Category: Kesaksian Buddhis Published: Tuesday, 10 October 2017

Anak Itu Lahir Dengan Selamat
Dituturkan langsung oleh Rohani, Medan

 

Sosok kecil, ramah dan murah senyum tentunya sudah tidak asing lagi bagi umat di Vihara Bodhi. Sdri Rohani; begitu biasanya ia disapa, merupakan aktivis yang telah banyak memberikan sumbangan pada perkembangan Buddha Dharma dan organisasi. Beberapa bulan setelah pernikahannya dengan suaminya yang juga aktivis dalam buddhisme, beliau diminta oleh beberapa dokter untuk mengugurkan kandungan karena janin tidak normal. Tetapi atas kasihnya dan pengertian yang mendalam tentang Dharma membuatnya memiliki buah hati yang comel. Sekarang ini beliau hidup bahagia bersama suami dan anaknya dengan tidak lupa untuk mempraktekkan Buddha Dharma.

 

AWAL MULANYA

Lebih kurang tiga minggu setelah pernikahanku, saya terjatuh di kamar mandi dan mencederai tulang ekorku. Setelah berobat ke sinshe selama hampir 2 minggu, saya pergi melakukan pemotretan sinar X (rontgen) pada bagian pinggang dan panggul. Begitu keluar dari kamar rontgen, perut saya terasa sangat mules. Dalam hati saya berpikir, “Jangan-jangan saya hamil”. Saya pernah beberapa kali rontgen untuk mengetahui keadaan tulang belakang saya yang pernah cedera pada saat saya berumur belasan tahun tapi belum pernah sekalipun sakit perut setelah itu. Apalagi sakitnya lain daripada sakit lambung yang kadang saya alami. Kecurigaan saya sirna ketika besoknya saya mendapatkan mens (haid) yang hanya berupa sedikit bercak darah saja. Namun besoknya tidak ada lagi sama sekali dan lusanya sedikit lagi. Kerucigaan saya muncul kembali.

Saya membeli alat Test kehamilan dan melakukan tes, ternyata hasilnya memang positif. Saya dan suami yang menemani saya pada saat pengetesan sangat bahagia, tapi malam itu juga saya mendapatkan pendarahan lagi. Kali ini saya sangat cemas karena sudah tahu bahwa itu bukan darah haid. Lebih-lebih lagi karena jumlah darahnya jauh lebih banyak dibandingkan hari sebelumnya.

Keesokan sorenya kami ke dokter tulang yang sekaligus menyandang gelar SPOG (ahli kebidanan). Setelah dokter melihat hasil rontgen dan menerangkan tentang masalah tulang saya, saya memberitahukan dokter bahwa saya mungkin sedang hamil. Saya di USG dan tidak diragukan lagi, saya 100% hamil. “Janinmu antara melekat dan tidak lho. Hamil kok rontgen, anakmu bisa cacat lho”, kata si dokter tapi saya dan suami hanya tertawa. Terlalu bahagia untuk mengkhawatirkan kata “cacat” yang dikatakan si dokter. Setelah beristirahat dan diberikan suntikan penguat janin selama 2 hari terturut-turut, saya tidak mengalami pendarahan lagi.

Untuk pemeriksaan rutin bulanan, kami memutuskan untuk mencari dokter yang “hanya” spesialis kandungan saja. Karena dokter pertama yang saya cari, cukup pintar tapi terlalu serba tahu sehingga kami agak deg-degan. Beliau bisa mengobati pasien secara akupuntur, beliau juga dokter tulang, juga spesialis kebidanan dan juga melayani perawatan kecantikan (kulit dan tubuh).

>Dokter kedua saya yang saya kunjungi cukup terkenal. Beliau direktur sebuah RS Swasta di Medan. Oleh beliau saya disarankan untuk menggugurkan kandangan saya saja. Beliau takut kalau anak saya kandung nantinya idiot atau mendapatkan masalah jantung atau menderita anemia, dll. Suami dan saya langsung saja lemas begitu mendengar penjelasan kata “CACAT” yang dimaksud oleh dokter yang pertama. Kami sangat sedih dan bingung.

Satu-satunya hal yang terpikirkan olehku saat itu adalah ‘mengadukan’ kesedihan dan kegalauan hatiku pada para Buddha dan Bodhisatva. Di depan Bodhisatva Rupang Avalokitesvara (Kwan-Im) yang dicetak di sampul sebuah kitab suci, saya memohon petunjuk. Saya bersujud dan ‘mengadukan’ masalah saya kepada-Nya. Walaupun hanya merupakan komunikasi satu arah, saya merasa lebih lega, lebih tenang, dan mulai bisa memikirkan langkah yang selanjutnya. (Walaupun saya tahu bahwa membicarakan masalah kita kepada orang lain terkadang memang sangat membantu, tetapi ‘mengadu’ kepada Buddha maupun Bodhisatva juga bisa sangat melegakan karena mereka tidak pernah menertawakan kita, tidak pernah membocorkan rahasia kita, dan selalu menjadi pendengar yang setia. Kita juga tidak perlu takut kalau “Mereka” akan khawatir atau menderita gara-gara memikirkan masalah kita.)

Saya sangat takut dan terus mengelak dari kata “menggugurkan”. Saya pergi ke toko buku untuk mencari buku-buku mengenai efek rontgen dan radiasi terhadap kehamilan. Informasi-informasi yang saya peroleh justru membuat saya lebih pesimis ketimbang optimis. Memang sih dinyatakan kalau rontgen aman bagi “orang hamil” jika dosis radiasinya tidak lebih dari 10 rad tapi ketika saya menghubungi pimpinan klinik tempat saya rontgen, Bapak tersebut hanya bisa mengatakan, “Hamil kok rontgen?. Kalau dokter menyarankan kamu untuk menggugurkan ya gugurkan saja”. Saya sungguh kecewa. Mengapa masalah menggugurkan seorang “calon manusia” dianggap seperti membuang seloyang “kue” yang gosong ke dalam tong sampah?!

Mengapa begitu mudah menyarankan para orang tua untuk menggugurkan kandungan mereka? Mungkin tujuan para dokter memang baik (contohnya jika si calon anak idiot, orang tua akan sangat terbebani baik mental maupun materi; bagaimana masa depan si anak jika orang tuannya meninggal duluan? Tapi sebelum memvonis untuk mengakhiri hidup seorang calon manusia, sudah 100% kah kalau si calon manusia tersebut akan menderita penyakit tersebut? Apakah memang tidak ada lagi upaya lain yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan penyakitnya baik selama dalam kandungan maupun setelah dilahirkan?

Janin yang telah digugurkan itu sangat menyedihkan. Mereka harus terus hidup tapi bukan sebagai seorang manusia, tetapi sebagai seorang hantu yang penasaran. (Bagi yang telah terlanjur melakukannya, sebaiknya bisa melakukan chiau to, maupun pelimpahan jasa agar roh-roh penasaran tersebut bisa lebih cepat tumimba lahir [dilahirkan kembali]).

Seorang anak yang terlahir normalpun bisa saja menjadi cacat gara-gara kecelakaan maupun sakit misalnya gara gara virus yang menyebabkan radang selaput otak, deman yang terlalu tinggi, dll.

Walaupun saya 100% tidak mau menggugurkan kandungan saya, saya tetap tidak bisa memutuskannya secara sepihak karena “anak” adalah milik “suami dan istri”. Bukannya suamiku tidak merasa berat untuk menggugurkan kandunganku, tetapi dia terlalu cemas dengan masa depan anak kami jika ia benar terlahir cacat. Terus terang, saya sendiri juga sangat mencemaskan hal tersebut tetapi saya juga percaya kepada ajaran Sang Bhagava terutama pada “karma”.

Saya memeriksakan diri ke dokter kandungan di luar negeri. Setelah pemeriksaan, saya juga mendapatkan jawaban yang sama. Setelah kembali ke tanah air, saya dan suami melakukan berbagai pertimbangan diskusi, akhirnya saya mendapatkan persetujuan dari suami saya untuk melanjutkan kehamilan. Suami saya bertanya kepada saya, “kamu yakin bisa?”. Saya jawab, “Ya, tapi harus dengan bantuanmu karena anak jenis apapun yang kita dapatkan adalah hasil dari karma kita berdua”.

Yach, saat itu saya bisa sedemikian gigih mempertahankan kandungan saya karena saya mengenal Buddha Dharma. Saya yakin diantara beribu-ribu sutra; diantara para Buddha dan Bodhisatva yang tak terhitung jumlahnya, pasti terdapat suatu petunjuk. Benar saja, di dalam Bhaisajyaguru Sutra, saya mendapatkan semangat baru dan petunjuk yang sangat amat berharga. Satu-satunya kecemasan dan ketakutan saya setelah itu adalah apakah “karma buruk” (yang entah seberat apa yang menyebabkan seseorang mendapatkan anak yang cacat) kami bisa sempat kami perbaiki / ubah dalam waktu beberapa bulan? Mampu dan sempatkah kami?

 

KESEMBUHAN

Sejak itu, saya benar-benar menjaga kesehatan; memeriksakan diri ke dokter secara rutin, mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi. Ibu saya secara rutin memasakkan pati ayam dengan ginseng dan ‘toung choung chau’ untuk saya tetapi Beliau tidak pernah memesan ayam itu duluan, juga tidak pernah menyuruh si penjual untuk menyembelih ayam yang masih hidup. Beliau hanya membeli ayam kampung yang memang kebetulan sudah disembelih. Sebelum meminum pat ayam tersebut, saya selalu membaca ‘Namo Amitabha Buddha‘ sebanyak 7 kali. Jasa dari pengagungan nama Buddha tersebut saya limpahkan kepada si “ayam” agar dia bisa mendapatkan tumimbal lahir yang baik.

Selain itu, saya membaca mantra dan nama Buddha setiap hari (kapan saja, dimana saja, setiap ada kesempatan dalam 24 jam) baik pada saat istirahat, pada saat melakukan aktivitas sehari-hari, diperjalanan, maupun ketika akan tidur. Sampai-sampai setiap kali saya terjaga dari tidur, baik pada saat tengah malam maupun di pagi hari, saya sering mendapati diri saya sedang membaca Dharani maupun Mantra; mungkin saya hanya setengah tidur, entahlah.... kadang-kadang saya sangat sadar sedang membaca dan tiba-tiba karena sesuatu seperti suara, dll, saya terbangun dan baru menyadari kalau ternyata tadinya saya sedang tertidur. Dharani yang saya pilih saat itu adalah Maha Karuna Dharani, dan Mantra Bhaisajyaguru Buddha. Pertimbangan saya adalah bahwa Maha Karuna Dharani (Ta Pei Cou) adalah Dharani dari Bodhisatva Avalokitesvara (Kwan Im) yang sangat terkenal welas asihNya sedangkan Mantra Bhaisajyaguru Buddha adalah mantra dari Buddha Bhaisajyaguru yang pernah berikrar untuk membebaskan semua makhluk dari penyakit dan malapetaka.

Kami (suami, ibu saya, dan saya) melakukan lebih banyak lagi perbuatan baik (seperti: melepaskan makhluk hidup, berdana untuk pendirian vihara dan pembuatan Buddha/Bodhisatva rupang; mencetak kitab suci; athasila; melakukan kegiatan sosial, dll) yang jasa-jasanya kami limpahkan kepada kandungan saya.

Selain itu, saya juga beribadah ke Vihara setiap hari Uposatha. Kami juga meminta bantuan anggota Sangha untuk membantu janin kami melakukan kegiatan / ritual yang bisa meringankan karma kehidupan lalunya. Walaupun saya agak mendapatkan halangan untuk berbicara dengan anggota sangha karena bertemu dengan umat yang sok tahu yang mengatakan bahwa anggota sangha tidak punya waktu untuk membantu padahal begitu anggota Sangha menerima surat saya (padahal belum kenal), Beliau segera menghubungi saya dan menyatakan bersedia untuk membantu.

Saya memohon setulus hati kepada Avalokitesvara Bodhisatva (Kwan Im) untuk menolong saya agar tidak mendapatkan anak yang cacat. Apapun karma buruk yang pernah saya lakukan baik secara sengaja maupun tak sengaja, biarkanlah saya menerimanya dalam bentuk yang lain.

Jikalau bayi yang saya kandung memang harus cacat sesuai dengan karma masa lalunya, biarkanlah ‘dia’ bertumimbal lahir sekarang berkat pelimpahan jasa kami untuknya. (Artinya: saya akan “keguguran” bukan “menggugurkan”, dimana janin “dibunuh” dengan sengaja sehingga ‘dia’ harus menjadi hantu penasaran untuk menghabiskan sisa hidupnya yang seharusnya dia jalani sebagai seorang manusia.)

Melihat perut saya yang semakin buncit, merasa bayi mungil yang bergerak di dalamnya, dan menebak-nebak perkembangannya dari bulan ke bulan merupakan masa yang sangat indah. Pikiran saya sangat tenang. Siang dan malam saya membaca mantra tapi anehnya saya sering memimpikan hal yang tidak-tidak yang selalu membuat saya tersentak bangun karena mimpi tersebut begitu nyata. Anehnya lagi mimpi tersebut selalu berhubungan dengan cecak dan lokasi mimpinya selalu di kamar tidur kami.

Beberapa kali saya bermimpi kalau kami sedang tidur dan tiba-tiba ada seekor cecak yang melompat ke tengah ranjang kami untuk menyerang “sesuatu” yang berada di sana. Tapi saya tidak tahu apa yang diserang. Selalu saja saya tersentak kaget dan terbangun. Sibuk membolak-balik bantal dan guling untuk memastikan memang tidak ada cecak disana. Saya pikir mungkin karena di rumah baru kami sering mendengar decakan cecak yang sangat kuat baik siang maupun malam.

Saya menceritakan mimpi saya kepada seorang teman. Karena khawatir, dia menanyakan arti mimpi tersebut kepada seorang kenalannya yang bisa berhubungan dengan ‘datuk’. Saya diberitahukan bahwa kandungan saya sudah rusak. Pikiran saya sempat kacau beberapa hari.>

Suatu malam, saya bermimpi melihat langit-langit kamar tidur kami penuh dengan awan putih. Di antara awan putih itu tampak sebuah leher botol seperti botol aqua 1500 ml. Tiba-tiba dari tengah ranjang kami keluar seekor “jangkrik raksasa” yang berwarna coklat yang terlihat seperti seekor ayam yang gosong terpanggang.

Jangkrik raksasa yang berukuran kira-kira 50 cm itu terbang ke langit-langit dan masuk ke dalam lubang botol yang kecil itu. Saya terperanjat dan terbangun sambil berseru., “Lihat!”. Saya terduduk dengan posisi tangan kanan menunjuk ke langit-langit, tangan kiri menepuk suami saya yang sedang tidur agar dia bangun dan melihat pemandangan yang menakjubkan itu. Pada saat bersamaan saya tersadar bahwa itu hanyalah sebuah mimpi.

Saya pikir saya memang benar-benar terlalu banyak pikiran karena kebetuan memang ada seekor jangkrik yang berwarna coklat (sama seperti yang terlihat dalam mimpiku; hanya saja ukurannya yang berbeda dan yang dalam mimpi itu jangkrik yang sudah mati) di kamar mandi kami. Jangkrik hidup itu berada di kamar mandi kami selama 2 atau 3 hari tanpa berpindah-pindah tempat.

Tidak lama berselang, saya bermimpi ada “sesuatu” yang memandang kami dari jendela kamar. Setelah melihat jelas, ternyata “sesuatu” itu adalah seekor jangkrik yang kira-kira 50 cm tingginya, berwarna hijau, montok, dan kelihatan sangat lucu (mirip grasshopper dalam film-film kartun). Dia berdiri di jendela kamar tidur kami sambil tersenyum, lalu tiba-tiba dia melompat ke tengah ranjang kami. Saya kaget dan terbangun.

Saya menceritakan pada suami saya tentang mimpi tersebut. Saya katakan padanya bahwa jangkrik coklat itu mungkin hanya pikiranku saja tapi kenapa saya bisa tiba-tiba bermimpi tentang jangkrik hijau? Suami saya memberitahukan saya bahwa pada saat saya ke luar negeri (kurang lebih seminggu sebelum mimpi tersebut) di rumah kami memang masuk seekor jangkrik hijau yang juga tinggal selama beberapa hari.

Saya sangat penasaran dan gelisah dengan mimpi-mimpi itu. Akhirnya suatu hari ketika saya sembhayang ke Vihara Setia Budi, saya meminta petunjuk Kuan Te Kong. Setelah berulang kali saya mencoba, akhirnya melalui sebuah “chiam” dikatakan bahwa “Kwan Im sedang menyirami tanaman bambu yang baru tumbuh dengan air suci-Nya (Kan Lu Sui)."

Waktu terus berlalu. Akhirnya masa kelahiran pun mendekat. Mama saya sangat khawatir dan membaca Ksitigarbha Sutra sebanyak mungkin dan melakukan pelimpahan jasa untuk saya. Bayi saya dilahirkan secara bedah caesar menimbang masalah tulang saya dan posisi bayi yang sungsang. Tetapi beberapa hari sebelum operasi, saya bermimpi melihat seekor cecak yang ketakutan (ukuran normal) hendak keluar dari jendela samping kamar tidur kami, tapi begitu dia menjulurkan kepalanya, seekor cecak yang ukurannya 4 atau 5 kali lebih besar darinya, membuka mulut dan menelannya begitu saja.

Kami memilih tanggal 2 April 2001, hanya beberapa hari lebih cepat dari hari kemungkinan lahir normal, tetapi ketika periksa ke dokter, dokter menyuruh kami memilih hari di akhir Maret. “Takut ngak sempat”, katanya. Saya menjadi sangat cemas dan tertekan. Walaupun hanya dimajukan seminggu sampai 10 hari tapi cukup memusingkan karena semua jadwal tugas saya selama cuti hamil yang sudah saya susun menjadi kacau. Selain itu, jumlah Mantra dan Sutra yang harus saya baca sesuai dengan kaul saya juga harus saya penuhi dalam waktu yang lebih singkat.

Walau telah mempersiapkan diri selama 7 bulan ternyata saya masih tetap takut untuk menghadapi kenyataan. “Gimana jika anakku terlahir cacat?”. Akhirnya hari yang di pilih tiba, dibawah pengaruh obat bius (padahal hanya bius lokal) semakin lama saya semakin tidak bisa membaca Mantra Maha Karuna Dharani. Setiap kali baca, selalu macet dan tidak bisa mengingat kelanjutannya. Akhirnya saya beralih ke pelafalan nama Buddha dan Bodhisatva saja yakni “Nam Yau Se Fo” dan “Namo Kwan Se Im Phu Sat”.

Suara tangisan nyaring terdengar. Saya sangat ketakutan karena perawat belum membawa si kecil ke sampingku. Saya memohon kepada Avalokitesvara Bodhisatva. Akhirnya sikecil yang tengah menangis dibawa ke sisiku. Tangisnya terhenti, kedua matanya terbuka lebar, salah satu tangannya bergerak tak menentu. Walaupun tak bisa melihat jelas tanpa kacamata tapi perasaan saya mengatakan anakku normal. “Terima kasih Kwan Im Phu Sat. Terima kasih”, sambil mengucapkan ini dalam hati, air mata saya mengalir keluar. Saya tidak tahu apakah itu tangis bahagia, tangis terima kasih, tangis lega, atau tangis dari ketakutan yang terpendam selama berbulan-bulan. Entahlah--- yang pasti, air mataku terus mengucur selama saya tidak sadarkan diri (ketika jumlah obat bius yang ditambah pada saat dokter menjahit bekas sayatan).

Samar-samar saya mendengar suara ibu saya yang mengatakan, “Bayinya sehat, Jangan Khawatir”. Akhirnya saya sadar kalau saya sudah berada dikamar pasien. Suami, kedua orang tua saya, ibu mertua saya dan tante saya sedang menatap saya dengan cemas karena saya terus gemetar (suhu di kamar operasi sangat dingin) dan air mata saya terus bercucuran (lebih dari satu jam).

Ketika dokter datang melihat saya, beliau mengoloki saya karena saya terus mengucurkan air mata selama tak sadarkan diri. Beliau bertanya “Gimana, cacat tidak?”. Sekarang anak kami sudah berusia hampir 3 tahun. Suami dan saya menamakannya: Kent Siddharta Canglu yang berarti Kent adalah cita-cita dari keluarga Cang dan Lu yang tercapai.

Terima kasih yang sedalam-dalamnya saya ucapkan kepada Ibu dan suami saya yang tercinta, Yang Arya Bhante Jinnadhammo Mahathera di Medan, Yang Arya Bhikksuni Coung Khai di Jakarta, Yang Arya Bhiksu Pratama di Medan dan masih banyak lagi pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

 

Hits: 26