagi ada masalah! Ada apa kali ini?"

"Ah, tidak!"

Read more: Gara-Gara Mobil Mogok

Category: Cerpen Buddhis Published: Friday, 24 November 2017

Nantikan KedatanganKu
Oleh : Hendry Filcozwei Jan

 

Oplet Lemabang yang kutumpangi melaju perlahan. Ada rasa kesal melihat laju oplet yang tersendat-sendat. Jalan Kebumen yang sudah sempit, makin sempit lantaran mobil-mobil barang yang parkir di sisi kiri jalan untuk bongkar muat. Rasa sebel, ingin marah, dan kangen campur baur dalam dada. Ini memang salahku sendiri. Kenapa aku nekat naik oplet Lemabang, padahal aku bisa carter taksi. "Huuuh..." aku menghembuskan napas panjang agar dadaku tidak sesak.

Read more: Nantikan KedatanganKu

Category: Cerpen Buddhis Published: Wednesday, 22 November 2017

Pilihan Hidup
Oleh : Bodhiratna

 

David adalah seorang manager pada sebuah restoran di Jakarta. Dia selalu ceria dan dalam mood yang bagus dan selalu memiliki sesuatu perkataan yang positif. Jika seseorang menanyakan bagaimana dia melakukannya, maka dia akan menjawab,"Jika saya selalu bisa memilih yang lebih baik, maka pasti diri saya ada dua!"

Ketika David tidak bekerja lagi di restoran itu, banyak pelayan restoran yang mengikutinya berhenti bekerja di restoran tersebut, dengan maksud untuk mengikutinya dari satu restoran ke restoran lain. Alasan para pelayan itu mengikuti dirinya adalah karena sikap dan pendiriannya. Dia adalah seorang motivator. Jika seorang pegawai sedang "bete" alias mengalami hari yang buruk, David selalu ada di sana, memberi nasehat kepada si pegawai untuk melihat segi positif dari situasi tersebut.

Read more: Pilihan Hidup

Category: Cerpen Buddhis Published: Wednesday, 22 November 2017

Friends

 

"Tok, tok, tok !" "Tunggu sebentar!" sahut Andre mendengar pintu kamar kostnya diketuk. Dengan malas, Andre pun berdiri, berjalan ke arah pintu, "Oh, kamu, Nia, ada apa siang-siang begini?"

"Ada apa?" tanya Nia keheranan, "Oh, kamu menyindirku ya?, karena aku kepagian lebih dari setengah jam? Sorri, soalnya daerahku itu 'kan susah dapat angkot, jadinya aku keluar lebih awal, tahunya hari ini gampang!"

Read more: Friends

Category: Cerpen Buddhis Published: Monday, 20 November 2017

Malam Waisak Tanpa Purnama
Oleh : Yenny Heriana

 

Aku keluar menuju teras rumah. Saat itu sudah hampir pukul tujuh. Langit sudah gelap di luar sana, dan sang mentari telah tenggelam digantikan oleh sri-rembulan. Kurasakan angin dingin menerpa wajahku. Aku bergidik. Ah, tampaknya bakalan turun hujan. Aku mendongak ke atas, ke langit kelam. Awan hitam bergelung-gelung di langit yang juga hitam. Oow.. salah perkiraanku tadi, ternyata rembulan pun enggan menampakkan dirinya, enggan menggantikan tahta sang mentari.

Read more: Malam Waisak Tanpa Purnama

Category: Cerpen Buddhis Published: Saturday, 04 November 2017

Ketika Kusadari
Oleh: Virati

 

Aku termangu di jendela kamarku, angin malam menggeraikan rambutku. Ternyata waktu begitu cepat berlalu. Tiga tahun sudah kutinggalkan kota kelahiranku. Aku memantapkan tekad kulaih di kota Gudeg, kita impianku sejak SD. Suasana kota pelajar ini memang beda, yang memberi kenyamanan tersendiri buatku. Bhakan sejak tiga tahun kuliah di UGM, baru satu kali aku pulang.

Read more: Ketika Kusadari

Category: Cerpen Buddhis Published: Tuesday, 17 October 2017

Selamat Tinggal

 

"Adi !" teriak Pamela memanggil pemuda yang dikasihinya. Tapi Adi cuma berlalu. Ia mendengar panggilan Pam, begitu ia memanggil Pamela, tapi ia mengacuhkannya.

Dengan berlari kecil, Pamela berhasil menyamai langkah Adi lalu mencoba menghentikan dia. Adi pun menghentikan langkahnya dan memandangi wajah Pam, teman satu kampusnya. Dengan mengulas senyum, Adi bertanya, "Ada apa, Pam ?", seakan yang baru saja terjadi itu cuma angin lalu.

Read more: Selamat Tinggal