Category: Cerpen Buddhis Published: Monday, 16 October 2017

Sebuah Kejujuran
Oleh: Wie Fuk Nyang

 

Sinar Matahari siang itu begitu teriknya menyengat tubuh, kerongkongan terasa kering dibuatnya. Namun, tubuh kecil berkulit hitam itu terus menawarkan dagangan korannya kepadara orang-orang yang berlalu sepanjang jalan raya itu. Hiruk pikuk dan panasnya terik matahari tidak dihiraukannya, seakan suatu keadaan dan pandangan yang sudah biasa baginya.

Anak kecil itu bernama Andi, umurnya 12 tahun berkulit hitam dan berbadan kurus. Setiap hari dia menawarkan dagangan korannya, sekedar untuk membiayai sekolahnya dan meringankan beban kedua orang tuanya. Anda adalah anak pertama dari 3 bersaudara, adiknya yang nomor 2 bernama Irwan berumur 10 tahun dan sekarang duduk di kelas 4 SD dan terakhir beranama Santi umurnya baru 3 tahun, Anda dating dari keluarga yagn tidak mampu. Ayahnya seorang buruk pabrik dan ibunya bekerja di binatu. Ya itulah kehidupan yang harus diterima oleh Andi, dimana Andi harus bekerja membantu keluarganya, meskipun usiannya masih tergolong muda.

“Koran, korannya koran. Korannya, Om,” seru Andi, menawarkan dagangnan korannya pada sorang lelaki setengah baya.

“Tidak, Dik, hari ini saya tidak ingin memberi koran.”

Segera, Andi berlalu dari tempat tersebut. Memang, hari ini dagangan korannya sepi, baru 3 lembar koran yang laku hari ini.

Namun, dengan semangantnya dia terus menawarkan dagangannya, walaupun siang itu sinar Matahari terus menyengat tubuhnya. Dia terus menyelusurui sepanjang jalan raya itu, tentu saja dengan teriakannya yang khas,” Koran, korannya koran.”

Sampai diujung jalan yang sepi, Andi beristirahat. Rupanya kelelahan telah menyelimuti tubuhnya. Disekanya keringat yang membasahi tubuhnya dengan sapu tangannya, dan disenderkannya tubuhnya pada sebuah batang phohn yang besar yang tumbuh di ujung jalan itu sambil melepas pandangannya kesegala penjuru, seakna ingin melepaskan sejenak beban hidup yang dilingkupi dirinya. Tiba-tiba, pandangan matanya tertuju pada sebah benda berwar4na coklat-marun yang tergeletak di tanah.

Benda itu menarik perhatian Andi, Segera dihampirinya benda tersebut dan diamatinya dengan seksama, ternyata sebuah dompet. Dibukanya isinya uang puluhan ribu, disamping KTP dan surat-surat lainnya.

Beberapa saat lamanya, Andi terkesima menemukan benda yang ditemukannya karena baru kali ini Andi melihat uang sebanyak itu. Otaknya terus berpikir, “Mau diapakan uang sebanyak ini?” Dan pada akhirnya, terjadi pertentangan di dalam hatinya. Antara dipulangkannya dompet tersebut kepada pemiliknya atau dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya yagn serba kekurangan itu.”

Perang batin terus berkecamuk dalam hati Andi, dan sampai malam hari, dia belum memutuskan tentang dompet tersebut. Hal ini membuat tidurnya malam itu tidak dapat nyenyak. Sampai suatu ketika, dia mengambil keputusan bahwa dia harus mengembalikan dompetnya tersebut kepada peimiliknya karena bagaimanapun dia harus berlaku jujur itu, seperti yang pernah diajarkan oleh guru Agama Buddha di sekolah bahwa berbuat aik akan menghasilkan buah yang gak, sebaliknya berbuat yang jahat maka akan menghasilkan buah yang buruk.

“Ya, aku harus mengembalikan dompet ini kepada pemiliknya, karena aku pun ikut merasakan kesedihan orang itu atas kehilangan dompet miliknya.” Tekad Andi dalam hati.

Akhirnya, dengan suatu tekad yang kuat dan diiringi dengan hatinya yang bersih untuk mengembalikan dompet yang ditemukannya pada pemiliknya, membuat tidur Andi yang tai gelisah menjadi nyenyak malam itu.

Keesokan harinya, setelah pulang dari sekolah, seperti biasanya Andi berjualan koran. Rupanya, dagangan korannya hari inis edang laris. Pukul dia sore, korannya habis terjual dan kesempatan waktu yang ada digunakannya untuk mencari alamat pemilik dompet tersebut. Berdasarkan alamat yang didapat dari KTP, orang tersebut tinggal di Jalan Pustaka Indah No. 10. Akhirnya, dengan susah payah, ditemukannya juga alamat pemilik dompet tersebut.

Dihadapan Andi, berdiri rumah yang megah. Untuk sementara waktu, Andi ragu untuk menekan bel yang ada di depan pintu rumah tersebut, tapi akhirnya dia memberanikan dirinya untuk melakukan hal tersebut.

Setelah beberapa lama, keluarlah seorang wanita setengah tua menghampiri pintu depan halaman rumah tersebut dan menanyakan keperluan Andi datang ke rumah itu.

“Ada perlu apa, Nak?” tanya wanita setengah tua itu kepada Andi.

“Apakah di sini rumah Ibu Ratna Budiman?”

“Benar, ada perlu apa, Nak?”

“Begini Bu, saya ingin mengembalikan dompet Ibu Ratna yang terjatuh kemarin siang.”

“Kalau begitu tunggu sebentar, saya ingin memberitahukan Nyonya dulu.”

Setelah beberapa lama, wanita setengah tua itu muncul dan segera mempersilahkan Andi untuk masuk. Di dalam ruang tamu yang luas dan megah, kembali Andi terkesima dengan keadaan ruang tau tersebut yang berisi barang-barang pajangan yang serba luz dan tertata dengan sangat indahnya.

Beberapa lamanya Andi menunggu, tak lama kemudian muncul wanita muda dengan rambut rapi tersanggul.

“Adik yang mencari saya?” tanya wanita itu pada Andi dengan ramahnya.

“Benar, Bu, Keperluan saya kemari adalah ingin mengembalikan dompet ibu yang terjatuh kemarin siang,” kata Andi sambil menyerahkan dompet tersebut kepada Ibu Ratna.

Beberapa saat lamanya, Ibu Ratna memperhatikan dan memeriksa isi dompe tersebut. Dari raut wajahnya terlihat kegembiraan di wajah Ibu Ratna, karena benda yang selama ini dicari jini telah diketemukan.

“Benar, Dik! Ini memang dompet saya yang hilang kemarin siang. Waktu itu, saya benar-benar merasa bingung kearena selain berisi uang, dompet tersebut berisi KTP dan surat-surat penting lainnya. Oh... ya, adik menemukan dompet ini dimana?”

“Saya menemukannya di ujung jalan dekat Jalan Mustika I, Bu.”

“Saya sangat berterima kasih pada Adik. Oh ya, nama Adik siapa?”

“Nama saya Andi, Bu.”

“Andi masih sekolah?”

“Masih, Bu. Sekarang saya duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 6 dan siang harinya saya berjualan koran untuk membantu orang tua saya dan membiayai sekolah saya sendiri.”

“Oh, begitu. Baiklah Andi karena Andi sudah menolong ibu, maka terimalah hadiah ii untuk Andi”, kata Ibu Ratna, sambil menyerahkan sejumlah uang pada Andi.

“Tidak usah, Bu, karena saya menolong Ibu dengan iklas dan juga orang tua saya pernah mengajarkan pada saya, kalau kita menolong orang, janganlah mengharapkan sesuatu dari orang yang kita tolong.”

Terharu hati Ibu Ratna mendengar perkataan Andi. Rupanya di jaman ini masih ada orang yang jujur dan tanpa pamrih menolong orang lain, dimana pada jaman yang serta materialis ini jumlahnya hampir terkikis habis.

 

 

Hits: 26