Category: Cerpen Buddhis Published: Tuesday, 17 October 2017

Selamat Tinggal

 

"Adi !" teriak Pamela memanggil pemuda yang dikasihinya. Tapi Adi cuma berlalu. Ia mendengar panggilan Pam, begitu ia memanggil Pamela, tapi ia mengacuhkannya.

Dengan berlari kecil, Pamela berhasil menyamai langkah Adi lalu mencoba menghentikan dia. Adi pun menghentikan langkahnya dan memandangi wajah Pam, teman satu kampusnya. Dengan mengulas senyum, Adi bertanya, "Ada apa, Pam ?", seakan yang baru saja terjadi itu cuma angin lalu.

"Kenapa kau tadi tidak menoleh saat kupanggil ?" nada ketus Pamela terlontar pada Adi.

Adi cuma tertunduk, bisu. Tak tahu lagi apa yang mesti dia ucapkan, "Maaf, aku sedang terburu-buru".

"Tapi kau selalu saja begitu. Kau selalu menghindariku," sergah Pamela kesal. Keduanya terdiam sejenak. Lanjut Pam lagi,"Sudah, lupakanlah. Aku cuma ingin meminjam catatan akuntasimu."

"Ini,"kata Adi datar.

"N'tar malam aku ke rumahmu untuk mengembalikannya".

"Jangan!" sanggah Adi. "Maksudku … aku tak memerlukan buku itu malam ini. Kau bisa mengembalikan padaku besok pagi."

Pamela tersenyum kecut. Lanjutnya lagi,"Kamu sibuk, ya malam ini?"

"Tidak, aku… aku cuma ingin belajar."

"Baiklah kalo gitu. Aku pulang duluan ya !"kata Pamela sambil berlalu.

Adi cuma tertegun memandangi kepergian Pamela sebelum melanjutkan kembali langkah kakinya ke ruangan kecil sewaannya di sebuah rumah tua. Sebenarnya dulu, keluarga Adi cukup berada. Ayah Adi adalah seorang pengusaha yang cukup sukses. Tapi semenjak ibu dan adiknya tewas dalam suatu kecelakaan yang juga membuat ayahnya lumpuh, sinar terang itu mulai redup. Ayah Adi pun kemudian berucap 'selamat tinggal' pada dunia tepat 49 hari setelah kematian sang istri tercinta.

Sejak saat itu, Adi sebatang kara. Hartanya habis sudah untuk biaya pengobatan ayahnya. Nampaknya sia-sia saja karena mungkin itulah garisnya, tiada lagi hasrat hidup ayahnya itu. Kini, Adi menyewa sebuah ruang di Jalan Jeruk. Bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah kafe ditambah tabungannya, masih cukup untuk menyambung hidupnya sambil meneruskan kuliah.

Sore itu, seperti sore-sore sebelumnya, Adi berjalan ke kafe, tidak jauh dari ruang sewaannya. Dari jam lima sampai jam sembilan, kerjanya cuma mencuci dan mencuci demi sejumlah uang penyambung hidup dan ketabahan. Tapi sore itu bukanlah sore-sore sebelumnya. Malam itu ada sesuatu yang membuat mata Adi akan sulit terpejam.

"Hi, Adi ! Bolehkah kau menemaniku duduk minum-minum?" ajak Christina, salah seorang pengunjung setia kafe tempat Adi bekerja. Christina memang jatuh hati pada Adi semenjak Adi membela dirinya ketika ia ditampari mantan kekasihnya. Namun Adi selalu berusaha menolak dan menghindari dirinya.

Hari itu, Anton, rekan sekerja Adi, seorang pelayan, tidak masuk kerja. Kebetulan pengunjung cukup ramai hingga sang manajer pun menugasi Adi untuk mengisi posisi Anton. Sialnya, malam itu Pamela juga datang ke kafe, menyaksikan 'sang peristiwa'. Sambil meneriaki Adi, Pam berlari keluar. Kejaran Adi tak keburu lagi. Ditambah lagi tamparan Christina. Buat Christina, bukankah lebih baik Adi berterus terang pada dirinya kalau sudah ada Pamela di sisi Adi. "Kalau saja mereka mengerti keadaanku," batin Adi.

"Besok kamu tidak perlu lagi datang ke sini. Cukup sudah kekacauan itu !" teriakan si manajer yang menambah reruntuhan di hati Adi. Ia cuma bisa berjalan lesu ke ruang sewaannya, memutar lagu "Ai Hai Se Pu Yaw Suo Te Haw"-nya Li Ming.

Sementara Christina, untuk kedua kalinya ia melangkah sendiri ke pantai dan merenung. Pamela … rasanya ingin sekali ia meneriakkan "Ni te Thien Mi"-nya Mavis Fan.

Adi, memang tidak ada yang tahu, tidak juga Anton, yang mungkin satu-satunya teman Adi. Bertahun sudah Adi menderita kerusakan fungsi ginjal. Ginjal kanannya sudah lama rusak. Kini, ginjal kirinya pun mulai mengalami pemampatan. Kalau dia tidak mendapatkan donor… . Belum lagi… Biayanya!? Bukan Adi tidak mau memberikan sedikit perhatian pada Pam atau Chris, tapi berapa lama lagi… ?

Malam itu ada sesuatu yang membuat Adi tak terpejam, betul-betul tak terpejam … . Rasa 'mau pergi' itu muncul lagi … . Akhirnya ia memutuskan, menceritakan semuanya pada Pam juga Christina. Pamela dan Christina memenuhi 'undangan' Adi. Sore itu, kafe masih sepi pengunjung. Adi memilih sebuah meja di sudut, mulai menceritakan segalanya, masalahnya.

Satu jam berlalu. Rasanya Adi begitu lega, seakan bahunya menjadi ringan, bak meminum setetes embun di tengah padang pasir. Mendengar Pam dan Christina bersedia membantu! Lebih dari keinginan hatinya yang mengharapkan mereka mengerti keadaannya. Kini, Adi akan memiliki dua ginjal lagi, satu dari Pam, satu dari Christina.

Pada saat hari operasi, wajah Adi tampak bercahaya seakan rintangan di depan hilang sudah semua. Pengertian yang diberikan oleh Pam dan Christina betul-betul melebihi segalanya. Pagi itu, Pam dan Christina datang berdua menjenguk Adi. Menyemangati Adi dan berharap untuk keberhasilan operasi. Operasi berjalan sukses. Pam dan Christina sudah boleh pulang sedang Adi masih harus dirawat beberapa hari karena dokter ingin melihat dulu bagaimana perkembangan keadaan Adi sebelum Adi diizinkan pulang. Pulang dan melanjutkan hidupnya … hidup yang akan menjadi jauh lebih tersenyum …

Sudah dua hari berlalu, setidaknya sejak Adi siuman, Adi berbaring. Mulai gelisah juga ia. Dua hari sudah ia di sana, mengapa Pam dan Christina belum juga menjenguknya ? Tadi pagi ia bertanya pada suster, katanya mereka sudah diizinkan pulang dari rumah sakit ini, tapi…

Tanpa terduga, seorang suster masuk, memberikan dua pucuk surat pada Adi. "Surat yang ini baru saja diantarkan oleh seorang gadis. Sedangkan yang ini dua jam yang lalu," demikian kata suster itu. Dengan penuh keheranan, Adi menjamah kedua surat tersebut.

"Dari Pam," batin Adi, "dan Christina". Ia mulai membuka dan membaca. Dengan rasa tak percaya, ia membaca surat Christina berulang-ulang, "Kau lebih cocok sama Pamela. Ia penuh perhatian, jangan kecewakan dia". Ada rasa penyesalan di dada Adi. Ia tersandar ke bantalnya, meremas surat dari Christina. Tersentak, serta-merta ia membaca surat dari Pam. "Maafkan aku, Adi. Aku tak ingin kau jadi susah. Aku pergi, semoga kau dan Christina bisa berbahagia". Seakan tak percaya akan matanya, Adi membaca dan membaca lagi. "Kenapa !?" teriak batinnya. Air matanya berlinang. Dengan langkah gontai ia naik ke atap rumah sakit. Dibuai angin dingin, ia melompat dan berteriak. "Selamat tinggal dunia … !"

 

[Dikutip dari Majalah Berita Vimala Dharma.]

 

 

Hits: 49