Category: Cerpen Buddhis Published: Saturday, 04 November 2017

Ketika Kusadari
Oleh: Virati

 

Aku termangu di jendela kamarku, angin malam menggeraikan rambutku. Ternyata waktu begitu cepat berlalu. Tiga tahun sudah kutinggalkan kota kelahiranku. Aku memantapkan tekad kulaih di kota Gudeg, kita impianku sejak SD. Suasana kota pelajar ini memang beda, yang memberi kenyamanan tersendiri buatku. Bhakan sejak tiga tahun kuliah di UGM, baru satu kali aku pulang.

Ingatanku kembali ke masa silam, masa empat tahun lalu ketika aku mulai mengenai dirimu. Aku tak tahu sejak kapan perasaan ini mulai muncul di hatiku. Mungkin sejak kamu sering memperhatikanku, mungkin juga saat pertama kali kau menyadari betapa pintarnya kamu. Sejak itulha, ya... sejak itulah aku mulai rindu bila lama tak jumpa denganmu.

Aku ingat, saat pertama kali kita berkenalan di vihara. Saat itu, aku baru pertama kali ke sana. Sedang kamu, seorang aktivis bahkan Ketua Pemuda saat itu. Tapi saat itu aku tak memperhatikanmu, karena begitu banyak teman baru yang kujumpai.

Kita dikenalkan oleh Anton. Anton juga yang selama ini selalu mengajakku ke vihara, tapi baru kali inilah kupenuhi ajakannya. Rasanya malu harus berhadapan dengan teman-teman baru. Maklum saat itu pergaulanku hanya sebatas teman sekolah dan rumah. Aku sendiri bukan tipe periang dan supel. Perkenalan kita terjadi begitu saja, singkat tanpa perasaan khusus, perasaan yang sama kualami ketika diperkenalkan dengan yang lain.

Hari-hari berlalu. Minggu-minggu selanjutnya aku mulai rutin ke vihara. Ada perasaan damai mendengarkan dan mengalunkan paritta suci ketika kebaktian. Aku mulai terbiasa dengan suasana ini, apalagi bila ada bhikkhu yang memberikan ceramah Dharma, mengulang kembali sabda-sabda Sang Buddha. Tentu saja aku tidak ditemani Anton. Ia kadang tidak hadir. Dan setiap minggu kita selalu bertemu. Rasannya tidak ada yang istimewa dalam pertemuan kita, bahkan kita jarang terlibat dalam obrolan yang hangat. Aku tahu kamu selalu sibuk mengurus tugas rutin sebagai ketua. Dan entah kenapa aku ragu untuk menegurmu, wakau sekedar obrolan ringan. Karena kau pun tak acuh padaku. Tapi, aku tak terlalu memusingkannya.

Sampai pada minggu sore itu, ketika aku datang lebih awal dari biasannya. Aku melihat motor kamu sudah terparkir di halaman vihara. Padahal aku pikir, aku sudah datang paling awal. Mau tidak mau, kita bertemu saat itu. Karena belum ada yang lainnya, kamu mengajakku duduk dan kita terlibat dalam percakapan yang ternyata makin menarik. Waktu itu kita seakan dua sahabat lama yang telah terpisahkan dan bertemu kembali. Begitu asyiknya kita ngobrol sampai-sampai tidak menyadari kehadiran rekan-rekan yang lain. Hingga bunyi genta tanda dimulainya kebaktian, barulah kita bersama sama masuk Dharmasala.

Aku memang tipe orang yang tertutup. Tapi jika bertemu teman yagn cocok, rasanya bahan cerita bisa mengalir seolah air sungai yang mengalir ke laut. Tanpa henti. Mungkin sejak itulah, aku mulai menyukai kamu.

"Mi...Mimi!" teriak seseorang memangilku dari belakang. Aku menoleh ternyata kamu, Hen. Kulihat di kejauhan kami berlari menghampiriku. Waktu itu aku memang sedang berjalan ke arah taman vihara yang luas dan tertata rapi. Aku senang duduk di kerindangan pohon yang ada di sana. Nafasmu terengah-engah setelah sampai dihadapanku. Rambutmu yang lurus, basah oleh keringat, tapi malah membuatmu tampak menarik. Aku suka melihatmu seperti itu.

"Ada apa, Hen?" tanyaku dengan lembut.

"Eh.. itu.... aku ingin...." kamu tidak meneruskan kalimat tersebut.

"Duduk dulu, hen..... kasihan, capek ya berlari-lari?" tanyaku sambil mengambil tempat duduk di bangku beton yang memang disediakan, sekaligus merupakan pembatas yang mengelilingi pohon Bodhi di dalamnya.

Duduk di kerindangan pohon Bodhi memang memberikan kesejukan tersendiri. Ini tempat favoritku sejak sering ke Vihara. Kamu pun kemudian duduk di sampingku. Setelah mengatur nafas, kamu berkata lagi, "Aku ingin mentraktir kamu untuk merayakan gaji pertamaku"

"Wah, hebat dong Hen. Selamat Ya!" kataku sambil mengulurkan tangan. Kamu menyambut tanganku dan menggenggamnya sesaat.

"Bagaimana, kamu mau kan, Mi?" tanyamu penuh harap.

Aku menatap matamu. Matamu bersinar dan memandangku dengan sejuta paham yang sulit kupahami. Entah kenapa, tatapanmu membuat dadaku berdebar. Aku langsung mengalihkan tatapanku ke arah lain. untuk menutupi perasaanku yang tiba-tiba tak menentu. Sedangkan kamu masih menunggu dengan mata penuh harap. Akhirnya aku hanya sanggup tersenyum dan menganggukkan kepala tanda persetujuanku. Kamu tampak senang melihat anggukanku.

Sejak itu kami semakin akrab, kamu begitu memperhatikan aku. Setiap kali kita bertemu, kamu pasti menanyakan keadaanku, sekolahku, dan sikap teman-temanku. Bahkan kalau kamu masih ingat, sewaktu aku akan menghadapi ujian semester, kamu memberikan dukungan dan semangat kepadaku, satu hal yang tidak pernah kuterima dari orang lain. Aku sangat terhari ketika kartu berbentuk stupa itu berada dalam genggamanku. Aku sendiri masih menyimpannya sampai saat ini. Kamu pasti bersusah payah membuat kartu secantik itu kan, Hen?

Dan prahara itu datang. Aku tidak tahu pasti, sejak kapan kita mulai menjauh. Apa masalah persisnya aku sendiri masih meraba-raba bahkan sampai saat ini. Cuman yang kutahu, kamu semakin jauh ketika kudengar kamu dekat dengan Shinta. Bahkan semakin jauh setelah pergantian pengurus karena kamu mulai jarang ke vihara. Dna kabarnya kamu sudah pacaran dengannya.

Tidak seorangpun tahu, ada luka di hati ini. Perhatian kamu, tatapan matamu telah membuahkan satu harapan di hati ini. Dan kini, harapan ini telah putus dan hancur seiring menjauhnya kamu, Hen. Aku tidak menyalahkanmu, karena kamu tidak tahu. Aku terlalu menutupinya sampai tidak seorangpun yang tahu kalau aku mencintaimu. Justru aku menyalahkan diriku sendiri, yang terlambat menyadari perasaan ini.

Hari-hari kulalui tanpa kamu lagi. Dan ketika kelulusan diumumkan, aku memantapkan tekad kuliah di kota ini, yang sempat goyah ketika kita masih dekat. Kubawa serta perasaan luka ini. Aku berharap bisa melupakan kamu.

Angin malam kembali mengeraikan rambutku, entah berapa lama sudah aku kembali ke masa silam. Semua ini terlukis setelah siang tadi kuterima undangan merah darimu. Ya, dua minggu lagi kamu akan mengikat janji untuk hidup bersama dalam suka maupun duka dengan gadis yang kami cintai. Kamu akan menikahi Shinta yang telah menemuimu tiga tahun ini.

Ternyata kami tiga tahun masih menyisihkan rasa nyeri, ternyata luka itu belum kering betul. Tapi semua ini harus kuhadapi. Biarlah kenangan yang pernah tercipta di antara kita tetapi indah tanpa luka ini. Sesuai permintaanmu untuk mendoakan kebahagiaanmu, itu akan kulakukan, Hen. Dari dulu hingga sekarang yang ada diantara kita memang hanya persahabatan. Untukmu sahabat, dengan tulus kukirim doa dari kota pelajar ini supaya kamu dan Shinta akan selalu dilindungi Sang Tri Ratna dalam mengarungi kehidupan rumah tangga kalian. Tidak ada yang bisa kuberikan selain harapan ini, karena aku tidak ndapat menghadiri pernikahanmu. Saat ini ujian kenaikan tingkat sedang berlangsung, dan aku tidak mau gagal. alu selalu berharap, para Buddha dan Bodhisatva memberi kekuatan dan ketegaran kepadaku.

 

[Dikutip dari Buku Mutiara Dhamma XIV, atas izin Ir. Lindawati T.]

 

 

Hits: 27