Category: Kesaksian Buddhis Published: Tuesday, 10 October 2017

Bisikan Di Tengah Malam
Dituturkan langsung oleh Rofin, Parapat

 

Untuk mengisi liburan panjang bersamaan dengan PEMILU ke 2, saya bersama beberapa teman berwisata ke Parapat mengingat ada penawaran khusus untuk harga kamar hotel N yang hanya Rp.50.000,- per orang.

Kami berangkat dari Medan bertiga, dan sepanjang perjalanan tidak terjadi hal-hal yang aneh. Melewati Siantar, seorang teman kami bergabung sehingga membuat kita menjadi empat orang dalam satu mobil. Setelah perjalanan yang cukup lelah, akhirnya kami tiba di Parapat dan langsung check-in di hotel N sekitar pukul 18.00 WIB lebih dengan menunjukkan voucher yang telah kami beli di Medan.

Kami mendapatkan dua kamar terakhir yang tersedia di hotel N, demikian karyawan reception hotel itu menginformasikan. Kamarnya terpisah dari Gedung Utama, dengan nomor 722 dan 723. Saya dan seorang teman lainnya memilih kamar 722 dan dua orang teman yang lain mengambil kamar 723.

Pertama sekali masuk ke dalam kamar 722, ada perasaan yang kurang enak tapi saya diamkan saja. Design kamarnya kurang bagus menurut saya, karena ada meja TV yang dibuat menyudut menusuk ke kamar tidur. Udara di kamar juga terasa pengap sehingga saya menanyakan hal itu kepada operator yang katanya memang di kamar tidak ada saluran udara kecuali penghisap udara. Karena itu kami terpaksa membuka pintu balkon sepenuhnya, dengan harapan agar udara kamar bisa lebih segar. Sewaktu melihat kondisi kamar mandi, saya mendapatkan bahwa cerminnya sudah buram sehingga wajah saya pun tidak dapat terlihat dengan jelas. Dengan kondisi yang seperti ini rasanya tidak cocok untuk hotel berbintang tiga seperti hotel N ini.

Setelah melepaskan lelah dengan mandi air panas, kami berempat langsung menuju kota mencari makanan untuk mengisi perut yang sudah keroncongan. Rupanya hujan juga mulai turun pada saat itu. Setelah selesai menyantap makan malam, kami mencari warung di pinggir jalan untuk menikmati sejuknya udara malam di Parapat sambil memperhatikan view hutan yang sedang terbakar diseberang sana yang tidak padam walaupun diguyur hujan yang cukup deras.

Habis dari sana, kami langsung balik ke hotel karena sepakat untuk tidur lebih awal agar keesokan harinya bisa bersemangat untuk dengan menjelajahi Parapat. Saya memilih tidur ditempat tidur yang paling ujung, di sudut yang langsung berbatasan dengan tembok, dan teman saya tidur disebelah saya.

Kejadian aneh ini terjadi pada malam ini dimana menjelang tidur saya mendengar banyak sekali suara pintu-pintu yang ditutup, secara terus menerus. Suara itu terdengar sumbernya dari luar kamar kami. Walau demikian, saya menguatkan pikiran bahwa itu memang hanya suara pintu, bukan yang lain.

Tetapi ditengah malam, tiba-tiba saya mendengar suara bisikan percakapan antara seorang perempuan dengan laki-laki yang sepertinya hanya mengiyakannya apa yang dikatakan perempuan tersebut. Adapun hal yang di pembicaraan itu intinya adalah apa yang akan mereka perbuat keesokkan malamnya agar kita (saya dan teman saya) keluar dari kamar itu. (kami menginap 3 hari 2 malam di hotel tersebut). Setelah didengar lebih jelas, asal suara itu tidak jauh dari saya. Sepertinya posisi perempuan itu tidur disebelah teman saya.

Sewaktu mendengar hal itu, rasa takut dan ingin tahu bercampur menjadi satu. Sewaktu saya berusaha untuk membangunkan teman saya, saya baru menyadari bahwa tubuh saya tidak dapat bergerak sama sekali. Kemudian saya terpikir untuk memanggilnya tetapi tetap sama saya tidak dapat mengucapkan sepatah katapun. Bahkan untuk menggerakan bibir saya saja tidak bisa. Padahal dalam kesunyian yang dalam dan ketakutan yang menyelimuti, saya berusaha untuk membacakan sebuah Mantra Pelindung yang diajarkan oleh Nima Rinpoche yang merupakan salah satu guru spritual saya. Karena tidak mampu membacakan satu katapun dari Mantra Pelindung yang cukup panjang tersebut, entah bagaimana saya langsung terpikir untuk membacakan OM MANI PADMI HUM yang jauh lebih pendek dari Mantra Pelindung tadi. Dengan konsentrasi yang terpusat dan semua kekuatan saya tumpukan untuk menggerakkan bibir saya, akhirnya sebuah kata OM terucap, dan setelah itu cepat-cepat saya lanjutkan dengan MANI PADMI HUM. OM MANI PADMI HUM... OM MANI PADMI HUM.... sewaktu kata pertama OM dapat terucap, sepertinya semua tubuh saya dapat bergerak kembali.

Saya kemudian menggoyang-goyangkan tubuh teman saya yang tidur disebelah, beliau langsung bangun. Beliau bertanya dengan mata terpejam, "kenapa kok malam-malam baca paritta" katanya dalam logat chinese. Tanpa menjawab pertanyaannya, saya langsung memintanya untuk membuka lampu meja hias dan TV untuk mengusir kesunyian dan kegelapan malam. Saat itu saya memperhatikan jam di HP saya menunjukkan pukul 3.00 pagi lewat. Setelah itu, saya baru menceritakan hal itu kepada teman saya dan saya langsung tidak berani tidur lagi. Sambil menunggu sinar mentari pagi muncul saya hanya bertiduran sambil membacakan Mantra Pelindung.

Keesokan harinya, saya juga menceritakan hal ini kepada teman saya yang ada dikamar satunya lagi. Setelah sarapan, kami langsung mengunjungi salah satu Vihara disana untuk berdoa. Malam keduanya, saya dapat tidur dengan nyenyak tanpa mendengar suara bisikan seperti kemarin lagi.

Betapa kuatnya sebuah kata OM dari OM MANI PADMI HUM, dan itu benar-benar membantu saya. Bila anda mengalami hal yang sama, cobalah dengan sekuat tenaga untuk membacakan OM MANI PADMI HUM, terpujilah Bunga Teratai yang Dududki oleh Avalokitesvara Bodhisatva. Usahakanlah untuk membaca OM MANI PADMI HUM sewaktu anda mempunyai waktu senggang kapan dan dimana saja sehingga bila anda dalam kesulitan atau musibah maka niscaya ada kekuatan dari pembacaan OM MANI PADMI HUM yang dapat membantu anda keluar dari hal tersebut.

 

 

Hits: 25